ADVERTISEMENT
Sabtu, Agustus 15, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

Masyarakat tentu berharap alokasi anggaran tidak hanya terserap dalam belanja birokrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga benar-benar menyentuh pelaku ekonomi kecil, terutama Orang Asli Papua. 

6 Agustus 2026
0
APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

Mama Martina, penjual kerajinan tangan khas Papua. (foto:ril/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id– Di tengah besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika yang mencapai triliunan rupiah setiap tahun, masih ada potret pilu yang dialami pelaku usaha asli Papua. 

Salah satunya adalah Mama Martina, seorang perempuan asli Papua yang setiap hari mengandalkan hasil kerajinan tangan khas Papua untuk menghidupi keluarganya.

ADVERTISEMENT

Di lapak tempat jualannya, tepatnya di Pasar Sentral Timika, Kamis 6 Agustus 2026, Mama Martina menjajakan berbagai hasil kerajinan tradisional, seperti tas noken dan produk khas Papua lainnya. 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Semua dibuat secara manual menggunakan keterampilan tangan, dengan alat sederhana, termasuk jarum yang dibuat dari kayu.

Baca Juga

KNPB Kepung DPRK Mimika, Tuntut Papua Jadi Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan, Aspirasi Akhirnya Diterima

SATP Timika Siapkan Generasi Muda Papua Berdaya Saing Global, Montessori hingga Kurikulum Internasional

Di balik nilai budaya yang tinggi dari setiap karya tersebut, penghasilannya justru sangat memprihatinkan.

“Saya setiap hari datang jual. Kadang satu hari hanya dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu saja, itu pun kalau ada yang beli. Ada juga sampai satu minggu jualan tidak laku sama sekali,” ungkapnya. 

Pendapatan yang tidak menentu itu harus mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun yang lebih menyedihkan, selama bertahun-tahun menjalankan usaha, ia mengaku belum pernah merasakan sentuhan bantuan maupun pendampingan dari pemerintah daerah.

Menurutnya, seluruh kebutuhan usaha mulai dari bahan baku, alat produksi hingga modal harus dipenuhi sendiri tanpa dukungan apa pun.

“Kalau bantuan usaha tidak pernah dapat. Semua mama yang siapkan sendiri, mulai dari bahan sampai modal. Pemerintah tidak pernah datang lihat, tidak pernah bantu benang, alat atau modal usaha. Semua mama usaha sendiri,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menjadi ironi di tengah berbagai program pemerintah yang kerap mengusung pemberdayaan UMKM, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya lokal.

Padahal, kerajinan tangan khas Papua bukan sekadar produk ekonomi, tetapi juga identitas budaya yang memiliki nilai seni tinggi dan berpotensi menjadi daya tarik wisata apabila dikelola secara serius.

Potensi Besar, Perhatian Masih Kecil

(foto:ril/koranpapua.id)

Apabila ditata dengan baik melalui penyediaan sentra kerajinan, pelatihan, bantuan modal, promosi digital, hingga pemasaran kepada wisatawan dan perusahaan-perusahaan besar di Mimika, produk-produk asli Papua berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ironisnya, para pengrajin seperti Mama Martina justru masih berjuang sendiri di tengah keterbatasan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas program pemberdayaan UMKM yang selama ini dijalankan pemerintah daerah. 

Dengan kapasitas fiskal Mimika yang terbesar di Papua Tengah, masyarakat tentu berharap alokasi anggaran tidak hanya terserap dalam belanja birokrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga benar-benar menyentuh pelaku ekonomi kecil, terutama Orang Asli Papua (OAP).

Jika pemerintah serius menjadikan budaya Papua sebagai identitas daerah sekaligus sektor ekonomi unggulan, maka keberadaan pengrajin seperti Mama Martina seharusnya menjadi prioritas untuk dibina, difasilitasi, dan dipromosikan.

Sebab tanpa keberpihakan nyata, bukan tidak mungkin kerajinan tradisional Papua akan semakin kehilangan generasi penerusnya. 

Sementara para pengrajin yang masih bertahan hanya bisa berharap ada pembeli yang datang, demi membawa pulang uang puluhan ribu rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (*) 

Penulis: Ril Minggu

Editor: Marthen LL Moru

 

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

KNPB Kepung DPRK Mimika, Tuntut Papua Jadi Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan, Aspirasi Akhirnya Diterima

KNPB Kepung DPRK Mimika, Tuntut Papua Jadi Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan, Aspirasi Akhirnya Diterima

15 Agustus 2026
SATP Timika Siapkan Generasi Muda Papua Berdaya Saing Global, Montessori hingga Kurikulum Internasional

SATP Timika Siapkan Generasi Muda Papua Berdaya Saing Global, Montessori hingga Kurikulum Internasional

15 Agustus 2026
Siswi SATP Timika Wakili Papua Tengah ke Tingkat Nasional, Widi Siap Berlaga di Jakarta

Siswi SATP Timika Wakili Papua Tengah ke Tingkat Nasional, Widi Siap Berlaga di Jakarta

15 Agustus 2026
YPMAK Dorong Pokja Tinggalkan Program Padat Karya, Fokus ke Usaha Produktif dan Berkelanjutan

YPMAK Bidik Potensi Kopi Jadi Program Unggulan di Wilayah Pegunungan Mimika 

15 Agustus 2026
Arel Kerja Freeport Kembali Terusik, Satu Karyawan Tewas Ditembak OTK di Area Tambang Grasberg

Willem Assem Sebut Tiga Warga yang Ditembak di Maybrat Bukan OPM, Dua Korbannya Perempuan 

15 Agustus 2026
Kemenkeu Tetapkan Dana Desa 2025 untuk Papua Tengah, Puncak Jaya Terbesar Rp275.517.473.000

Di Hadapan Ratusan Kepala Kampung, Gubernur Meki Nawipa Paparkan Besaran Dana Desa Delapan Kabupaten. Ini Rinciannya

15 Agustus 2026

POPULER

  • Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    897 shares
    Bagikan 359 Tweet 224
  • “Kami Siap Perang” KKB Ingatkan Tidak Boleh Gelar Perayaan HUT RI ke-81 di Kota Wamena

    673 shares
    Bagikan 269 Tweet 168
  • Aksi Gerakan Seribu Rupiah: Dinsos Mimika Minta Rekomendasi, APELCAMI Pertanyakan Dasar Hukumnya 

    589 shares
    Bagikan 236 Tweet 147
  • YPMAK Dorong Pokja Tinggalkan Program Padat Karya, Fokus ke Usaha Produktif dan Berkelanjutan

    561 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • 13 Kantor Pemerintah di Puncak Dirusak dan Dibakar: Komisi II DPR RI  Desak Mendagri segera Turun Tangan 

    551 shares
    Bagikan 220 Tweet 138
  • TPS Liar Dirubah Menjadi Jadi Taman Bunga, RT 04 Wanagon Sulap Titik Kumuh Jadi Ruang Cantik 

    550 shares
    Bagikan 220 Tweet 138
  • Awalnya Sempat Pesimis: Gladys Manuella Aibekob, Wakili Papua Tengah Kibarkan Merah Putih di Istana Negara 

    546 shares
    Bagikan 218 Tweet 137
Next Post
Sambut HUT Ke-81 RI: Warga Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

Sambut HUT Ke-81 RI: Warga Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

Konflik Kwamki Narama: Kubu Dang–Newegalen Sepakat Berdamai, Bupati Mimika: Ini Sejarah Baru di Papua

Tingkatkan Pemahaman OAP, MRP Papua Tengah Sosialisasikan UU Otsus di Kabupaten Puncak

Pemkab Mimika Sambut Kepulangan 116 Jemaah Haji, Satu Jemaah Wafat di Makkah

Pemkab Mimika Sambut Kepulangan 116 Jemaah Haji, Satu Jemaah Wafat di Makkah

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id