ADVERTISEMENT
Senin, Juni 1, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

Upaya ini perlu terus dioptimalkan demi menjaga keseimbangan ekosistem global dan kelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang.

1 Juni 2026
0
Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

Daniela Angelica Souisa, Mahasiswa Semester 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Hubungan Internasional Universitas Negeri Cendrawasih, Jayapura, Papua. (foto Ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

PAPUA diakui sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Wilayah ini disebut sebagai kawasan megabiodiversitas karena Papua menyimpan kekayaan alam sangat besar, yang bahkan berkontribusi dalam menjaga ekosistem global.

ADVERTISEMENT

Papua sendiri memiliki variasi ekosistem yang sangat luas, yang mencakup berbagai tipe habitat dari hamparan hutan hujan ke dataran rendah, juga daerah pegunungan yang tinggi sehingga membuat Papua memiliki keberagaman jenis spesies flora dan fauna yang unik.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ada banyak spesies endemik atau spesies yang hanya dapat ditemukan di wilayah Papua contohnya seperti Cenderawasih, Kuskus, Kasuari, Mambruk Victoria, hingga berbagai jenis anggrek dan tumbuhan lain yang dapat ditemukan di wilayah Papua.

Baca Juga

Kenaikan Harga Material dan BBM, Pemkab Mimika Evaluasi Menyeluruh Struktur Nilai Proyek 2026

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Adapun ancaman dibalik keindahan alam Papua ini seperti perburuan dan perdagangan ilegal flora dan fauna endemik yang disebabkan oleh keindahan dan kelangkaannya, dijadikan hiasan rumah, hingga beberapa fauna ikut dijadikan peliharaan eksotis oleh para kolektor.

Selain daripada itu, ada juga deforestasi dan kerusakan habitat seperti ekspansi perkebunan, penebangan phon-pohon dalam skala besar yang mengancam tempat berkembang biak fauna.

Termasuk pembangunan infrastruktur seperti pembuatan jalan di tengah hutan yang mana merusak habitat mereka dan memudahkan akses pemburu liar.

Adapun eksploitasi budaya yang tidak terkontrol secara tradisional contohnya seperti pembuatan mahkota Cenderawasih sebagai hiasan kepala.

Bulu Burung Cenderawasih sendiri memiliki keindahan yang tak terkalahkan. Bulu Burung Cenderawasih inilah yang dibuat sebagai hiasan kepala untuk keperluan adat masyarakat.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan acara seremonial, maka permintaan akan mahkota Burung Cenderawasih ini dapat meningkat, yang mana menyebabkan perburuan akan satwa ini semakin menjadi-jadi.

Dibalik ancaman tersebut, tentunya ada upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah seperti, menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai taman nasional.

Contohnya Taman Nasional Lorentz yang menjadi terbesar di Asia Tenggara dengan luasan 2,35 juta hektar, termasuk juga Teluk Cenderawasih.

Selain itu ada juga konservasi berbasis masyarakat adat dimana masyarakat adat diakui sebagai “benteng terakhir” konservasi.

Masyarakat adat diberi hak untuk mengelola hutan supaya mereka memiliki otoritas untuk mengusir pemburu liar, serta mengubah masyarakat yang awalnya pemburu menjadi pemandu wisata.

Ini seperti yang ada di desa Malagufuk (Sorong) dan kampung Rhepang Muaif (Jayapura). Mereka bekerja memandu para wisatawan untuk melihat flora dan fauna yang masih hidup secara langsung.

Dengan demikian, nilai ekonomi flora dan fauna yang hidup menjadi jauh lebih tinggi ketimbang yang sudah mati atau diawetkan.

Ada juga pemantauan daring yang dilakukan para tim siber untuk memantau perdagangan flora dan fauna yang dilakukan secara ilegal melalui media social.

Juga melakukan patroli di jalur perdagangan seperti di pelabuhan maupun bandar udara.

Selain itu dilakukan penangkaran dan pelepasliaran yang dilakukan oleh Pusat Rehabilitasi Satwa di Papua yang mana mereka akan merawat satwa hasil sitaan.

Satwa yang masih hidup dari hasil sitaan tidak langsung dilepaskan ke alam liar, tetapi dikarantina terlebih dahulu, serta dilatih kembali sifat liarnya sebelum dikembalikan ke habitast asli mereka.

Upaya lainnya untuk mengurangi permintaan terhadap bulu asli Cenderawasih dengan cara membuat makhkota buatan yang terbuat dari bulu ayam yang diwarnai sedemikian rupa hingga terlihat mirip dengan bulu Cenderawasih.

Selain itu, dilakukan juga penanaman kembali hutan yang sudah gundul supaya mengembalikan habitat asli dari flora dan fauna endemik.

Jadi, Papua merupakan mahkota keanekaragaman hayati Indonesia yang menyimpan kekayaan endemik tak ternilai, mulai dari Burung Cenderawasih yang ikonik hingga spesies flora dan fauna unik lainnya.

Namun keberadaannya kini terancam serius oleh deforestasi, perburuan, dan perdagangan ilegal.

Melalui penguatan regulasi dalam UU No. 32 Tahun 2024 dan pergeseran strategi konservasi yang kini lebih mengedepankan pemberdayaan masyarakat adat serta ekowisata sebagai upaya perlindungan “Benteng Terakhir”.

Upaya ini perlu terus dioptimalkan demi menjaga keseimbangan ekosistem global dan kelestarian warisan budaya bagi generasi mendatang. (*)

Penulis: Daniela Angelica Souisa, Mahasiswa Semester 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Hubungan Internasional Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura, Papua.

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Kenaikan Harga Material dan BBM, Pemkab Mimika Evaluasi Menyeluruh Struktur Nilai Proyek 2026

1 Juni 2026
Kebakaran Gereja Katolik Poumako: Polisi Sebut Diduga Akibat Lilin yang Lupa Dipadamkan

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

1 Juni 2026
Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

1 Juni 2026
Tidak Hanya Tewaskan Lima Warga, Bom Perang Dunia II juga Meluluhlantakkan Puluhan Rumah

Tidak Hanya Tewaskan Lima Warga, Bom Perang Dunia II juga Meluluhlantakkan Puluhan Rumah

1 Juni 2026
Dialog Bersama Uskup Agung Ende: Wagub Paskalis Sebut Warga NTT Ikut Berkontribusi untuk Papua Selatan

Dialog Bersama Uskup Agung Ende: Wagub Paskalis Sebut Warga NTT Ikut Berkontribusi untuk Papua Selatan

1 Juni 2026
Peringati Hari Lahir Pancasila, Johannes Rettob Ajak Warga Mimika Perkuat Persatuan Bangsa

Peringati Hari Lahir Pancasila, Johannes Rettob Ajak Warga Mimika Perkuat Persatuan Bangsa

1 Juni 2026

POPULER

  • Tahun 2026 ASN Pemprov Papua Tengah Diingatkan Disiplin Waktu dan Tinggalkan Pola Kerja Berbelit-belit

    Pelajar SMP Negeri dan Swasta di Papua Tengah Bebas Biaya Pendidikan, Berlaku Tahun Ini

    809 shares
    Bagikan 324 Tweet 202
  • Dari Kampung ke Jawa, Tiga Taruna Papua Binaan YPMAK Kejar Mimpi di Bidang Kelautan

    555 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • Ledakan Diduga Bom Terjadi di Biak, Lima Orang Tewas dan Tiga Lainnya Hilang

    533 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
  • 42 Kepala Daerah di Papua akan Hadiri Deklarasi Eliminasi Tuberkulosis di Kota Sorong

    528 shares
    Bagikan 211 Tweet 132
  • Satu Korban Ledakan Granat di Gereja Santo Paulus Nabuni Meninggal Dunia di RSUD Mimika

    520 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
  • Paulus Waterpauw Desak Komunikasi Pemerintah dan Masyarakat Adat Lebih Aktif

    517 shares
    Bagikan 207 Tweet 129
  • Disdik Mimika Tekankan Pentingnya TK Sebelum SD, Terapkan Ketentuan Usia dan Fleksibilitas di Lapangan

    515 shares
    Bagikan 206 Tweet 129
Next Post
Kebakaran Gereja Katolik Poumako: Polisi Sebut Diduga Akibat Lilin yang Lupa Dipadamkan

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Pemkab Mimika Siapkan Tempat Ibadah Sementara Pasca Kebakaran Gereja Katalik Poumako

Kenaikan Harga Material dan BBM, Pemkab Mimika Evaluasi Menyeluruh Struktur Nilai Proyek 2026

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id