JAKARTA, Koranpapua.id- Malaria masih menjadi salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Plasmodium.
Penyakit ini disebarkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Malaria menyerang sel darah merah dan dapat berakibat fatal jika tidak segera diobati.
Meski demikian, penyakit ini bisa disembuhkan dengan penanganan medis yang tepat.
Bagaimana perkembangan malaria di Indonesia? Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan lonjakan signifikan kasus malaria di Indonesia sepanjang tahun 2025.
Data menunjukkan jumlah kasus mencapai 706.297, meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 543.965 kasus.
Dari total jumlah kasus tersebut, wilayah Papua tetap menjadi pusat perhatian utama (episentrum), karena menyumbang hampir seluruh kasus nasional.
Kenaikan angka ini menempatkan Indonesia pada posisi waspada dalam peta jalan eliminasi malaria 2030.
Seperti dikutip media ini, Selasa 2 Juni 2026, berdasarkan laporan resmi Kemenkes, konsentrasi kasus masih sangat tinggi di wilayah timur Indonesia.
Perbandingan data kasus dalam dua tahun terakhir menyebutkan, dari total kasus positif 543.965 (tahun 2024) dan 706.297 (tahun 2025) berarti mengalami kenaikan sebesar 30 persen dengan kontribusi wilayah Papua 90 persen (2024) dan 95 persen (2025).
Plt. Dirjend Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, dr. Andi Saguni, menyatakan kenaikan ini dipengaruhi oleh perbaikan sistem pelaporan melalui Sistem Informasi Surveilans Malaria (SISMAL).
“Peningkatan ini dipicu oleh masifnya upaya penemuan kasus secara aktif di lapangan sehingga data yang masuk jauh lebih akurat,” ujarnya.
Dijelaskan, tanah Papua yang mencakup enam provinsi, menjadi episentrum dengan total sekitar 674.046 kasus, dipicu beberapa faktor.
Di antaranya, kondisi lingkungan sebagai dampak curah hujan yang tinggi dan banyaknya genangan air di kawasan hutan menciptakan habitat sempurna bagi nyamuk Anopheles.
Pemicu lainnya, faktor geografis yakni medan yang sulit membuat jangkauan layanan kesehatan dan distribusi kelambu menjadi lebih mahal dan menantang secara logistik.
Mobilitas penduduk juga menjadi faktor tingginya penderita malaria, pasalnya aktivitas warga di sektor primer seperti perambahan hutan dan pertambangan meningkatkan intensitas kontak dengan vektor penyakit.
Untuk mengejar target eliminasi 2030, Kemenkes memperkuat sinergi lintas sektor, termasuk kolaborasi dengan TNI-Polri dan mitra internasional.
Strategi utama meliputi penguatan surveilans migrasi, distribusi obat antimalaria gratis, serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan kelambu dan menjaga kebersihan lingkungan guna menekan populasi nyamuk. (Redaksi)







