TIMIKA, Koranpapua.id – Kenaikan harga bahan bangunan dalam dua bulan terakhir mulai dirasakan pelaku usaha di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Tidak hanya berdampak pada meningkatnya harga jual berbagai material, kondisi ini juga menyebabkan penurunan omzet penjualan dan berkurangnya daya beli masyarakat.
Tiga pemilik toko bangunan di Timika yang ditemui Koranpapua.id, Rabu 22 Juli 2026 mengeluhkan hal yang sama.
Mereka mengaku aktivitas penjualan kini jauh lebih sepi dibandingkan sebelumnya, karena hampir seluruh jenis bahan bangunan mengalami kenaikan harga.
Pemilik Toko Lia mengatakan, kenaikan harga mulai terasa sejak sekitar dua bulan terakhir dan memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan usaha.
“Pengaruhnya sangat terasa. Omzet kami turun cukup banyak karena hampir semua bahan bangunan mengalami kenaikan harga. Akibatnya pembeli juga mulai mengurangi pembelian,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum terjadi kenaikan harga, kondisi penjualan relatif stabil. Namun setelah harga berbagai material naik, usaha toko bangunan ikut terdampak.
“Setelah ada kenaikan harga barang dari distributor dan pabrik maka harga jual di Timika juga ikut naik. Kami sebagai penjual hanya menyesuaikan harga yang sudah ditetapkan pemasok,” jelasnya.
Ia mencontohkan beberapa produk yang mengalami kenaikan, mulai dari semen, kloset, cat, hingga berbagai bahan bangunan lainnya.
Harga cat, terutama cat campuran dengan warna tertentu, kini harus disesuaikan berdasarkan daftar harga terbaru dari pabrik.
“Hampir semua produk naik. Cat naik, material sanitasi naik, dan bahan bangunan lainnya juga ikut naik. Kami tidak bisa menentukan harga sendiri karena semuanya mengikuti harga dari distributor maupun pabrik,” katanya.
Kenaikan harga tersebut dinilai berkaitan dengan meningkatnya biaya distribusi dan transportasi, termasuk dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kondisi ini membuat biaya operasional usaha semakin tinggi.

Selain menghadapi penurunan omzet, para pemilik toko juga mengaku sering menerima keluhan dari pelanggan yang terkejut dengan harga material yang terus meningkat.
“Pembeli banyak yang mengeluh karena harga sekarang lebih mahal. Kami selalu menjelaskan bahwa kenaikan ini bukan karena toko menaikkan harga sendiri, tetapi memang harga dari pabrik dan distributor sudah naik,” ungkapnya.
Para pelaku usaha berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan stabilitas harga kebutuhan pokok.
Tetapi juga memberikan perhatian terhadap harga bahan bangunan yang memiliki pengaruh besar terhadap sektor konstruksi dan perekonomian daerah.
“Pemerintah bisa mengendalikan harga agar kembali normal seperti sebelumnya. Selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada harga bahan makanan,” usulnya.
“Padahal kenaikan harga bahan bangunan juga sangat berdampak terhadap usaha kami, karyawan, dan masyarakat yang sedang membangun rumah,” pungkasnya.
Para pemilik toko menilai apabila kenaikan harga terus berlanjut, bukan hanya toko bangunan yang terdampak, tetapi juga masyarakat yang berencana membangun atau merenovasi rumah.
Imbasnya juga akan berdampak terhadap pekerjaan kontraktor lokal hingga sektor konstruksi secara keseluruhan yang berpotensi mengalami perlambatan akibat meningkatnya biaya pembangunan. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru








