ADVERTISEMENT
Senin, Mei 4, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Hukrim Info Terkini

Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc: Papua Jadi Penentu Target Eliminasi Malaria Tahun 2030

UMS terus mendorong riset dan pengabdian masyarakat serta pengembangan biolarvasida serta inovasi dan penyusunan buku ajar “Books Chapter mengenai Malaria From Basic to Clinic”

4 Mei 2026
0
Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc: Papua Jadi Penentu Target Eliminasi Malaria Tahun 2030

Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc., (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

SURAKARTA, Koranpapua.id- Ketimpangan distribusi kasus malaria di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam mencapai target eliminasi pada tahun 2030.

Meski sebagian besar wilayah telah bebas malaria, konsentrasi kasus yang tinggi di Indonesia Timur, khususnya Papua, menjadi persoalan utama yang perlu segera dituntaskan.

ADVERTISEMENT

Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc., mengungkapkan bahwa secara nasional Indonesia telah menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berdasarkan data terbaru, sekitar 79-80 persen wilayah Indonesia telah mendapatkan status eliminasi malaria hingga pertengahan 2025.

Baca Juga

450 Prajurit Yonif 315/Garuda Dikirim ke Perbatasan RI–Papua Nugini

Gubernur Dominggus Instruksikan Tanggal 7 Mei Seluruh Kepala OPD Harus Berada di Manokwari

“Kalau dilihat dari datanya, Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat. Tren kasus juga terus menurun dari tahun ke tahun,” ujarnya seperti dilansir dari ARP/Humas UMS, Senin 4 Mei 2026.

Namun, Riandini menekankan bahwa keberhasilan tersebut belum merata. Ia menyebut sekitar 90 persen kasus malaria nasional masih terpusat di wilayah Papua dan sekitarnya, sehingga menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan target nasional.

“Artinya, target Indonesia bebas malaria 2030 sangat bergantung pada intervensi di Papua. Kalau berhasil, dampaknya besar. Tapi kalau tidak optimal, angka kegagalannya juga tinggi,” jelasnya.

Dari sisi data pemeriksaan, ia menyebutkan bahwa dari sekitar 450 ribu orang yang diperiksa, masih ditemukan hampir 60 ribu kasus positif malaria.

Meski angka kematian relatif kecil dibandingkan jumlah yang sembuh, keberadaan kasus ini menunjukkan bahwa penularan masih terus terjadi.

Ia menjelaskan bahwa malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium, dengan salah satu jenis paling berbahaya yaitu Plasmodium falciparum (malaria falciparum) yang dapat memicu komplikasi berat.

“Jenis ini bisa berkembang cepat, bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam dapat menyebabkan komplikasi seperti malaria serebral, anemia berat, hingga kegagalan organ,” paparnya.

Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal malaria. Gejala seperti demam kerap dianggap penyakit biasa, sehingga banyak kasus terlambat terdeteksi.

Padahal, deteksi dini melalui Rapid Diagnostic Test (RDT) sangat penting untuk memastikan diagnosis secara cepat dan akurat.

Selain itu, Riandini menekankan pentingnya ketersediaan terapi yang efektif seperti Artemisinin-based Combination Therapy (ACT).

Terapi kombinasi ini dinilai lebih efektif karena mampu membunuh berbagai jenis parasit sekaligus serta mencegah resistensi obat.

“Kendala di lapangan bukan hanya soal pengetahuan masyarakat, tapi juga akses. Di wilayah terpencil, ketersediaan RDT dan obat ACT sering tidak konsisten, sehingga penanganan menjadi terlambat,” ungkapnya.

Ia menilai roadmap eliminasi malaria nasional sebenarnya sudah on the track. Namun, diperlukan percepatan penurunan kasus secara signifikan, terutama di daerah endemis seperti Papua, agar target zero local transmission pada tahun 2030 dapat tercapai.

Dalam hal ini, penguatan sistem surveilans menjadi kunci. Riandini mendorong penggunaan pendekatan aktif melalui strategi jemput bola.

Serta pemanfaatan teknologi seperti platform digital dan pemetaan geospasial untuk meningkatkan deteksi dini dan pemantauan kasus secara real time.

Ia juga menekankan pentingnya komitmen dan konsistensi dari seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah, dalam memastikan aksesibilitas layanan kesehatan.

“Akses terhadap diagnosis cepat dan pengobatan harus tersedia secara merata dan berkelanjutan, khususnya di wilayah terpencil,” tegasnya.

Sebagai masukan, Riandini menilai perlu adanya penguatan edukasi masyarakat terkait pencegahan dan pengendalian vector.

Termasuk peningkatan kolaborasi lintas sektor dalam penanganan malaria. Menurutnya, peran aktif masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menekan angka penularan.

Sebagai bagian dari kontribusi akademik, UMS terus mendorong riset dan pengabdian masyarakat.

Termasuk pengembangan biolarvasida serta inovasi dan penyusunan buku ajar “Books Chapter mengenai Malaria From Basic to Clinic” di bidang kedokteran tropis.

Upaya ini diharapkan dapat mempercepat eliminasi malaria sekaligus mendukung terwujudnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc: Papua Jadi Penentu Target Eliminasi Malaria Tahun 2030

Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc: Papua Jadi Penentu Target Eliminasi Malaria Tahun 2030

4 Mei 2026
450 Prajurit Yonif 315/Garuda Dikirim ke Perbatasan RI–Papua Nugini

450 Prajurit Yonif 315/Garuda Dikirim ke Perbatasan RI–Papua Nugini

4 Mei 2026
Ada 2.741 Pengusaha OAP yang Terdaftar, Gubernur Dominggus Instruksikan OPD Laporkan Paket PL Melalui SIRUP

Gubernur Dominggus Instruksikan Tanggal 7 Mei Seluruh Kepala OPD Harus Berada di Manokwari

4 Mei 2026
Cegah Anemia dan Pantau Status Gizi, Dinkes Mimika Rakor dan Evaluasi Pelayanan Kesehatan Remaja Putri

Cegah Anemia dan Pantau Status Gizi, Dinkes Mimika Rakor dan Evaluasi Pelayanan Kesehatan Remaja Putri

4 Mei 2026
Peringatan WPFD 2026: Wagub Aryoko Sebut Pemprov Dukung Kerja Jurnalistik Aman dan Bebas Intimidasi

Peringatan WPFD 2026: Wagub Aryoko Sebut Pemprov Dukung Kerja Jurnalistik Aman dan Bebas Intimidasi

4 Mei 2026
Bibit Siklon Tropis 92W Terdeteksi di Utara Papua, Berpotensi Terjadi Gelombang Tinggi

Bibit Siklon Tropis 92W Terdeteksi di Utara Papua, Berpotensi Terjadi Gelombang Tinggi

4 Mei 2026

POPULER

  • Tragis! Kecelakaan Motor di Timika Berujung Pembacokan, Dua Nyawa Melayang

    Tragis! Kecelakaan Motor di Timika Berujung Pembacokan, Dua Nyawa Melayang

    662 shares
    Bagikan 265 Tweet 166
  • Praka Aprianus Gugur di Papua: Harapan Ibunya Terkalahkan dengan Niat Bahagiakan Orang Tua

    620 shares
    Bagikan 248 Tweet 155
  • Akses Masuk ke Halaman Gereja Katedral Timika Diperketat, Ini Alasannya

    559 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • MRP-PPT Bukan Bawahan Gubernur, Agustinus: Perlu Perhatikan Etika dan Jangan Saling Menjatuhkan

    553 shares
    Bagikan 221 Tweet 138
  • YLBH Papua Tengah Kecam Oknum TNI Masuk Ruang Privat Pastor Paroki Katedral Timika

    550 shares
    Bagikan 220 Tweet 138
  • “Kau Keluar Kau Aman”, Seorang Pria Ditemukan Tewas di Timika, Tiga Pelaku Diburu

    550 shares
    Bagikan 220 Tweet 138
  • Dari Rp46 Miliar, Hanya Tersisa Rp5 Miliar untuk Operasional Satpol PP Mimika

    546 shares
    Bagikan 218 Tweet 137
Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id