TIMIKA, Koranpapua.id- Satu lagi putra Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang melaksanakan tugas pengabdian sebagai pendidik meninggal di Papua.
Kali ini kabar duka itu datang dari keluarga Mama Mia Fernandez yang berdomisi di Kabupaten Flores Timur.
Putra terkasihnya Polikarpus Lewohala Hayon dikabarkan meninggal dunia di tanah pengabdiannya di Papua Selatan.
Tidak banyak permintaan dan tuntutan terkait dengan peristiwa duka ini, permintaan Mama Mia hanya satu yakni meminta agar putranya bisa dipulangkan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.
“Saya ingin anak saya kembali ke pangkuan saya. Rahim saya yang melahirkan, saya ingin memeluknya untuk terakhir kali sebelum dimakamkan”.
“Tolonglah saya. Bantulah kami supaya anak saya bisa dipulangkan ke Flores Timur,” demikian ungkapan hati Mama Mia seperti dikutip, Rabu 10 Juni 2026.
Bagi Mama Mina dan keluarganya, kehilangan ini bukan sekadar sebuah peristiwa. Ini adalah luka mendalam yang datang begitu tiba-tiba dan meninggalkan duka yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.Ditengah kesedihan mendalam, Mama Mia menuturkan, sebelum mendapatkan kabar duka ini, putranya masih sempat menelepon keluarga.
Dalam obrolan di telepon, Polikarpus seperti biasa bercerita tentang pekerjaan dan menyampaikan keinginannya untuk berlibur dan kembali berkumpul bersama keluarga di Flores Timur.
“Kami berkomunikasi seperti biasa. Anak saya sehat-sehat saja. Tiba-tiba kami mendapat kabar bahwa dia meninggal dunia. Kami benar-benar syok. Saya tidak kuat menerima cobaan ini,” ungkap Mama Mina.
Di tengah suasana duka itu, satu harapan besar terus diperjuangkan untuk membawa pulang Polikarpus ke tanah kelahirannya di Flores Timur.Mereka ingin almarhum dimakamkan di kampung halaman, di tengah keluarga dan orang-orang yang mencintainya.
Namun harapan tersebut tidak mudah diwujudkan karena keterbatasan biaya dan berbagai proses yang harus ditempuh untuk pemulangan jenazah dari Papua Selatan ke Nusa Tenggara Timur.
“Kami dengar berita dia meninggal dalam keadaan tertelungkup. Jadi kami tidak tahu alasan apa. Kami juga tidak tahu kondisinya bagaimana,” kata ibu korban, Mina Fernandez.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada informasi lanjutan mengenai perkembangan peristiwa ini pasca dikabarkan meninggal pada Senin 8 Juni 2026.Apakah almarhum sudah dipulangkan ke Flores Timur, termasuk informasi mengenai penyebab kematian Polikarpus juga belum diketahui secara pasti.
Polikarpus adalah putra Flores Timur yang memilih jalan pengabdian. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Yogyakarta, ia tidak mencari pekerjaan di kota besar.
Ia justru berangkat ke Papua untuk menjadi guru honorer. Di sana, ia mengajar anak-anak di daerah yang jauh dari berbagai fasilitas pendidikan.
Ketekunan dan dedikasinya kemudian mengantarkannya menjadi Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).Sehari-hari, Polikarpus bertugas di SD Negeri Upin, Distrik Minyamur, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua Selatan.
Ia tinggal di Keppi dan dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, serta memiliki semangat besar untuk mendidik anak-anak di wilayah terpencil.
Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup.
Karena itu, kabar kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga. Orang tua, istri, anak, sahabat, rekan guru, hingga masyarakat pendidikan turut merasakan kehilangan.
Seorang guru muda yang sedang mengabdikan dirinya bagi masa depan anak-anak bangsa kini telah pergi untuk selamanya. (Redaksi)










