TIMIKA, Koranpapua.id– Operasi pencarian terhadap perahu nelayan yang membawa empat orang dan hilang kontak di perairan Atuka hingga Maroha, Kabupaten Mimika, resmi dihentikan.
Penghentian operasi dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Basarnas setelah memasuki hari ketujuh pencarian.
Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Timika, Charles Y. Batlajery, mengatakan penghentian operasi dilakukan sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) Basarnas.
“Karena sudah memasuki hari ketujuh, sesuai SOP Basarnas, maka operasi SAR resmi dihentikan dengan hasil nihil,” kata Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Timika, Charles Y. Batlajery dalam keteranganya, Jumat 3 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pencarian pada hari ketujuh sebenarnya tidak dapat dilaksanakan secara optimal karena kondisi cuaca yang sangat ekstrem.
Hujan deras, angin kencang, serta terbatasnya jarak pandang membuat upaya pencarian, baik secara visual maupun melalui penyisiran di laut, tidak memungkinkan dilakukan.
“Dari pagi hingga malam hari ini, kondisi cuaca memang tidak mendukung untuk melaksanakan pencarian, baik secara visual maupun karena faktor angin dan hujan,” ujarnya.
Meski operasi resmi ditutup, Charles menegaskan Basarnas akan kembali membuka operasi pencarian apabila terdapat informasi baru atau tanda-tanda keberadaan perahu beserta empat nelayan yang hilang tersebut.
Menurut Charles, berdasarkan pengalaman sejumlah operasi SAR sebelumnya, korban yang hilang kontak di wilayah tersebut umumnya hanyut ke perairan antara Timika dan Dobo, tepatnya di Laut Arafura.
Dalam beberapa kasus, korban berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh kapal-kapal nelayan yang sedang beraktivitas di kawasan tersebut.
“Kami turut merasakan apa yang dirasakan keluarga korban. Kami dari Basarnas selalu berharap mereka yang hilang dapat ditemukan dalam keadaan selamat sehingga bisa kembali berkumpul dengan keluarganya,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, sebuah perahu nelayan dengan empat orang di dalamnya dilaporkan hilang kontak setelah berangkat melaut untuk mencari ikan di perairan Atuka, Kabupaten Mimika.
Berdasarkan keterangan keluarga, keempat nelayan tersebut berangkat melaut pada 23 Juni 2026 dan dijadwalkan kembali pada 25 Juni 2026.
Namun, hingga kini mereka belum kembali dan tidak dapat dihubungi, sehingga keluarga melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










