TIMIKA, Koranpapua.id- Bagi kelompok usia dewasa hingga lansia, osteoartritis atau radang sendi bukan lagi sekadar keluhan fisik biasa.
Penyakit itu kerap memicu nyeri kronis, membatasi ruang gerak, hingga merenggut produktivitas dan kualitas hidup penderitanya.
Berangkat dari realitas yang memprihatinkan tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) hadir dengan inovasi pemanfaatan buah merah Papua sebagai kandidat terapi alternatif osteoartritis.
Mengutip UNAIRNEWS, Rabu 24 Juni 2026 menyebutkan bahwa tim ini pun sukses menerima pendanaan dalam ajang bergengsi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Diketuai oleh Bayu Cahyo Bintoro (FKG) tim yang beranggotakan Intan Asmi (FTMM), Muhammad Darryl (FTMM), Anindita Azkia (FK), dan Barika Zoyscia (FF) menggagas formulasi terapi berbasis buah merah asal Papua.
Pemilihan bahan alami ini bukan tanpa alasan, buah merah Papua kaya akan senyawa bioaktif seperti karotenoid, tokoferol, asam lemak, dan berbagai komponen antioksidan lainnya.
Senyawa-senyawa tersebut berpotensi menurunkan stres oksidatif sekaligus menghambat jalur inflamasi yang menjadi penyebab osteoartritis.
Bayu Cahyo Bintoro memaparkan bahwa ide riset ini berangkat dari keresahan terhadap pengobatan osteoartritis yang ada saat ini.
Selama ini, terapi yang tersedia lebih berfokus pada pengurangan gejala seperti nyeri dan inflamasi sementara. Namun belum sepenuhnya mampu menargetkan proses kerusakan kartilago (tulang rawan) secara komprehensif.
Selain itu, pilihan terapi yang tersedia juga masih memiliki kekurangan dalam efek samping penggunaan obat antiinflamasi jangka panjang atau biaya terapi yang relatif tinggi.
“Karena itu, penelitian ini kami arahkan untuk mencari alternatif terapi yang lebih aman, potensial, dan berbasis sumber daya lokal Indonesia,” ungkap Bayu selaku ketua tim.
Keunggulan inovasi itu dari pada terapi konvensional adalah pendekatannya tidak sekadar meredakan nyeri (painkiller), tetapi langsung memodulasi proses biologis yang berperan dalam terjadinya osteoartritis itu sendiri.
“Inovasi ini juga memiliki nilai tambah karena mengangkat potensi biodiversitas lokal Indonesia, khususnya dari Papua. Sehingga dapat mendukung pengembangan terapi berbasis bahan alam nasional,” tambahnya.
Langkah Strategis Pasca Pendanaan
Usai lolos pendanaan PKM, tim segera mengambil langkah taktis untuk merealisasikan riset melalui pengurusan administrasi, izin etik hewan coba, serta persiapan dan karakterisasi awal bahan baku buah merah Papua.
Tahap krusial berikutnya adalah pelaksanaan pengujian pada hewan model osteoartritis yang meliputi proses induksi model, pemberian perlakuan formulasi, hingga pengambilan sampel jaringan.
Selanjutnya, tim akan melakukan analisis mendalam terhadap parameter penanda inflamasi dan kondisi histopatologi kartilago.
Menurutnya, hasil tersebut akan mereka olah secara statistik menjadi laporan kemajuan serta artikel ilmiah untuk monitoring dan evaluasi PKM.
Ia berharap inovasi mereka tidak berhenti di tahap kompetisi PKM saja. Mereka memproyeksikan penelitian ini sebagai langkah awal penemuan kandidat terapi osteoartritis berbahan alam yang valid secara sains.
“Jika terus dikembangkan melalui kolaborasi bersama dosen pembimbing, laboratorium, peneliti, dan pihak industri farmasi,” paparnya.
Inovasi ini bisa menjadi wujud nyata hilirisasi produk biodiversitas nasional yang menghadirkan terapi terjangkau serta aman bagi masyarakat Indonesia.
“Saya tahu bahwa keraguan terhadap imunisasi masih ada di sebagian kampung, pendekatan medis saja tidak cukup,”ujarnya.
“Kita membutuhkan suara yang dipercaya masyarakat, untuk itu kepada tokoh adat dan agama ia memohon kerelaan menjadi jembatan antara program pemerintah dan hati masyarakat,” lanjutnya.
Bayu mengatakan, tim penggerak PKK dan kader Posyandu akan menjadi ujung tombak di lapangan, tetapi legitimasi dan dukungan dari para tokoh lah yang membuka pintu pemerintah di setiap kampung
Terkahir arahan kelima, tidak ada komitmen tanpa anggaran. Dia mengaku berkomitmen mendorong alokasi anggaran kesehatan yang memadai dari APBD dan dana otonomi khusus.
“Saya meminta kepada Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Papua Selatan agar prioritas kesepakatan dalam pertemuan ini tercermin dalam dokumen perencanaan dan penganggaran tahun berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, Agustinus Joko Guritno menyebut, Papua Selatan adalah provinsi muda. Pemerintah dan lintas sektor sementara sedang menulis sejarah pertama pembangunan kesehatan di tanah ini.
“Apa yang kita putuskan hari ini akan menentukan apakah generasi Anim Ha menjadi generasi yang sehat, kuat dan bermartabat, benar-benar lahir atau tetap menjadi mimpi,”kata dia.
“Saya percaya bahwa kita semua yang hadir disini memilih jalan kerja nyata,” Agustinus. (Redaksi)










