ADVERTISEMENT
Rabu, Juni 24, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Agustinus Anggaibak dan Yohanes Kemong: Kwamki Lama Harus Jadi Zona Damai, Tidak Boleh Ada Perang Lagi

"Kwamki Lama bukan tempat untuk kita saling membunuh. Pertumpahan darah harus dihentikan. Orang Papua jangan ada yang mati lagi. Cukup sampai hari ini”.

24 Juni 2026
0
Agustinus Anggaibak dan Yohanes Kemong: Kwamki Lama Harus Jadi Zona Damai, Tidak Boleh Ada Perang Lagi

Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah, Agustinus Anggaibak (kiri), Wakil Ketua Komisi I DPR Provinsi Papua Tengah, Yohanes Kemong ( kanan) (foto: Hayun Nuhuyanan/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id- Setelah delapan bulan dilanda konflik yang menalan korban jiwa, dua kelompok keluarga yang bertikai di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, akhirnya sepakat mengakhiri perselisihan.

Perdamaian antara keluarga Dang dan Newegalen ditandai melalui prosesi adat patah panah yang berlangsung di Kampung Amole, Rabu 24 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

Konflik antara kedua kubu sebelumnya telah menyebabkan 17 orang meninggal dunia dari kedua pihak. Selain korban jiwa, bentrokan tersebut juga mengakibatkan puluhan warga mengalami luka-luka.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah, Agustinus Anggaibak, menyampaikan rasa syukur atas berakhirnya pertikaian tersebut.

Baca Juga

Kapolres Mimika: Tidak Ada Lagi Negosiasi Jika Perang Suku Terulang, Pelaku Dikirim ke Nusakambangan

Patah Panah di Kwamki Narama, Dang dan Newegalen Akhiri Konflik Berdarah Setelah Korbankan 17 Jiwa

Ia mengapresiasi kerja keras pemerintah daerah, aparat keamanan, serta para tokoh yang terus berupaya mempertemukan kedua pihak hingga tercapai kesepakatan damai.

“Hari ini kita betul-betul mengangkat hati kepada Tuhan. Apa yang sudah diupayakan pemerintah daerah, aparat keamanan, Kapolres bersama jajarannya, kepala distrik, Danramil, dan Kapolsek merupakan kerja keras yang luar biasa,” kata Agustinus usai prosesi perdamaian.

Menurut dia, proses menuju perdamaian tidak berlangsung singkat. Selama berbulan-bulan, berbagai pihak terus melakukan pendekatan kepada masyarakat di Kwamki Narama agar konflik dapat dihentikan.

Agustinus meminta seluruh masyarakat yang sebelumnya terlibat pertikaian untuk menjaga komitmen damai dan tidak lagi mengulangi konflik yang hanya membawa penderitaan.

“Pemerintah sedang membangun daerah ini. Jangan ada perang lagi. Mari kita sama-sama mendukung pembangunan dan membangun Kwamki Lama,” ujarnya.

Ia menegaskan, Kwamki Lama harus menjadi tempat yang aman bagi masyarakat, bukan wilayah yang terus diwarnai pertumpahan darah.

“Kwamki Lama bukan tempat untuk kita saling membunuh. Pertumpahan darah harus dihentikan. Orang Papua jangan ada yang mati lagi. Cukup sampai hari ini,” tegasnya.

Sebagai pimpinan lembaga kultur masyarakat Papua, Agustinus juga mengingatkan bahwa jika konflik kembali terjadi, penyelesaian harus melalui jalur hukum.

Ia menyatakan dukungan kepada aparat keamanan untuk mengambil langkah tegas apabila ada pihak yang mencoba menghidupkan kembali pertikaian.

“Ini adalah pernyataan terakhir. Kalau masih ada yang melakukan perang, kami mendukung Kapolres untuk menegakkan hukum. Tidak boleh lagi menggunakan hukum rimba,” katanya.

Agustinus berharap kesepakatan damai tersebut menjadi awal baru bagi masyarakat Kwamki Narama.

“Tempat ini harus kita ciptakan menjadi zona damai. Saya tanda tangan atas nama Tuhan dan tanah Amungsa, supaya tempat ini benar-benar damai,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Provinsi Papua Tengah, Yohanes Kemong.

Ia mengatakan, sejak awal konflik terjadi, pihaknya telah ikut mendorong penyelesaian masalah tersebut melalui pendekatan bersama tokoh adat dan masyarakat.

“Hari ini sudah ada pernyataan yang jelas bahwa perang selesai. Tidak boleh ada perang lagi,” kata Yohanes.

Ia menegaskan, apabila konflik kembali terjadi, maka penanganannya akan diserahkan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum.

“Kami dari lembaga Provinsi Papua Tengah, DPR, dan tokoh adat sudah menyatakan sikap. Kalau terjadi lagi, kami serahkan kepada pemerintah dan penegak hukum,” ujarnya.

Sebagai anak Kwamki Narama, Yohanes mengajak seluruh masyarakat untuk meninggalkan konflik dan bersama-sama menjaga keamanan daerah.

“Hari ini saya tanda tangan atas nama leluhur, tokoh adat, tokoh gereja, intelektual, dan sebagai wakil rakyat Papua Tengah bahwa perang di Kwamki Lama tanggal 24 Juni 2026 telah selesai dan berakhir,” katanya.

Melalui prosesi adat patah panah tersebut, kedua keluarga yang bertikai menyatakan komitmen untuk menghentikan permusuhan dan membuka lembaran baru demi kedamaian serta pembangunan di Kwamki Narama. (*)

Penulis: Hayun Nuhuyanan

Editor: Marthen LL Moru

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Kapolres Mimika: Tidak Ada Lagi Negosiasi Jika Perang Suku Terulang, Pelaku Dikirim ke Nusakambangan

Kapolres Mimika: Tidak Ada Lagi Negosiasi Jika Perang Suku Terulang, Pelaku Dikirim ke Nusakambangan

24 Juni 2026
Agustinus Anggaibak dan Yohanes Kemong: Kwamki Lama Harus Jadi Zona Damai, Tidak Boleh Ada Perang Lagi

Agustinus Anggaibak dan Yohanes Kemong: Kwamki Lama Harus Jadi Zona Damai, Tidak Boleh Ada Perang Lagi

24 Juni 2026
Ketika Kebun Rakyat Jadi Lumbung Logistik, Satgas Pasgat Dekai Dukung Ekonomi Warga

Patah Panah di Kwamki Narama, Dang dan Newegalen Akhiri Konflik Berdarah Setelah Korbankan 17 Jiwa

24 Juni 2026
Ketika Kebun Rakyat Jadi Lumbung Logistik, Satgas Pasgat Dekai Dukung Ekonomi Warga

Ketika Kebun Rakyat Jadi Lumbung Logistik, Satgas Pasgat Dekai Dukung Ekonomi Warga

24 Juni 2026
Kenaikan BBM Berdampak Terhadap Harga Semen dan Cat di Timika

Kenaikan BBM Berdampak Terhadap Harga Semen dan Cat di Timika

24 Juni 2026
Manfaatkan Buah Merah Papua sebagai Potensi Lokal, Mahasiswa UNAIR Gagas Alternatif Terapi Radang Sendi

Manfaatkan Buah Merah Papua sebagai Potensi Lokal, Mahasiswa UNAIR Gagas Alternatif Terapi Radang Sendi

24 Juni 2026

POPULER

  • SLB-SMP-SMA/SMK di Papua Tengah Gratis, Hubungi 0812-4154-7765 Jika Ada yang Pungut Biaya

    SLB-SMP-SMA/SMK di Papua Tengah Gratis, Hubungi 0812-4154-7765 Jika Ada yang Pungut Biaya

    659 shares
    Bagikan 264 Tweet 165
  • Komandan Operasi KKB Kodap XVI Yahukimo Dilaporkan Tewas Ditembak Aparat

    571 shares
    Bagikan 228 Tweet 143
  • Ananias Faot: Kadistrik Berwenang Awasi Dana Kampung, Jangan Habis untuk Bayar Utang

    556 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • Kasus Dugaan Korupsi Beras Rp8,9 Miliar, Kejati Papua Tahan Empat Tersangka

    539 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Ledakan yang Tewaskan Tiga Warga Sipil, Koops TNI Habema Tegaskan Tidak Ada Patroli di Danggoa

    522 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
  • 160 ASN Pensiun di Tahun 2026, Pemkab Mimika Usulkan 274 Formasi CPNS

    518 shares
    Bagikan 207 Tweet 130
  • 12 Hari Berjuang, Remaja Putri Akhirnya Meninggal Usai Diduga Dibakar Ibu Kandung

    516 shares
    Bagikan 206 Tweet 129
Next Post
Kapolres Mimika: Tidak Ada Lagi Negosiasi Jika Perang Suku Terulang, Pelaku Dikirim ke Nusakambangan

Kapolres Mimika: Tidak Ada Lagi Negosiasi Jika Perang Suku Terulang, Pelaku Dikirim ke Nusakambangan

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id