TIMIKA, Koranpapua.id– Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Papua Tengah melaporkan kondisi HIV di wilayah tersebut tetap stabil dalam satu dekade terakhir.
Selain itu, penguatan layanan juga dilakukan pada penanganan TBC, stunting, serta kesehatan ibu dan anak.
Reynold Rizal Ubra, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, mengatakan prevalensi HIV di Kabupaten Mimika masih berada di angka 1,02 persen dan tidak mengalami perubahan signifikan selama 10 tahun terakhir.
“Untuk HIV, prevalensi kita masih sangat stabil di angka 1,02 persen selama 10 tahun terakhir, sejalan dengan kepatuhan pengobatan ARV,” ujarnya Senin 2 Februari 2026.
Sementara itu, untuk penyakit TBC, terjadi peningkatan dari sisi deteksi kasus. Namun jumlah kasus masih relatif stabil di kisaran 1.200 hingga 1.300 kasus per tahun.
Tantangan utama saat ini adalah angka kesembuhan yang stagnan di angka 76 persen dalam tiga tahun terakhir.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinkes Mimika akan mempercepat pemeriksaan dengan mendekatkan mesin Tes Cepat Molekuler (TCM) ke wilayah-wilayah terpencil agar pemeriksaan dapat dilakukan langsung di lokasi.
Di sisi lain, angka stunting di Kabupaten Mimika dilaporkan masih berada di bawah rata-rata nasional. Sepanjang 2025, angka stunting berada di kisaran 9,1 hingga 9,2 persen, dengan lebih dari 25 ribu balita telah ditimbang dan diukur.
Dalam rangka memperkuat layanan kesehatan dasar, Dinkes Mimika juga akan mengaktifkan kembali Puskesmas Pembantu (Pustu) untuk mengurangi penumpukan pasien di Puskesmas.
Program ini didukung oleh lebih dari 2.000 tenaga kesehatan, dengan Puskesmas berfungsi sebagai pusat rujukan dan pembinaan tenaga Pustu.
Selain itu, layanan cek kesehatan gratis (medical check-up) terus diperluas. Pada 2025, layanan ini telah dimanfaatkan lebih dari 80 persen dari target 10 ribu orang.
Tahun 2026, layanan tersebut akan dibuka di fasilitas kesehatan swasta, termasuk layanan persalinan, yang biayanya ditanggung oleh pemerintah daerah.
“Intinya supaya kita bisa menekan angka kematian ibu dan anak, karena itu indikator utama indeks pembangunan manusia, terutama usia harapan hidup,” kata Reynold. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










