TIMIKA, Koranpapua.id– Perjalanan hidup Fitalia Tumuka menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Putri Kamoro kelahiran Timika, 13 Juni 2002 ini berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum (SH) di Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata Semarang dan resmi diwisuda pada 13 Juni 2026.

Fitalia merupakan salah satu penerima beasiswa Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), selaku pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), yang dananya dikelola Yayasan Pendidikan Kamoro Bangkit (YPKB) serta dibina Yayasan Binterbusih Semarang. Beasiswa tersebut mendampingi perjalanan pendidikannya sejak jenjang SMA hingga perguruan tinggi.
Riwayat pendidikannya dimulai di SD YPPK Tiga Raja Timika (2009–2016), kemudian melanjutkan ke SMP YPPK Santo Bernardus Timika (2016–2019).
Setelah lulus SMP, Fitalia memperoleh kesempatan mengikuti seleksi beasiswa YPMAK dan berhasil lolos untuk melanjutkan pendidikan di Jawa.

“Saya mengetahui beasiswa YPMAK pertama kali saat lulus SMP. Waktu itu saya melihat kondisi ekonomi keluarga yang tidak begitu baik. Saya berpikir jika mendapatkan beasiswa, saya bisa membantu meringankan beban orang tua,” ujar Fitalia kepada Koranpapua.id, Selasa 16 Juni 2026.
Berasal dari keluarga dengan sembilan bersaudara, Fitalia merupakan anak kedelapan. Ibunya adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari membantu pekerjaan orang lain, sementara ayahnya telah pensiun sejak beberapa tahun lalu.
Kondisi tersebut menjadi motivasi kuat baginya untuk meraih pendidikan melalui jalur beasiswa.
Meski sempat menghadapi berbagai tantangan dalam proses seleksi, termasuk kondisi kesehatan yang kurang baik saat mengikuti tes, Fitalia berhasil lolos dan berangkat ke Semarang pada 2019 untuk menempuh pendidikan SMA.
Awalnya ia bersekolah di SMA Santo Michael Semarang (2019–2021). Namun karena sekolah tersebut akhirnya ditutup akibat minim peminat, ia dipindahkan ke SMA Sint Louis Semarang dan menyelesaikan pendidikan menengah atasnya pada 2022.
Setelah lulus SMA, Fitalia sempat bercita-cita masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ia mengikuti berbagai persiapan dan bimbingan belajar selama berbulan-bulan, namun belum berhasil lolos seleksi. Kegagalan tersebut justru membawanya pada pilihan baru.
Ia kemudian diterima di Universitas Katolik Soegijapranata Semarang pada Fakultas Hukum.
Selama kuliah, Fitalia aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
Berkat kerja keras dan kedisiplinannya, ia mampu menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun.
“Tanpa terasa proses itu berjalan begitu cepat. Saya bisa beradaptasi dengan baik, membangun relasi dengan banyak teman, dan akhirnya menyelesaikan seluruh proses hingga yudisium dan wisuda,” katanya.
Tidak hanya berprestasi di dalam negeri, Fitalia juga memperoleh kesempatan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Vietnam selama satu bulan lebih.
Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama internasional yang difasilitasi kampus bersama AIESEC.
Menurutnya, Vietnam dipilih karena biaya hidup yang relatif terjangkau dan sesuai dengan tujuan program pengabdian yang berfokus pada pengajaran Bahasa Inggris bagi anak-anak.
“Ini adalah pengalaman pertama saya ke luar negeri. Saya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar sekaligus berbagi pengetahuan,” ujarnya.
Dalam program tersebut, Fitalia mengajar anak-anak taman kanak-kanak dan peserta kursus bahasa Inggris.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Saat ini, ia tengah mempersiapkan diri mengikuti tes IELTS sebagai langkah awal untuk mengejar impian melanjutkan studi magister (S2) di luar negeri.
“Saya ingin bermimpi lebih besar lagi. Jika ada kesempatan, saya ingin melanjutkan S2 di luar negeri karena saya sudah mempersiapkan kemampuan Bahasa Inggris dan ingin terus belajar,” katanya.
Ke depan, Fitalia bercita-cita mendalami bidang hak-hak anak internasional (International Children’s Rights). Ia ingin berkontribusi dalam memperjuangkan hak-hak kelompok rentan, khususnya anak dan perempuan di Papua.
“Saya ingin membangun platform atau website yang dapat merespons kebutuhan anak dan perempuan. Saya berharap bisa membantu mereka yang selama ini belum mendapatkan ruang yang cukup untuk berkembang,” ungkapnya.
Fitalia juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada YPMAK yang telah membuka jalan baginya untuk mengenyam pendidikan dan mengembangkan potensi diri.
“Tanpa YPMAK, saya tidak akan berani bermimpi besar. Saya tidak akan memiliki kesempatan belajar di luar Papua, bertemu banyak orang, bahkan menginjak negara lain. Saya sangat bersyukur karena YPMAK hadir dan membantu mewujudkan mimpi anak-anak Papua,” tuturnya.
Fitalia berharap YPMAK terus hadir memberikan kesempatan kepada generasi muda Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan lainnya untuk meraih pendidikan yang lebih baik.
“Jika ada anak-anak yang memiliki mimpi besar dan kemampuan untuk berkembang, berikan mereka kesempatan. Kesempatan itu bisa mengubah masa depan mereka, seperti yang saya alami,” pungkasnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







