ADVERTISEMENT
Senin, Juni 8, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

Upaya ini perlu terus dioptimalkan demi menjaga keseimbangan ekosistem global dan kelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang.

1 Juni 2026
0
Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

Daniela Angelica Souisa, Mahasiswa Semester 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Hubungan Internasional Universitas Negeri Cendrawasih, Jayapura, Papua. (foto Ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

PAPUA diakui sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Wilayah ini disebut sebagai kawasan megabiodiversitas karena Papua menyimpan kekayaan alam sangat besar, yang bahkan berkontribusi dalam menjaga ekosistem global.

ADVERTISEMENT

Papua sendiri memiliki variasi ekosistem yang sangat luas, yang mencakup berbagai tipe habitat dari hamparan hutan hujan ke dataran rendah, juga daerah pegunungan yang tinggi sehingga membuat Papua memiliki keberagaman jenis spesies flora dan fauna yang unik.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ada banyak spesies endemik atau spesies yang hanya dapat ditemukan di wilayah Papua contohnya seperti Cenderawasih, Kuskus, Kasuari, Mambruk Victoria, hingga berbagai jenis anggrek dan tumbuhan lain yang dapat ditemukan di wilayah Papua.

Baca Juga

Pemindahan Tersangka OPM Junis Murib ke Timika Dikawal Ketat Satgas Korpasgat

Kejari Mimika Dalami Dugaan Korupsi Proyek Tujuh Rumah, Dua ASN Sudah Diperiksa

Adapun ancaman dibalik keindahan alam Papua ini seperti perburuan dan perdagangan ilegal flora dan fauna endemik yang disebabkan oleh keindahan dan kelangkaannya, dijadikan hiasan rumah, hingga beberapa fauna ikut dijadikan peliharaan eksotis oleh para kolektor.

Selain daripada itu, ada juga deforestasi dan kerusakan habitat seperti ekspansi perkebunan, penebangan phon-pohon dalam skala besar yang mengancam tempat berkembang biak fauna.

Termasuk pembangunan infrastruktur seperti pembuatan jalan di tengah hutan yang mana merusak habitat mereka dan memudahkan akses pemburu liar.

Adapun eksploitasi budaya yang tidak terkontrol secara tradisional contohnya seperti pembuatan mahkota Cenderawasih sebagai hiasan kepala.

Bulu Burung Cenderawasih sendiri memiliki keindahan yang tak terkalahkan. Bulu Burung Cenderawasih inilah yang dibuat sebagai hiasan kepala untuk keperluan adat masyarakat.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan acara seremonial, maka permintaan akan mahkota Burung Cenderawasih ini dapat meningkat, yang mana menyebabkan perburuan akan satwa ini semakin menjadi-jadi.

Dibalik ancaman tersebut, tentunya ada upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah seperti, menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai taman nasional.

Contohnya Taman Nasional Lorentz yang menjadi terbesar di Asia Tenggara dengan luasan 2,35 juta hektar, termasuk juga Teluk Cenderawasih.

Selain itu ada juga konservasi berbasis masyarakat adat dimana masyarakat adat diakui sebagai “benteng terakhir” konservasi.

Masyarakat adat diberi hak untuk mengelola hutan supaya mereka memiliki otoritas untuk mengusir pemburu liar, serta mengubah masyarakat yang awalnya pemburu menjadi pemandu wisata.

Ini seperti yang ada di desa Malagufuk (Sorong) dan kampung Rhepang Muaif (Jayapura). Mereka bekerja memandu para wisatawan untuk melihat flora dan fauna yang masih hidup secara langsung.

Dengan demikian, nilai ekonomi flora dan fauna yang hidup menjadi jauh lebih tinggi ketimbang yang sudah mati atau diawetkan.

Ada juga pemantauan daring yang dilakukan para tim siber untuk memantau perdagangan flora dan fauna yang dilakukan secara ilegal melalui media social.

Juga melakukan patroli di jalur perdagangan seperti di pelabuhan maupun bandar udara.

Selain itu dilakukan penangkaran dan pelepasliaran yang dilakukan oleh Pusat Rehabilitasi Satwa di Papua yang mana mereka akan merawat satwa hasil sitaan.

Satwa yang masih hidup dari hasil sitaan tidak langsung dilepaskan ke alam liar, tetapi dikarantina terlebih dahulu, serta dilatih kembali sifat liarnya sebelum dikembalikan ke habitast asli mereka.

Upaya lainnya untuk mengurangi permintaan terhadap bulu asli Cenderawasih dengan cara membuat makhkota buatan yang terbuat dari bulu ayam yang diwarnai sedemikian rupa hingga terlihat mirip dengan bulu Cenderawasih.

Selain itu, dilakukan juga penanaman kembali hutan yang sudah gundul supaya mengembalikan habitat asli dari flora dan fauna endemik.

Jadi, Papua merupakan mahkota keanekaragaman hayati Indonesia yang menyimpan kekayaan endemik tak ternilai, mulai dari Burung Cenderawasih yang ikonik hingga spesies flora dan fauna unik lainnya.

Namun keberadaannya kini terancam serius oleh deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal.

Melalui penguatan regulasi dalam UU No. 32 Tahun 2024 dan pergeseran strategi konservasi yang kini lebih mengedepankan pemberdayaan masyarakat adat serta ekowisata sebagai upaya perlindungan “Benteng Terakhir”.

Upaya ini perlu terus dioptimalkan demi menjaga keseimbangan ekosistem global dan kelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang. (*)

Penulis: Daniela Angelica Souisa, Mahasiswa Semester 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Hubungan Internasional Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura, Papua.

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Pemindahan Tersangka OPM Junis Murib ke Timika Dikawal Ketat Satgas Korpasgat

Pemindahan Tersangka OPM Junis Murib ke Timika Dikawal Ketat Satgas Korpasgat

8 Juni 2026
Provinsi Papua Tengah Tercatat Inflasi Tertinggi Sebesar 0,52 Persen

Provinsi Papua Tengah Tercatat Inflasi Tertinggi Sebesar 0,52 Persen

8 Juni 2026
Kejari Mimika Dalami Dugaan Korupsi Proyek Tujuh Rumah, Dua ASN Sudah Diperiksa

Kejari Mimika Dalami Dugaan Korupsi Proyek Tujuh Rumah, Dua ASN Sudah Diperiksa

8 Juni 2026
Lemasa Ajak Dialog Selesaikan Polemik Pengelolaan Besi Bekas Freeport

Lemasa Ajak Dialog Selesaikan Polemik Pengelolaan Besi Bekas Freeport

8 Juni 2026
Pembakaran Gedung SD Yapis oleh KKB, Kerugian Mencapai Rp2 Miliar

Pembakaran Gedung SD Yapis oleh KKB, Kerugian Mencapai Rp2 Miliar

8 Juni 2026
Bupati Mimika Terima Laporan Oknum Pejabat Mabuk Miras di Kantor, Mengulangi Lagi Dicopot

Bupati Mimika Terima Laporan Oknum Pejabat Mabuk Miras di Kantor, Mengulangi Lagi Dicopot

8 Juni 2026

POPULER

  • Atasi Ketimpangan Tenaga Pengajar, Disdik Mimika Atur Penempatan Guru Demi Pemerataan

    PPDB 2026 Wajib Melalui Empat Jalur, Kadisdik Mimika Ingatkan Tidak Boleh Terima Titipan Pejabat

    593 shares
    Bagikan 237 Tweet 148
  • Prihatin! Satu Siswa SMP di Kota Timika Positif Narkotika

    572 shares
    Bagikan 229 Tweet 143
  • Pembakaran Gedung SD Yapis oleh KKB, Kerugian Mencapai Rp2 Miliar

    556 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • Bersembunyi di Timika, Pelaku Pencabulan Anak di Sikka Berhasil Ditangkap

    616 shares
    Bagikan 246 Tweet 154
  • SD Inpres Timika II Gelar Education Expo 2026, Tampilkan Inovasi Berbasis Kearifan Lokal Papua

    527 shares
    Bagikan 211 Tweet 132
  • Pelajar SMP Negeri dan Swasta di Papua Tengah Bebas Biaya Pendidikan, Berlaku Tahun Ini

    849 shares
    Bagikan 340 Tweet 212
  • Freeport Kelola Tailing Bernilai Guna, Anggaran Tembus Rp200–300 Juta Dolar per Tahun

    523 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
Next Post
Kebakaran Gereja Katolik Poumako: Polisi Sebut Diduga Akibat Lilin yang Lupa Dipadamkan

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Kenaikan Harga Material dan BBM, Pemkab Mimika Evaluasi Menyeluruh Struktur Nilai Proyek 2026

Mahasiswa UTU Asal Papua Yulianus Petege, Raih Juara Pada Ajang Fotografi Internasional

Mahasiswa UTU Asal Papua Yulianus Petege, Raih Juara Pada Ajang Fotografi Internasional

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id