TIMIKA, Koranpapua.id – Rentetan kekerasan berdarah kembali terjadi di Kabupaten Mimika. Dalam kurang dari dua pekan, sedikitnya tiga peristiwa kekerasan terjadi di sejumlah lokasi, dengan korban meninggal maupun mengalami luka serius.
Kasus terbaru terjadi pada Selasa, 1 September 2026, sekitar pukul 12.20 WIT. Seorang pria bernama Eliu Hagabal diduga menjadi korban penganiayaan menggunakan senjata tajam setelah dikejar sekelompok orang menggunakan mobil Toyota Avanza berwarna hitam di Jalan Freeport Lama, Distrik Mimika Baru.
Kapolsek Kwamki Narama Iptu Yusak Sawaki mengatakan, peristiwa itu bermula ketika Eliu bersama Yolince Waker berboncengan sepeda motor dari Jalur 3, Kampung Olaroa, Distrik Kwamki Narama, menuju Timika.
Saat melintas di Jalan Tol sebelum bundaran CP 28, Yolince melihat sebuah mobil dari arah belakang yang disebut mengejar mereka. Ia kemudian meminta Eliu memutar balik.
“Yolince Waker menyampaikan kepada Eliu Hagabal yang mengemudi motor bahwa ada mobil dari belakang yang mengejar kita berdua, agar Eliu Hagabal putar balik saja, namun Eliu Hagabal tidak menghiraukan,” kata Yusak.
Keduanya tetap melanjutkan perjalanan menuju Timika. Setibanya di bundaran Bandara Lama, mobil tersebut kembali memepet sepeda motor yang mereka gunakan. Eliu berhasil menghindar dan terus melaju ke arah Timika.
Pengejaran belum berhenti. Saat mobil kembali memepet sepeda motor untuk kedua kalinya, Eliu dan Yolince memilih berhenti. Mereka meninggalkan sepeda motor dan berlari menuju Jalan Freeport Lama.
Yolince kemudian melihat tiga orang turun dari mobil sambil membawa benda tajam. Ketiganya diduga melakukan kekerasan terhadap Eliu.
Peristiwa itu menambah daftar kasus kekerasan yang terjadi di Mimika dalam beberapa pekan terakhir.
Dua pelajar SMK Negeri 1 Kuala Kencana yang sedang menjalani praktik kerja lapangan, Tardius Kogoya dan Nomison Genongga, ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah bengkel di Jalan Yan Tinal, SP3, Minggu, 30 Agustus 2026.
Keduanya ditemukan di sebuah kamar bagian belakang bengkel. Polisi mendapati luka pada bagian leher kedua korban.
Beberapa hari sebelumnya, Rabu, 19 Agustus 2026 sore, seorang pria juga ditemukan tak bernyawa di depan Perumahan Pondok Amor, Jalan Cenderawasih SP3, Kampung Karang Senang, Distrik Kuala Kencana.
Korban ditemukan dalam kondisi tergeletak dan bersimbah darah dengan luka pada bagian bawah telinga kiri.
Hingga kini, motif maupun pelaku dalam rangkaian kasus tersebut belum diketahui. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi, motif, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas masing-masing kejadian.

Belum terungkapnya pelaku dan motif dalam sejumlah kasus tersebut turut memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Rentetan kejadian kekerasan itu dinilai berpotensi mengganggu rasa aman dan stabilitas keamanan di Mimika.
Ketua YLBH Papua Tengah, Yoseph Temorubun, mendesak kepolisian bersama TNI memperkuat langkah pencegahan dan penindakan.
“Kami selaku YLBH Papua Tengah meminta Kapolres bersama jajaran dan juga pihak keamanan lain dari TNI untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dengan menerjunkan tim intelijen di lapangan untuk mendeteksi siapa aktor di balik kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini,” kata Yoseph Kepada Koranpapua.id.
Menurut dia, aparat perlu mengungkap aktor di balik rangkaian kekerasan yang telah menelan korban jiwa, termasuk kasus terhadap warga Papua di SP3, dua pelajar di bengkel SP3, serta kejadian terbaru di Jalan Freeport Lama.
Yoseph juga meminta polisi meningkatkan pemeriksaan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, terutama untuk mencegah peredaran senjata tajam.
“Kami berharap bahwa Kapolres bersama jajaran melakukan sweeping terhadap kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga yang membawa senjata tajam, polisi harus mengambil langkah tegas dengan memproses menggunakan Undang-Undang Darurat,” ujarnya.
Ia menilai penindakan tegas diperlukan untuk meredam keresahan masyarakat dan menjaga stabilitas keamanan di Timika.
Namun, menurut Yoseph, menjaga keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat. Seluruh elemen masyarakat juga perlu mengambil bagian.
“Kami berharap bahwa stabilitas keamanan di Timika ini bukan semata-mata menjadi tanggung jawab TNI-Polri saja, tetapi semua warga masyarakat yang ada di Mimika,” katanya.
Yoseph juga mendesak polisi menangkap pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Distrik Kwamki Narama. Ia menyebut penangkapan terhadap pihak yang terlibat sebagai salah satu langkah untuk menghentikan kekerasan yang berulang.
“Berkaitan dengan hal ini kami YLBH Papua Tengah meminta Kapolres menangkap Waimum yang terlibat konflik di Kwamki Narama. Harus ditangkap untuk mengakhiri konflik di Kwamki Narama. Tidak ada jalan lain selain Kapolres harus bertindak tegas menangkap seluruh Waimum yang terlibat perang di Kwamki Narama,” ujarnya.
Di sisi lain, YLBH Papua Tengah meminta Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) segera mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk membangun kesepakatan bersama menjaga keamanan.
“Kami sarankan kepada Kesbangpol Kabupaten Mimika untuk mengumpulkan seluruh tokoh pemuda, tokoh masyarakat maupun agama untuk hadir, bagaimana kita semua berkewajiban menjaga stabilitas keamanan di Mimika,” kata Yoseph.
Ia mengusulkan agar pertemuan tersebut melibatkan tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, paguyuban, organisasi perempuan, pemuda dan seluruh pemangku kepentingan di Mimika.
Menurut Yoseph, pertemuan itu perlu menghasilkan kesepakatan tertulis bersama sebagai komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan.
“Saran kami selain ada pertemuan itu juga dibuat satu draf surat pernyataan bersama bahwa semua warga yang ada di Kabupaten Mimika membuat satu kesepakatan menjaga stabilitas keamanan di Timika,” ujarnya.
Ia mengingatkan, gangguan keamanan bukan hanya berdampak pada rasa aman warga, tetapi juga dapat menghambat pembangunan dan aktivitas ekonomi.
“Ketika terjadi nonstabilitas di Kabupaten Mimika maka akan menghambat pembangunan dan perekonomian, dan juga mengakibatkan kesenjangan,” katanya.
Dia berharap Kesbangpol menggunakan kewenangannya untuk memfasilitasi pertemuan lintas elemen tersebut. Tujuannya, agar keamanan di Mimika tidak hanya menjadi urusan aparat, tetapi menjadi komitmen bersama masyarakat. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







