ADVERTISEMENT
Sabtu, Agustus 8, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Krisis Pengungsian di Papua Tak Bisa Hanya Dilihat dari Persoalan Keamanan dan Bantuan Kemanusiaan

Anak-anak Papua, menurutnya, berhak memperoleh mutu pendidikan yang sama dengan anak-anak di wilayah lain, meski metode pelayanannya disesuaikan dengan kondisi setempat.

20 Juli 2026
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

JAKARTA, Koranpapua.id- Krisis pengungsian di Tanah Papua tak bisa dilihat hanya sebagai persoalan keamanan dan bantuan kemanusiaan.

Pasalnya, pengungsian berkepanjangan juga berdampak pada pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga stabilitas sosial masyarakat.

ADVERTISEMENT

Hal itu disampaikan Akademisi FISIP Universitas Al Azhar Indonesia, Dr. Heri Herdiawanto, M.Si. dalam Diskusi Publik Kelompok Riset Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI).

Advertisement. Scroll to continue reading.

Diskusi yang berlangsung pekan kemarin di Nuka Mari Kopi, Bogor mengangkat tajuk “Pulang ke Mana?: Membaca Krisis Pengungsian dan Masa Depan Warga Sipil Papua”.

Baca Juga

Pencari Kerja Lokal Mimika Galang Seribu Rupiah, Sindir Lambannya Perda Perlindungan Tenaga Kerja

Hampir 30 Tahun Menjahit Sepatu di Timika, Pa Kumis Bertahan di Tengah Penertiban

Menurutnya, di balik angka pengungsi terdapat anak-anak yang kehilangan sekolah, keluarga yang kehilangan sumber penghidupan.

“Ada juga masyarakat yang terputus dari pelayanan kesehatan dan kehidupan sosialnya,” kata Heri dalam keterangannya seperti dikutip, Senin 20 Juli 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan mendasar dalam pemerataan pembangunan di Papua.

Sebagian masyarakat masih hidup dalam keterisolasian, tertinggal, dan belum memperoleh akses pelayanan publik secara memadai.

“Pembangunan tidak cukup dinilai dari besarnya anggaran atau banyaknya program. Ukurannya adalah apakah masyarakat benar-benar merasa aman, memperoleh pelayanan dasar, dan memiliki kesempatan memperbaiki kehidupannya,” ujarnya.

Heri mengatakan, pemerintah telah memberikan perhatian besar terhadap Papua melalui otonomi khusus, pembangunan infrastruktur, program afirmasi, dan peningkatan pelayanan dasar.

Namun, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Penanganan pengungsi dan percepatan pembangunan membutuhkan keterlibatan banyak pihak melalui model kolaborasi pentahelix.

Model tersebut melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi atau peneliti, media massa, dan masyarakat sipil.

“Pemerintah menjadi pengarah utama kebijakan. Dunia usaha dapat membuka kesempatan ekonomi, akademisi menyediakan riset, media menyampaikan informasi, sedangkan masyarakat sipil membantu memastikan kebutuhan warga teridentifikasi,” jelasnya.

Menurut Heri, pentahelix tak boleh berhenti pada pertemuan seremonial. Kolaborasi harus diwujudkan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga evaluasi program.

“Yang dibutuhkan bukan sekadar banyak pihak duduk dalam satu forum, tetapi pembagian peran yang jelas, data yang sama, dan target yang dapat diukur,” katanya.

Heri juga menyoroti peran media dalam memberitakan persoalan Papua. Ia meminta media menyampaikan informasi secara akurat, berimbang, dan berdasarkan fakta.

Menurutnya, pemberitaan yang tidak terverifikasi dapat memperbesar prasangka, memperkeruh keadaan, dan menutupi persoalan kemanusiaan yang dialami masyarakat.

“Papua jangan hanya diberitakan ketika terjadi kekerasan. Publik juga perlu mengetahui persoalan pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, serta upaya pemerintah dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Media, kata Heri, juga dapat berperan mengawasi pelaksanaan kebijakan, mengangkat praktik pembangunan yang berhasil, dan melawan disinformasi.

“Media harus menjadi jembatan informasi antara Papua dan masyarakat Indonesia lainnya, bukan justru memperlebar jarak,” imbuhnya.

Heri menempatkan pendidikan sebagai aspek paling strategis untuk membangun masa depan Papua.

Pendidikan yang berkualitas dinilai mampu meningkatkan sumber daya manusia, memperkuat kohesi sosial, memperluas partisipasi masyarakat, dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik.

“Ketika anak-anak Papua memperoleh pendidikan yang baik, mereka memiliki kesempatan menjadi guru, tenaga kesehatan, aparatur, pengusaha, peneliti, dan pemimpin di daerahnya sendiri,” kata Heri.

Ia meminta keberlanjutan pendidikan anak-anak di lokasi pengungsian menjadi prioritas. Pemerintah perlu menyediakan layanan pendidikan darurat, guru, perlengkapan belajar, pemenuhan gizi, dan pendampingan psikososial.

Karena menurutnya, terhentinya pendidikan dalam waktu lama dapat memperbesar kesenjangan antara anak-anak Papua dan daerah lain.

“Krisis pengungsian tidak boleh melahirkan generasi yang kehilangan masa depan. Dalam keadaan apa pun, pendidikan harus tetap berjalan,” tegasnya.

Heri menilai sistem pendidikan di Papua tak dapat dikembangkan dengan satu model yang seragam. Kondisi geografis, pola permukiman, budaya, bahasa, dan kebutuhan masyarakat berbeda di setiap wilayah.

Karena itu, pemerintah perlu mengembangkan beberapa pendekatan yang saling melengkapi, mulai dari penguatan sekolah formal, sekolah berasrama, hingga sekolah berbasis adat.

“Sekolah formal perlu diperkuat melalui peningkatan kualitas guru, sarana belajar, kurikulum yang relevan, dan pengawasan pelayanan pendidikan”, tegasnya.

Sementara, menurutnya, sekolah berasrama dapat diterapkan di wilayah dengan permukiman berjauhan dan akses transportasi terbatas.

Namun, pengelolaannya harus menjamin keamanan, kesehatan, kualitas pengasuhan, dan perlindungan anak.

“Sekolah berasrama jangan hanya menyediakan tempat tinggal. Harus ada standar pengasuhan, pembelajaran, gizi, perlindungan anak, dan pendampingan psikologis,” pungkasnya.

Selain itu, sekolah berbasis adat dapat mengintegrasikan pendidikan formal dengan bahasa lokal, sejarah komunitas, pengetahuan lingkungan, budaya, dan keterampilan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat.

“Pendidikan harus membawa kemajuan tanpa mencabut anak-anak Papua dari akar budaya dan identitasnya,” katanya.

Heri menegaskan, tujuan pembangunan pendidikan di Papua bukan hanya meningkatkan jumlah anak yang bersekolah.

Pemerintah juga harus memastikan pemerataan kualitas, ketersediaan guru, keberlanjutan pembelajaran, dan kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan daerah.

Anak-anak Papua, menurutnya, berhak memperoleh mutu pendidikan yang sama dengan anak-anak di wilayah lain, meski metode pelayanannya disesuaikan dengan kondisi setempat.

“Tidak boleh ada anak Indonesia tertinggal hanya karena lahir di wilayah yang jauh dan sulit dijangkau. Negara harus memastikan jarak geografis tidak berubah menjadi kesenjangan kualitas pendidikan,” tegas Heri.

Ia mengatakan, perlindungan pengungsi dan pembangunan masa depan Papua harus dilakukan secara bersamaan.

Bantuan darurat diperlukan untuk menyelamatkan warga, sedangkan pendidikan dan pelayanan publik dibutuhkan untuk memutus rantai ketertinggalan.

“Pengungsi harus dilindungi dan dipulihkan. Namun dalam jangka panjang, masyarakat Papua juga harus memperoleh pendidikan bermutu, pelayanan publik yang adil, dan kesempatan ekonomi yang lebih luas,” tutup Heri. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Pencari Kerja Lokal Mimika Galang Seribu Rupiah, Sindir Lambannya Perda Perlindungan Tenaga Kerja

Pencari Kerja Lokal Mimika Galang Seribu Rupiah, Sindir Lambannya Perda Perlindungan Tenaga Kerja

7 Agustus 2026
Ganja 735 Gram Disembunyikan di Dalam Sepatu, Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman ke Sorong

Ganja 735 Gram Disembunyikan di Dalam Sepatu, Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman ke Sorong

7 Agustus 2026
Hampir 30 Tahun Menjahit Sepatu di Timika, Pa Kumis Bertahan di Tengah Penertiban

Hampir 30 Tahun Menjahit Sepatu di Timika, Pa Kumis Bertahan di Tengah Penertiban

7 Agustus 2026
Lima Kali Tak Berangkat, 22 Calon Jemaah Haji Mimika Terancam Dihapus dari Sistem

Lima Kali Tak Berangkat, 22 Calon Jemaah Haji Mimika Terancam Dihapus dari Sistem

7 Agustus 2026
PN Timika Tunda Eksekusi Sengketa Tanah SP II Demi Keamanan, Putusan Tetap Inkrah

PN Timika Tunda Eksekusi Sengketa Tanah SP II Demi Keamanan, Putusan Tetap Inkrah

7 Agustus 2026
DLH Sibuk Sosialisasi AMDALnet, Sampah Timika Tak Kunjung Teratasi: Kepala Dinas Akui Belum Ada Solusi

DLH Sibuk Sosialisasi AMDALnet, Sampah Timika Tak Kunjung Teratasi: Kepala Dinas Akui Belum Ada Solusi

7 Agustus 2026

POPULER

  • Oknum Polisi Tembak Warga di Timika, Kapolres Ungkap Dugaan Perselingkuhan Jadi Motif

    Oknum Polisi Tembak Warga di Timika, Kapolres Ungkap Dugaan Perselingkuhan Jadi Motif

    662 shares
    Bagikan 265 Tweet 166
  • Pria 37 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Timika, Penyebab Belum Diketahui

    573 shares
    Bagikan 229 Tweet 143
  • Lima Pekerja Proyek Jalan PT SHJ Tewas Ditembak di Tolikara, Satu Korban Belum Dievakuasi

    545 shares
    Bagikan 218 Tweet 136
  • APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

    541 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Polres Mimika Tolak Izin Demo KNPB 3 Agustus, Massa Terancam Ditangkap Jika Memaksa

    537 shares
    Bagikan 215 Tweet 134
  • Pulihkan Pendidikan Wa Banti, Freeport Bangun PAUD dan SD Dua Lantai Beroperasi 2027

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Kecelakaan Tunggal di Jalan Irigasi Timika, Pengendara Kabur Tinggalkan Motor

    535 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
Next Post
Wabup Mimika Soroti Lambatnya Serapan Anggaran, Naik Hanya 2 Persen dalam Sepekan

Wabup Mimika Soroti Lambatnya Serapan Anggaran, Naik Hanya 2 Persen dalam Sepekan

Pangkogabwilhan III Tinjau Evakuasi Puing Pesawat di Balinggama, Satgas Pasgat Pastikan Keamanan Kondusif

Pangkogabwilhan III Tinjau Evakuasi Puing Pesawat di Balinggama, Satgas Pasgat Pastikan Keamanan Kondusif

Wabup Emanuel Beberkan Dua Persoalan Serius di Mimika: Dana Otsus Seret dan Antrean SPBU Tak Kunjung Usai

Wabup Emanuel Beberkan Dua Persoalan Serius di Mimika: Dana Otsus Seret dan Antrean SPBU Tak Kunjung Usai

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id