SINTANG, Koranpapua.id– Prajurit Kepala (Praka) Aprianus, anggota Satuan Yonif 611/Awang Long (AWL), dinyatakan gugur dalam kontak tembak di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan pada Rabu 29 April 2026 lalu.
Seperti diberitakan sebelumnya, Praka Anumerta Aprianus (24 tahun) gugur setelah diserang kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap III Ndugama.
Dalam serangan yang terjadi sekitar pukul 09.55, Praka Aprianus tertembak pada bagian leher dan akhirnya meninggal dunia.
Kedatangan jenazah Praka Aprianus di kampung halamannya Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, disambut oleh jajaran TNI, pemerintah daerah, serta keluarga besar almarhum.
Pada Jumat 1 Mei 2026, Praka Aprianus telah dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Syuhada Pertiwi Sintang.
Dandim 1205/Sintang, Letkol Arm Anggit Wijaksono seperti dilansir dari Penkodim 1205/Sintang, Sabtu 2 Mei 2026 menyebutkan, upacara persemayaman dan pemakaman militer sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Upacara ini akan dipimpin secara militer sesuai dengan tradisi TNI sebagai penghargaan atas jasa dan pengorbanan almarhum selama bertugas.
Anggit mewakili TNI AD menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan.
Ia juga menegaskan bahwa almarhum adalah prajurit yang berdedikasi tinggi dan telah memberikan pengabdian terbaik bagi negara.
“Kepergian almarhum merupakan kehilangan besar bagi TNI dan bangsa Indonesia. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujarnya.
Di balik kabar gugurnya Praka Aprianus di Papua, tersimpan kisah perjuangan seorang anak desa yang memilih jalan hidup sebagai prajurit demi membantu keluarganya.
Aprianus merupakan putra daerah asal Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Ia dikenal sebagai anak bungsu sekaligus satu-satunya laki-laki dalam keluarga.
Pilih TNI demi bantu orangtua Sang ibunda, Agnes, mengaku sempat berharap anaknya tidak menjadi prajurit TNI dan memilih jalan lain yang dinilai lebih aman.
Ia bahkan pernah menyarankan Aprianus untuk melanjutkan pendidikan atau menjadi pastor.
“Pernah saya bilang,’Bang, kau tidak usah jadi tentara. Kuliah saja dulu atau jadi pastor, mau tidak?’,” ujar Agnes, di rumah duka seperti dikutip kompas.com.
Namun, Aprianus memiliki alasan sendiri. Ia ingin segera bekerja agar bisa membantu ekonomi keluarga.
“Dia bilang, ‘Aku tidak mau, Mak. Nanti kalau aku kuliah, kapan aku bisa kasih kalian uang?’,” tutur Agnes.
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan panjang Aprianus hingga akhirnya menjadi prajurit TNI.
Sempat gagal berkali-kali Perjalanan Aprianus tidak mudah. Ia harus menghadapi kegagalan berulang kali sebelum berhasil mengenakan seragam TNI.
Aprianus tercatat dua kali gagal dalam seleksi TNI. Ia juga sempat mencoba jalur kepolisian, namun belum berhasil.
Meskipun demikian, ia tidak menyerah hingga berhasil masuk ke jajaran. Pada percobaan ketiga di tahun 2021, Aprianus akhirnya dinyatakan lolos dan resmi menjadi prajurit TNI.
Bagi keluarga, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.
Terbiasa bantu orangtua di pasar Sebelum menjadi prajurit, Aprianus sudah terbiasa membantu orangtuanya berjualan sayur di pasar.
Kakaknya, Margareta, mengatakan Aprianus dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras dan peduli terhadap keluarga.
“Kadang subuh-subuh dia sudah bangun, antar mama bapak ke pasar, bantu beli sayur. Dia memang anak yang luar biasa,” ujar Margareta.
Kebiasaan itu menunjukkan kedekatan Aprianus dengan keluarga sekaligus tanggung jawabnya sejak usia muda.
Kini, keluarga hanya bisa mengenang sosok Aprianus sebagai anak yang berbakti dan tidak mudah menyerah. (Redaksi)








