SURAKARTA, Koranpapua.id- Ketimpangan distribusi kasus malaria di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam mencapai target eliminasi pada tahun 2030.
Meski sebagian besar wilayah telah bebas malaria, konsentrasi kasus yang tinggi di Indonesia Timur, khususnya Papua, menjadi persoalan utama yang perlu segera dituntaskan.
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc., mengungkapkan bahwa secara nasional Indonesia telah menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan.
Berdasarkan data terbaru, sekitar 79-80 persen wilayah Indonesia telah mendapatkan status eliminasi malaria hingga pertengahan 2025.
“Kalau dilihat dari datanya, Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat. Tren kasus juga terus menurun dari tahun ke tahun,” ujarnya seperti dilansir dari ARP/Humas UMS, Senin 4 Mei 2026.
Namun, Riandini menekankan bahwa keberhasilan tersebut belum merata. Ia menyebut sekitar 90 persen kasus malaria nasional masih terpusat di wilayah Papua dan sekitarnya, sehingga menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan target nasional.
“Artinya, target Indonesia bebas malaria 2030 sangat bergantung pada intervensi di Papua. Kalau berhasil, dampaknya besar. Tapi kalau tidak optimal, angka kegagalannya juga tinggi,” jelasnya.
Dari sisi data pemeriksaan, ia menyebutkan bahwa dari sekitar 450 ribu orang yang diperiksa, masih ditemukan hampir 60 ribu kasus positif malaria.
Meski angka kematian relatif kecil dibandingkan jumlah yang sembuh, keberadaan kasus ini menunjukkan bahwa penularan masih terus terjadi.
Ia menjelaskan bahwa malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium, dengan salah satu jenis paling berbahaya yaitu Plasmodium falciparum (malaria falciparum) yang dapat memicu komplikasi berat.
“Jenis ini bisa berkembang cepat, bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam dapat menyebabkan komplikasi seperti malaria serebral, anemia berat, hingga kegagalan organ,” paparnya.
Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal malaria. Gejala seperti demam kerap dianggap penyakit biasa, sehingga banyak kasus terlambat terdeteksi.
Padahal, deteksi dini melalui Rapid Diagnostic Test (RDT) sangat penting untuk memastikan diagnosis secara cepat dan akurat.
Selain itu, Riandini menekankan pentingnya ketersediaan terapi yang efektif seperti Artemisinin-based Combination Therapy (ACT).
Terapi kombinasi ini dinilai lebih efektif karena mampu membunuh berbagai jenis parasit sekaligus serta mencegah resistensi obat.
“Kendala di lapangan bukan hanya soal pengetahuan masyarakat, tapi juga akses. Di wilayah terpencil, ketersediaan RDT dan obat ACT sering tidak konsisten, sehingga penanganan menjadi terlambat,” ungkapnya.
Ia menilai roadmap eliminasi malaria nasional sebenarnya sudah on the track. Namun, diperlukan percepatan penurunan kasus secara signifikan, terutama di daerah endemis seperti Papua, agar target zero local transmission pada tahun 2030 dapat tercapai.
Dalam hal ini, penguatan sistem surveilans menjadi kunci. Riandini mendorong penggunaan pendekatan aktif melalui strategi jemput bola.
Serta pemanfaatan teknologi seperti platform digital dan pemetaan geospasial untuk meningkatkan deteksi dini dan pemantauan kasus secara real time.
Ia juga menekankan pentingnya komitmen dan konsistensi dari seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah, dalam memastikan aksesibilitas layanan kesehatan.
“Akses terhadap diagnosis cepat dan pengobatan harus tersedia secara merata dan berkelanjutan, khususnya di wilayah terpencil,” tegasnya.
Sebagai masukan, Riandini menilai perlu adanya penguatan edukasi masyarakat terkait pencegahan dan pengendalian vector.
Termasuk peningkatan kolaborasi lintas sektor dalam penanganan malaria. Menurutnya, peran aktif masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menekan angka penularan.
Sebagai bagian dari kontribusi akademik, UMS terus mendorong riset dan pengabdian masyarakat.
Termasuk pengembangan biolarvasida serta inovasi dan penyusunan buku ajar “Books Chapter mengenai Malaria From Basic to Clinic” di bidang kedokteran tropis.
Upaya ini diharapkan dapat mempercepat eliminasi malaria sekaligus mendukung terwujudnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045. (Redaksi)







