TIMIKA, Koranpapua.id- Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan, Kabupaten Mimika memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.
Hal itu bisa dilihat dari nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Mimika termasuk yang tertinggi di Indonesia.
“PDRB Kabupaten Mimika ini salah satu yang tertinggi di Indonesia. Artinya, peredaran uang yang ada di Kabupaten Mimika ini sangat tinggi,” ujar Johannes dalam sambutannya saat pelantikan pengurus Kadin Mimika di salah satu hotel di Timika, Kamis 25 Juni 2026
Johannes menyebut pertumbuhan ekonomi Mimika mulai menunjukkan pergerakan positif, salah satunya didorong perkembangan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Dari 80 pengusaha UMKM, sampai sekarang sudah 850 UMKM. Kita juga punya produk yang sudah mulai go nasional, bahkan sebentar lagi menjadi go internasional,” katanya.
Ia mengungkapkan sejumlah produk UMKM Mimika bahkan mendapat peluang untuk dipasarkan di luar negeri.
“Kami sekarang ditawarkan untuk menjajakan produk-produk kita di Dubai. Akan ada produk kita, terutama dari UMKM, yang akan dijual di 10 supermarket di Dubai,” ujar Johannes.
Namun, ia menegaskan keberlanjutan pengembangan UMKM dan perluasan pasar menjadi tanggung jawab bersama, termasuk Kadin Mimika.
“Tapi ini tugas siapa? Kita harus Kadin yang jaga. Kami tidak bisa, kami hanya menanamkan dasar,” katanya.
Johannes berharap Kadin dapat mengambil peran strategis dalam memperkuat ekonomi daerah agar Mimika tidak terus bergantung pada sektor tambang.
Dalam kesempatan itu, Bupati Johannes juga mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mimika masih tergolong rendah dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Ketergantungan tinggi terhadap sektor pertambangan menjadi salah satu penyebab utama kondisi tersebut.
“Mimika ini tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi cukup rendah di seluruh Indonesia. Pertumbuhan ekonomi kita di seluruh Indonesia terendah,” kata Johannes.
Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena struktur pendapatan daerah masih sangat bergantung pada sektor pertambangan.
“Mimika sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar, namun pendapatan APBD kita itu sangat tergantung, 80 persen itu ada pada pertambangan. Hanya pada sektor pertambangan,” ujarnya.
“Kalau misalnya kita bisa sampai pada 50-50 persen saja dari sektor-sektor lain, pasti perkembangan ekonomi kita langsung jalan,” katanya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










