ADVERTISEMENT
Sabtu, Maret 7, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Hukrim Info Terkini

Lembaga Pendidikan SATP Timika: Fokus Kemandirian dan Karakter, Kembangkan Pembelajaran Montessori

Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang cenderung instruksional dan berorientasi nilai, Montessori di SATP menekankan kemandirian, konsentrasi, serta pembentukan karakter.

17 Februari 2026
0
Lembaga Pendidikan SATP Timika: Fokus Kemandirian dan Karakter, Kembangkan Pembelajaran Montessori

Guru yang menangani tujuh kelas. Setiap kelas terdiri atas 24 hingga 27 siswa dalam program Montessori di SATP Timika. (foto: Hayun Nuhuyanan/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id– Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) di Timika, Kabupaten Mimika merupakan salah satu lembaga pendidikan terpadu yang berbasis asrama.

Lembaga ini mengombenasikan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Berbasis Kehidupan Kontekstual Papua untuk para anak didik yang bersekolah di tempat itu.

ADVERTISEMENT

Saat ini sekolah yang dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), terus melakukan inovasi pendidikan, dengan tetap fokus pada pembinaan karakter, kedisiplinan dan kompetensi global.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika, yang dikelola Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pengelola dana kemitraan PTFI. (foto: Hayun Nuhuyanan/koranpapua.id)

Sejak Juli 2024, SATP secara resmi mulai menerapkan metode Montessori secara penuh untuk siswa kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar (SD).

Baca Juga

Di Tengah Keterbatasan: Satgas Yon Parako 466 Pasgat Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis di Distrik Manggelum

Satu Pelaku Perampasan Senjata di Mile 50 Tembagapura Ditangkap

Program ini menjadi salah satu unggulan sekolah dalam memperkuat fondasi literasi, numerasi, sekaligus pembangunan karakter peserta didik yang seluruhnya merupakan anak asli Papua.

Disesuaikan dengan Karakteristik Anak Papua

Kepala SATP, Sonianto Kuddi, menjelaskan bahwa penerapan metode Montessori bukan keputusan instan.

Sekolah terlebih dahulu melakukan kajian mendalam terhadap karakteristik siswa yang berasal dari wilayah pegunungan dan pesisir Papua.

“Anak-anak yang belajar di SATP 100 persen asli Papua, dengan latar budaya yang khas dan beragam. Mereka memiliki motorik kinestetik yang sangat kuat dan terbiasa aktif di luar ruangan,” jelas Sonianto.

“Hal itu membuat anak-anak tidak bisa terus-menerus berada dalam pembelajaran yang bersifat abstrak dan hafalan,” ujarnya, Senin 16 Februari 2026.

Sonianto menuturkan, metode Montessori dinilai paling sesuai karena menekankan pembelajaran berbasis pengalaman langsung (learning by doing).

Anak-anak tidak sekadar menerima materi, tetapi aktif menggunakan alat peraga (aparatus) untuk memahami konsep secara konkret.

Selain itu, sebagian besar siswa SATP tidak menempuh pendidikan taman kanak-kanak sebelum masuk sekolah dasar.

Kondisi tersebut membuat sekolah yang dipimpinnya perlu menghadirkan pendekatan yang mampu menjembatani kesiapan belajar mereka.

“Dengan Montessori, kelebihan anak-anak bisa difasilitasi. Pembelajaran berpusat pada anak, disesuaikan dengan budaya, latar belakang, dan potensi mereka,” ujarnya.

Materi yang diberikan kepada anak didik juga dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari agar lebih bermakna.

Didukung 14 Guru untuk 7 Kelas

Saat ini, program Montessori di SATP didukung oleh 14 guru yang menangani tujuh kelas. Setiap kelas terdiri atas 24 hingga 27 siswa.

Sebelumnya, Montessori hanya diterapkan sebagai program pendamping di kelas reguler. Namun sejak tahun ajaran ini, metode tersebut diterapkan secara utuh dari pagi hingga siang hari.

Dalam praktiknya, proses belajar dimulai pukul 07.00 WIT. Setelah sesi pembukaan berupa meditasi singkat dan membaca cerita bersama, siswa memasuki kegiatan inti yang berlangsung hingga siang hari.

Empat Bulan Sudah Bisa Baca-Tulis-Hitung

Hasil awal penerapan metode ini mulai terlihat. Ini dapat dilihat pada penampilan siswa kelas 1 tanggal 14 Februari lalu.

Di mana anak-anak yang baru mengikuti program selama empat bulan sudah mampu menunjukkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara konkret.

“Persiapan mereka hanya empat bulan, dan hampir semua sudah bisa baca, tulis, dan hitung secara konkret. Ini menunjukkan metode ini lebih efektif karena sesuai dengan karakteristik mereka,” beber Sonianto.

Kepala Program Montessori SATP, Theodora K. Yanti, menambahkan bahwa penguatan literasi dimulai dari aspek bahasa lisan sebagai bagian dari early childhood education.

“Di Montessori, mereka terlibat langsung dengan lingkungan. Bahasa lisan, menyanyi, bercerita, hingga komunikasi dengan guru dan teman menjadi bagian penting untuk memperkaya kosakata mereka dalam bahasa Indonesia,” jelasnya.

Pembelajaran dilakukan secara praktik

Guru terlebih dahulu memperagakan cara menggunakan suatu alat, kemudian siswa memilih aktivitas yang ingin dikerjakan dan menyelesaikannya secara mandiri hingga tuntas.

Setelah itu, guru memberikan konfirmasi sebelum siswa beralih ke aktivitas lain.

“Semua proses tercatat detail. Kami memiliki chart record perkembangan setiap anak, semacam rekam jejak belajar harian. Penilaian bersifat deskriptif, bukan angka semata,” ungkap Theodora.

Fokus pada Kemandirian dan Karakter

Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang cenderung instruksional dan berorientasi nilai, Montessori di SATP menekankan kemandirian, konsentrasi, serta pembentukan karakter.

Di ruang kelas, siswa diperbolehkan bergerak, berdiskusi, atau bekerja bersama teman, selama tetap mengikuti aturan yang telah disepakati. Suasana kelas tetap tenang dan kondusif.

“Yang paling terlihat perbedaannya adalah mental dan kepercayaan diri anak. Mereka belajar karena ingin dan merasa mampu, bukan karena mengejar nilai. Bahkan tanpa sistem nilai angka, mereka tetap antusias belajar,” ujar Theodora.

Dalam sistem ini, tidak ada standar seragam yang memaksa semua anak mencapai capaian yang sama dalam waktu yang sama.

Siswa yang cepat dapat melaju lebih cepat, sementara yang membutuhkan waktu lebih lama akan tetap didampingi tanpa merasa tertinggal.

“Tidak ada anak yang tertinggal. Setiap anak berjalan sesuai prosesnya. Yang terpenting, mereka benar-benar memahami, bukan sekadar menghafal,” tegasnya.

Ke depan, SATP berharap pendekatan ini dapat terus memperkuat fondasi akademik dan karakter siswa, sekaligus menjadi model pembelajaran yang relevan dengan konteks sosial dan budaya anak-anak Papua. (*)

Penulis: Hayun Nuhuyanan

Editor: Marthen LL Moru

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Di Tengah Keterbatasan: Satgas Yon Parako 466 Pasgat Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis di Distrik Manggelum

Di Tengah Keterbatasan: Satgas Yon Parako 466 Pasgat Berikan Pelayanan Kesehatan Gratis di Distrik Manggelum

6 Maret 2026
Satu Pelaku Perampasan Senjata di Mile 50 Tembagapura Ditangkap

Satu Pelaku Perampasan Senjata di Mile 50 Tembagapura Ditangkap

6 Maret 2026
Dihantam Gelombang Tinggi dan Angin Kencang, KM Jaya Baru Dilaporkan Tenggelam di Muara Poumako

Dihantam Gelombang Tinggi dan Angin Kencang, KM Jaya Baru Dilaporkan Tenggelam di Muara Poumako

6 Maret 2026
Musrenbang Distrik Jita Hasilkan 129 Usulan Program Pembangunan untuk RKPD 2027

Musrenbang Distrik Jita Hasilkan 129 Usulan Program Pembangunan untuk RKPD 2027

6 Maret 2026
Disperkimtan Mimika Kelola Anggaran Rp242 Miliar, Targetkan Pembangunan 343 Rumah Layak Huni

Disperkimtan Mimika Kelola Anggaran Rp242 Miliar, Targetkan Pembangunan 343 Rumah Layak Huni

6 Maret 2026
Kementerian ESDM Tawarkan Eksplorasi 10 Blok Migas, Termasuk yang di Papua

Kementerian ESDM Tawarkan Eksplorasi 10 Blok Migas, Termasuk yang di Papua

6 Maret 2026

POPULER

  • Kondisi Romario Kritis, Keluarga Desak Polisi Sweeping Penjualan Sopi di Kampung Pomako

    Kondisi Romario Kritis, Keluarga Desak Polisi Sweeping Penjualan Sopi di Kampung Pomako

    716 shares
    Bagikan 286 Tweet 179
  • Tiga Personel Polres Mimika Terkena Panah

    572 shares
    Bagikan 229 Tweet 143
  • Agustinus Tutupahar Resmi Dilantik sebagai Anggota PAW KPU Mimika Periode 2024-2029

    546 shares
    Bagikan 218 Tweet 137
  • Awalnya Diduga Bunuh Diri, Polisi Temukan Kejanggalan pada Kasus Kematian Perempuan di Mimika

    543 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
  • Bahas Tapal Batas Wilayah Adat di Kapiraya, Kementerian HAM RI Bertemu Tokoh Kamoro di Timika

    542 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
  • Ini Kronologi Kontak Tembak di Tembagapura, Satu Pelaku Tewas, Enam Diamankan

    532 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
  • Isak Tangis Sambut Kepulangan Jenazah Korban Penembakan di Tembagapura

    529 shares
    Bagikan 212 Tweet 132
Next Post
Polisi Amankan Dua Perempuan Bersama 80 Liter Sopi di Pelabuhan Pomako Timika

Polisi Amankan Dua Perempuan Bersama 80 Liter Sopi di Pelabuhan Pomako Timika

Sambut Ramadhan 1447 H, MUI Mimika Ajak Umat Muslim Perkuat Iman dan Toleransi

Sambut Ramadhan 1447 H, MUI Mimika Ajak Umat Muslim Perkuat Iman dan Toleransi

Papua Darurat Kemanusian: Rumah Solidaritas Papua Tegaskan Sejumlah Rekomendasi untuk Presiden Prabowo

Papua Darurat Kemanusian: Rumah Solidaritas Papua Tegaskan Sejumlah Rekomendasi untuk Presiden Prabowo

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id