ADVERTISEMENT
Jumat, Juli 17, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

Upaya ini perlu terus dioptimalkan demi menjaga keseimbangan ekosistem global dan kelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang.

1 Juni 2026
0
Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

Daniela Angelica Souisa, Mahasiswa Semester 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Hubungan Internasional Universitas Negeri Cendrawasih, Jayapura, Papua. (foto Ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

PAPUA diakui sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Wilayah ini disebut sebagai kawasan megabiodiversitas karena Papua menyimpan kekayaan alam sangat besar, yang bahkan berkontribusi dalam menjaga ekosistem global.

ADVERTISEMENT

Papua sendiri memiliki variasi ekosistem yang sangat luas, yang mencakup berbagai tipe habitat dari hamparan hutan hujan ke dataran rendah, juga daerah pegunungan yang tinggi sehingga membuat Papua memiliki keberagaman jenis spesies flora dan fauna yang unik.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ada banyak spesies endemik atau spesies yang hanya dapat ditemukan di wilayah Papua contohnya seperti Cenderawasih, Kuskus, Kasuari, Mambruk Victoria, hingga berbagai jenis anggrek dan tumbuhan lain yang dapat ditemukan di wilayah Papua.

Baca Juga

Kepkam Nawaripi: Kantor Tidak Layak Pakai, Bangun Gedung Serbaguna untuk Dukung Pelayanan Warga

Akhiri Ketergantungan dari Jawa, Pempus Petakan Peran Papua Jadi Kawasan Penyangga Ketahanan Pangan dan Energi

Adapun ancaman dibalik keindahan alam Papua ini seperti perburuan dan perdagangan ilegal flora dan fauna endemik yang disebabkan oleh keindahan dan kelangkaannya, dijadikan hiasan rumah, hingga beberapa fauna ikut dijadikan peliharaan eksotis oleh para kolektor.

Selain daripada itu, ada juga deforestasi dan kerusakan habitat seperti ekspansi perkebunan, penebangan phon-pohon dalam skala besar yang mengancam tempat berkembang biak fauna.

Termasuk pembangunan infrastruktur seperti pembuatan jalan di tengah hutan yang mana merusak habitat mereka dan memudahkan akses pemburu liar.

Adapun eksploitasi budaya yang tidak terkontrol secara tradisional contohnya seperti pembuatan mahkota Cenderawasih sebagai hiasan kepala.

Bulu Burung Cenderawasih sendiri memiliki keindahan yang tak terkalahkan. Bulu Burung Cenderawasih inilah yang dibuat sebagai hiasan kepala untuk keperluan adat masyarakat.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan acara seremonial, maka permintaan akan mahkota Burung Cenderawasih ini dapat meningkat, yang mana menyebabkan perburuan akan satwa ini semakin menjadi-jadi.

Dibalik ancaman tersebut, tentunya ada upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah seperti, menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai taman nasional.

Contohnya Taman Nasional Lorentz yang menjadi terbesar di Asia Tenggara dengan luasan 2,35 juta hektar, termasuk juga Teluk Cenderawasih.

Selain itu ada juga konservasi berbasis masyarakat adat dimana masyarakat adat diakui sebagai “benteng terakhir” konservasi.

Masyarakat adat diberi hak untuk mengelola hutan supaya mereka memiliki otoritas untuk mengusir pemburu liar, serta mengubah masyarakat yang awalnya pemburu menjadi pemandu wisata.

Ini seperti yang ada di desa Malagufuk (Sorong) dan kampung Rhepang Muaif (Jayapura). Mereka bekerja memandu para wisatawan untuk melihat flora dan fauna yang masih hidup secara langsung.

Dengan demikian, nilai ekonomi flora dan fauna yang hidup menjadi jauh lebih tinggi ketimbang yang sudah mati atau diawetkan.

Ada juga pemantauan daring yang dilakukan para tim siber untuk memantau perdagangan flora dan fauna yang dilakukan secara ilegal melalui media social.

Juga melakukan patroli di jalur perdagangan seperti di pelabuhan maupun bandar udara.

Selain itu dilakukan penangkaran dan pelepasliaran yang dilakukan oleh Pusat Rehabilitasi Satwa di Papua yang mana mereka akan merawat satwa hasil sitaan.

Satwa yang masih hidup dari hasil sitaan tidak langsung dilepaskan ke alam liar, tetapi dikarantina terlebih dahulu, serta dilatih kembali sifat liarnya sebelum dikembalikan ke habitast asli mereka.

Upaya lainnya untuk mengurangi permintaan terhadap bulu asli Cenderawasih dengan cara membuat makhkota buatan yang terbuat dari bulu ayam yang diwarnai sedemikian rupa hingga terlihat mirip dengan bulu Cenderawasih.

Selain itu, dilakukan juga penanaman kembali hutan yang sudah gundul supaya mengembalikan habitat asli dari flora dan fauna endemik.

Jadi, Papua merupakan mahkota keanekaragaman hayati Indonesia yang menyimpan kekayaan endemik tak ternilai, mulai dari Burung Cenderawasih yang ikonik hingga spesies flora dan fauna unik lainnya.

Namun keberadaannya kini terancam serius oleh deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal.

Melalui penguatan regulasi dalam UU No. 32 Tahun 2024 dan pergeseran strategi konservasi yang kini lebih mengedepankan pemberdayaan masyarakat adat serta ekowisata sebagai upaya perlindungan “Benteng Terakhir”.

Upaya ini perlu terus dioptimalkan demi menjaga keseimbangan ekosistem global dan kelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang. (*)

Penulis: Daniela Angelica Souisa, Mahasiswa Semester 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Hubungan Internasional Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura, Papua.

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Lemasko Dorong Kapolres Mimika Gelar Dialog Besar dengan Tokoh Adat dan Kepala Suku

Lemasko Dorong Kapolres Mimika Gelar Dialog Besar dengan Tokoh Adat dan Kepala Suku

17 Juli 2026
Kepkam Nawaripi: Kantor Tidak Layak Pakai, Bangun Gedung Serbaguna untuk Dukung Pelayanan Warga

Kepkam Nawaripi: Kantor Tidak Layak Pakai, Bangun Gedung Serbaguna untuk Dukung Pelayanan Warga

17 Juli 2026
Pengedar 20 Paket Sabu Diciduk saat Menunggu Pembeli di SP2 Timika

Pengedar 20 Paket Sabu Diciduk saat Menunggu Pembeli di SP2 Timika

16 Juli 2026
Akhiri Ketergantungan dari Jawa, Pempus Petakan Peran Papua Jadi Kawasan Penyangga Ketahanan Pangan dan Energi

Akhiri Ketergantungan dari Jawa, Pempus Petakan Peran Papua Jadi Kawasan Penyangga Ketahanan Pangan dan Energi

16 Juli 2026
Diabetes dan Hipertensi Masuk 10 Besar Penyakit di Mimika, Gaya Hidup Menjadi Penyebab Utama

Diabetes dan Hipertensi Masuk 10 Besar Penyakit di Mimika, Gaya Hidup Menjadi Penyebab Utama

16 Juli 2026
BPKP Papua Tengah Siap Kawal Akuntabilitas Tindak Lanjut Rekomendasi LKPJ Gubernur TA 2025

BPKP Papua Tengah Siap Kawal Akuntabilitas Tindak Lanjut Rekomendasi LKPJ Gubernur TA 2025

16 Juli 2026

POPULER

  • Kemenkeu Soroti Penggunaan Dana Transfer di Mimika, Laporan akan Dicocokkan dengan Fakta Lapangan

    Kemenkeu Soroti Penggunaan Dana Transfer di Mimika, Laporan akan Dicocokkan dengan Fakta Lapangan

    620 shares
    Bagikan 248 Tweet 155
  • Bupati Mimika Keluarkan Instruksi Nomor 56 Tahun 2026, Kendaraan Dinas ASN-TNI-Polri Dilarang Isi Pertalite dan Biosolar

    584 shares
    Bagikan 234 Tweet 146
  • Kemenkeu Evaluasi Penggunaan Dana Ratusan Miliar di Mimika, Fokus pada Layanan Kesehatan dan Infrastruktur

    574 shares
    Bagikan 230 Tweet 144
  • Polres Mimika Amankan Pria 49 Tahun Terduga Pelaku Rudapaksa Anak 12 Tahun di SP4

    538 shares
    Bagikan 215 Tweet 135
  • Kondisi Kantor Pemerintahan Kampung Nawaripi-Mimika Terbengkalai

    537 shares
    Bagikan 215 Tweet 134
  • Terduga Pelaku Penikaman Maut di Poumako Berhasil Diringkus Hanya 15 Menit Usai Beraksi

    537 shares
    Bagikan 215 Tweet 134
  • Bergeser dari Polresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Jabat Dirreskrimsus Polda Papua

    728 shares
    Bagikan 291 Tweet 182
Next Post
Kebakaran Gereja Katolik Poumako: Polisi Sebut Diduga Akibat Lilin yang Lupa Dipadamkan

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Kenaikan Harga Material dan BBM, Pemkab Mimika Evaluasi Menyeluruh Struktur Nilai Proyek 2026

Mahasiswa UTU Asal Papua Yulianus Petege, Raih Juara Pada Ajang Fotografi Internasional

Mahasiswa UTU Asal Papua Yulianus Petege, Raih Juara Pada Ajang Fotografi Internasional

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id