TIMIKA, Koranpapua.id– Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Distrik Mimika Baru (Miru), Kabupaten Mimika, tahun ini tidak hanya diwarnai perlombaan.
Pemerintah distrik mengubah perayaan menjadi gerakan kebersihan dengan menargetkan terkumpul 17 ton sampah plastik yang dapat didaur ulang melalui lomba kebersihan antarkelurahan dan lomba tingkat RT.
Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, mengatakan program tersebut lahir dari penyesuaian kegiatan yang sebelumnya dialokasikan untuk perlombaan olahraga.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Inspektorat, Bappeda, dan BPKAD agar kegiatan yang awalnya direncanakan untuk futsal bisa dialihkan menjadi lomba kebersihan tanpa mengubah pagu anggaran,” kata Merlyn Rabu 22 Juli 2026.
Menurut dia, lomba tingkat RT dirancang bukan sekadar mencari pemenang, tetapi membangun kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.
Sampah organik, plastik, dan jenis lainnya diharapkan dipisahkan agar lebih mudah dikelola maupun didaur ulang.
Merlyn menuturkan, jika program tersebut berjalan baik di tingkat RT, konsep serupa akan dikembangkan sebagai proyek percontohan di kawasan Pasar Sentral.
“Kami ingin sebanyak mungkin RT terlibat. Yang penting masyarakat mau memilah sampah dari rumah. Kalau sejak awal tidak tercampur, sebagian besar sampah plastik masih bisa didaur ulang,” ujarnya.
Untuk meningkatkan partisipasi warga, Pemerintah Distrik Mimika Baru menyiapkan hadiah yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Selain uang pembinaan, para pemenang juga akan memperoleh tempat sampah khusus pemilahan dan peralatan kebersihan.
Merlyn optimistis gerakan tersebut mampu menghasilkan dampak nyata terhadap pengurangan sampah plastik di Mimika Baru.
“Target kami pada 17 Agustus nanti adalah terkumpul 17 ton sampah plastik untuk didaur ulang. Kalau boleh gerakan itu tidak berhenti setelah peringatan HUT RI usai,” ujar Merlyn.
Menurutnya, keberhasilan program bukan hanya diukur dari banyaknya sampah yang terkumpul, tetapi juga dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
“Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah sampah dari rumah, itu yang paling penting. Jadi bukan hanya lombanya, tetapi kebiasaan baiknya yang terus berlanjut,” pungkasnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










