TIMIKA, Koranpapua.id– Setelah konflik berkepanjangan yang menewaskan 21 orang dan melukai lebih dari 70 warga, kelompok Dang dan Newegalen di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, mulai membuka jalan menuju perdamaian.
Korban tersebut berasal dari kedua pihak dalam rangkaian bentrokan yang kembali berlangsung sejak Oktober 2025. Selain korban jiwa, puluhan warga mengalami luka akibat terkena panah dan senjata tajam.
Di tengah situasi itu, Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak meminta kedua kelompok benar-benar mengakhiri perang. Ia mensyaratkan seluruh busur, anak panah, dan parang yang masih disimpan diserahkan untuk dimusnahkan.
“Tidak ada lagi patah panah. Semua, baik Dang maupun Newegalen, datang dan serahkan busur, anak panah, parang, baru kita musnahkan semua,” ujar Alredo saat menemui perwakilan kedua kelompok di Kwamki Narama, Sabtu 5 September 2026.
Menurut Alredo, perdamaian bukan sekadar menghentikan bentrokan. Keamanan diperlukan agar pemerintah dapat kembali masuk dan menjalankan program pembangunan di wilayah tersebut.
“Kalau kalian damai nanti pemerintah datang masuk untuk buat program dan kehidupan kalian bisa berubah,” katanya.
Ia juga menegaskan pemerintah tidak memberikan pembayaran kepala dalam proses perdamaian. Dukungan akan diberikan melalui program pembangunan yang ditujukan bagi masyarakat.
Ajakan itu mendapat respons dari kedua kelompok. Perwakilan Dang, Timo Wamang, mengatakan pihaknya siap mengikuti keputusan keluarga korban dan mendukung upaya perdamaian.
“Kita siap ikuti dari pihak korban dan sekarang mereka sudah siap berdamai,” kata Timo.
Perwakilan Newegalen, Weni Kiwak, juga menyatakan perang harus dihentikan. Kesepakatan yang telah dibangun, menurut dia, harus dijaga bersama.
Wakapolres Mimika Kompol Jaihot Limbong mengatakan polisi akan mengawal proses tersebut. Aparat juga akan menertibkan warga yang masih menyimpan alat perang.
“Serahkan semua atau kami akan melakukan razia sampai ke rumah-rumah,” tegas Jaihot.
Konflik Dang dan Newegalen telah berulang kali diupayakan untuk dihentikan. Namun, ketegangan kembali pecah dan menyebabkan korban dari kedua pihak.
Kini, penyerahan senjata menjadi salah satu ujian awal bagi komitmen damai tersebut.
Jika kedua kelompok konsisten menghentikan aksi balasan, masyarakat Kwamki Narama memiliki kesempatan untuk kembali beraktivitas tanpa dibayangi perang. (*)
Penulis Hayun Nuhuyanan & Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru









