ADVERTISEMENT
Kamis, Agustus 6, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

Masyarakat tentu berharap alokasi anggaran tidak hanya terserap dalam belanja birokrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga benar-benar menyentuh pelaku ekonomi kecil, terutama Orang Asli Papua. 

6 Agustus 2026
0
APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

Mama Martina, penjual kerajinan tangan khas Papua. (foto:ril/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id– Di tengah besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika yang mencapai triliunan rupiah setiap tahun, masih ada potret pilu yang dialami pelaku usaha asli Papua. 

Salah satunya adalah Mama Martina, seorang perempuan asli Papua yang setiap hari mengandalkan hasil kerajinan tangan khas Papua untuk menghidupi keluarganya.

ADVERTISEMENT

Di lapak tempat jualannya, tepatnya di Pasar Sentral Timika, Kamis 6 Agustus 2026, Mama Martina menjajakan berbagai hasil kerajinan tradisional, seperti tas noken dan produk khas Papua lainnya. 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Semua dibuat secara manual menggunakan keterampilan tangan, dengan alat sederhana, termasuk jarum yang dibuat dari kayu.

Baca Juga

Sambut HUT Ke-81 RI: Warga RT 04 Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

CANTVR dan YUDIA Ditutup: Masyarakat Papua Diingatkan Waspadai Penipuan Berkedok Investasi dan Kerja Paruh Waktu

Di balik nilai budaya yang tinggi dari setiap karya tersebut, penghasilannya justru sangat memprihatinkan.

“Saya setiap hari datang jual. Kadang satu hari hanya dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu saja, itu pun kalau ada yang beli. Ada juga sampai satu minggu jualan tidak laku sama sekali,” ungkapnya. 

Pendapatan yang tidak menentu itu harus mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun yang lebih menyedihkan, selama bertahun-tahun menjalankan usaha, ia mengaku belum pernah merasakan sentuhan bantuan maupun pendampingan dari pemerintah daerah.

Menurutnya, seluruh kebutuhan usaha mulai dari bahan baku, alat produksi hingga modal harus dipenuhi sendiri tanpa dukungan apa pun.

“Kalau bantuan usaha tidak pernah dapat. Semua mama yang siapkan sendiri, mulai dari bahan sampai modal. Pemerintah tidak pernah datang lihat, tidak pernah bantu benang, alat atau modal usaha. Semua mama usaha sendiri,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menjadi ironi di tengah berbagai program pemerintah yang kerap mengusung pemberdayaan UMKM, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya lokal.

Padahal, kerajinan tangan khas Papua bukan sekadar produk ekonomi, tetapi juga identitas budaya yang memiliki nilai seni tinggi dan berpotensi menjadi daya tarik wisata apabila dikelola secara serius.

Potensi Besar, Perhatian Masih Kecil

(foto:ril/koranpapua.id)

Apabila ditata dengan baik melalui penyediaan sentra kerajinan, pelatihan, bantuan modal, promosi digital, hingga pemasaran kepada wisatawan dan perusahaan-perusahaan besar di Mimika, produk-produk asli Papua berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ironisnya, para pengrajin seperti Mama Martina justru masih berjuang sendiri di tengah keterbatasan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas program pemberdayaan UMKM yang selama ini dijalankan pemerintah daerah. 

Dengan kapasitas fiskal Mimika yang terbesar di Papua Tengah, masyarakat tentu berharap alokasi anggaran tidak hanya terserap dalam belanja birokrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga benar-benar menyentuh pelaku ekonomi kecil, terutama Orang Asli Papua (OAP).

Jika pemerintah serius menjadikan budaya Papua sebagai identitas daerah sekaligus sektor ekonomi unggulan, maka keberadaan pengrajin seperti Mama Martina seharusnya menjadi prioritas untuk dibina, difasilitasi, dan dipromosikan.

Sebab tanpa keberpihakan nyata, bukan tidak mungkin kerajinan tradisional Papua akan semakin kehilangan generasi penerusnya. 

Sementara para pengrajin yang masih bertahan hanya bisa berharap ada pembeli yang datang, demi membawa pulang uang puluhan ribu rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (*) 

Penulis: Ril Minggu

Editor: Marthen LL Moru

 

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Sambut HUT Ke-81 RI: Warga Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

Sambut HUT Ke-81 RI: Warga RT 04 Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

6 Agustus 2026
APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

6 Agustus 2026
CANTVR dan YUDIA Ditutup: Masyarakat Papua Diingatkan Waspadai Penipuan Berkedok Investasi dan Kerja Paruh Waktu

CANTVR dan YUDIA Ditutup: Masyarakat Papua Diingatkan Waspadai Penipuan Berkedok Investasi dan Kerja Paruh Waktu

6 Agustus 2026
Evaluasi Hasil Evran 2026, BPKP Papua Tengah Lakukan Audiensi dengan Pemkab Mimika 

Evaluasi Hasil Evran 2026, BPKP Papua Tengah Lakukan Audiensi dengan Pemkab Mimika 

6 Agustus 2026
Perkuat Kapasitas Nakes, Dinkes Papua Tengah Gelar OJT Program ATM 

Perkuat Kapasitas Nakes, Dinkes Papua Tengah Gelar OJT Program ATM 

6 Agustus 2026
Sopir Truk Dukung Ganjil-Genap Biosolar di Mimika, Minta Pasokan Dijamin dan Pengawasan Diperketat

Sopir Truk Dukung Ganjil-Genap Biosolar di Mimika, Minta Pasokan Dijamin dan Pengawasan Diperketat

6 Agustus 2026

POPULER

  • Oknum Polisi Tembak Warga di Timika, Kapolres Ungkap Dugaan Perselingkuhan Jadi Motif

    Oknum Polisi Tembak Warga di Timika, Kapolres Ungkap Dugaan Perselingkuhan Jadi Motif

    658 shares
    Bagikan 263 Tweet 165
  • Pria 37 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Timika, Penyebab Belum Diketahui

    571 shares
    Bagikan 228 Tweet 143
  • 12 Poin Kesepakatan Timika Resmi Diserahkan kepada Presiden, Meki Nawipa Beberkan Isinya

    590 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • Lima Pekerja Proyek Jalan PT SHJ Tewas Ditembak di Tolikara, Satu Korban Belum Dievakuasi

    543 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
  • Polres Mimika Tolak Izin Demo KNPB 3 Agustus, Massa Terancam Ditangkap Jika Memaksa

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Taruna Akpol Asal Papua Barat Daya Meninggal Dunia, Polisi Selidiki Penyebabnya

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Pulihkan Pendidikan Wa Banti, Freeport Bangun PAUD dan SD Dua Lantai Beroperasi 2027

    533 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
Next Post
Sambut HUT Ke-81 RI: Warga Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

Sambut HUT Ke-81 RI: Warga RT 04 Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id