ADVERTISEMENT
Sabtu, September 19, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Hukrim Info Terkini

Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc: Papua Jadi Penentu Target Eliminasi Malaria Tahun 2030

UMS terus mendorong riset dan pengabdian masyarakat serta pengembangan biolarvasida serta inovasi dan penyusunan buku ajar “Books Chapter mengenai Malaria From Basic to Clinic”

4 Mei 2026
0
Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc: Papua Jadi Penentu Target Eliminasi Malaria Tahun 2030

Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc., (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

SURAKARTA, Koranpapua.id- Ketimpangan distribusi kasus malaria di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam mencapai target eliminasi pada tahun 2030.

Meski sebagian besar wilayah telah bebas malaria, konsentrasi kasus yang tinggi di Indonesia Timur, khususnya Papua, menjadi persoalan utama yang perlu segera dituntaskan.

ADVERTISEMENT

Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Riandini Aisyah, S.Si., M.Sc., mengungkapkan bahwa secara nasional Indonesia telah menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berdasarkan data terbaru, sekitar 79-80 persen wilayah Indonesia telah mendapatkan status eliminasi malaria hingga pertengahan 2025.

Baca Juga

Pansus Papua DPD RI Soroti Konflik dan Kemanusiaan, Filep Minta Pemerintah Bertindak Tegas

35 Pemandu Wisata Mimika Ikuti Pelatihan Sertifikasi Berbasis SKKNI

“Kalau dilihat dari datanya, Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat. Tren kasus juga terus menurun dari tahun ke tahun,” ujarnya seperti dilansir dari ARP/Humas UMS, Senin 4 Mei 2026.

Namun, Riandini menekankan bahwa keberhasilan tersebut belum merata. Ia menyebut sekitar 90 persen kasus malaria nasional masih terpusat di wilayah Papua dan sekitarnya, sehingga menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan target nasional.

“Artinya, target Indonesia bebas malaria 2030 sangat bergantung pada intervensi di Papua. Kalau berhasil, dampaknya besar. Tapi kalau tidak optimal, angka kegagalannya juga tinggi,” jelasnya.

Dari sisi data pemeriksaan, ia menyebutkan bahwa dari sekitar 450 ribu orang yang diperiksa, masih ditemukan hampir 60 ribu kasus positif malaria.

Meski angka kematian relatif kecil dibandingkan jumlah yang sembuh, keberadaan kasus ini menunjukkan bahwa penularan masih terus terjadi.

Ia menjelaskan bahwa malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium, dengan salah satu jenis paling berbahaya yaitu Plasmodium falciparum (malaria falciparum) yang dapat memicu komplikasi berat.

“Jenis ini bisa berkembang cepat, bahkan dalam waktu kurang dari 24 jam dapat menyebabkan komplikasi seperti malaria serebral, anemia berat, hingga kegagalan organ,” paparnya.

Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal malaria. Gejala seperti demam kerap dianggap penyakit biasa, sehingga banyak kasus terlambat terdeteksi.

Padahal, deteksi dini melalui Rapid Diagnostic Test (RDT) sangat penting untuk memastikan diagnosis secara cepat dan akurat.

Selain itu, Riandini menekankan pentingnya ketersediaan terapi yang efektif seperti Artemisinin-based Combination Therapy (ACT).

Terapi kombinasi ini dinilai lebih efektif karena mampu membunuh berbagai jenis parasit sekaligus serta mencegah resistensi obat.

“Kendala di lapangan bukan hanya soal pengetahuan masyarakat, tapi juga akses. Di wilayah terpencil, ketersediaan RDT dan obat ACT sering tidak konsisten, sehingga penanganan menjadi terlambat,” ungkapnya.

Ia menilai roadmap eliminasi malaria nasional sebenarnya sudah on the track. Namun, diperlukan percepatan penurunan kasus secara signifikan, terutama di daerah endemis seperti Papua, agar target zero local transmission pada tahun 2030 dapat tercapai.

Dalam hal ini, penguatan sistem surveilans menjadi kunci. Riandini mendorong penggunaan pendekatan aktif melalui strategi jemput bola.

Serta pemanfaatan teknologi seperti platform digital dan pemetaan geospasial untuk meningkatkan deteksi dini dan pemantauan kasus secara real time.

Ia juga menekankan pentingnya komitmen dan konsistensi dari seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah, dalam memastikan aksesibilitas layanan kesehatan.

“Akses terhadap diagnosis cepat dan pengobatan harus tersedia secara merata dan berkelanjutan, khususnya di wilayah terpencil,” tegasnya.

Sebagai masukan, Riandini menilai perlu adanya penguatan edukasi masyarakat terkait pencegahan dan pengendalian vector.

Termasuk peningkatan kolaborasi lintas sektor dalam penanganan malaria. Menurutnya, peran aktif masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menekan angka penularan.

Sebagai bagian dari kontribusi akademik, UMS terus mendorong riset dan pengabdian masyarakat.

Termasuk pengembangan biolarvasida serta inovasi dan penyusunan buku ajar “Books Chapter mengenai Malaria From Basic to Clinic” di bidang kedokteran tropis.

Upaya ini diharapkan dapat mempercepat eliminasi malaria sekaligus mendukung terwujudnya generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Pansus Papua DPD RI Soroti Konflik dan Kemanusiaan, Filep Minta Pemerintah Bertindak Tegas

Pansus Papua DPD RI Soroti Konflik dan Kemanusiaan, Filep Minta Pemerintah Bertindak Tegas

18 September 2026
35 Pemandu Wisata Mimika Ikuti Pelatihan Sertifikasi Berbasis SKKNI

35 Pemandu Wisata Mimika Ikuti Pelatihan Sertifikasi Berbasis SKKNI

18 September 2026
Pasar Mapurujaya Mangkrak Sejak 2023, Pemkab Mimika Ingin Hidupkan Kembali Tahun Ini

Pasar Mapurujaya Mangkrak Sejak 2023, Pemkab Mimika Ingin Hidupkan Kembali Tahun Ini

18 September 2026
Pria Tewas Ditikam di Jalan Poros SP5, Terduga Pelaku Diamankan Polisi

Pria Tewas Ditikam di Jalan Poros SP5, Terduga Pelaku Diamankan Polisi

18 September 2026
309 Ton Beras Bantuan Pangan Disalurkan, Distrik Mimika Baru Kawal hingga ke Penerima

309 Ton Beras Bantuan Pangan Disalurkan, Distrik Mimika Baru Kawal hingga ke Penerima

18 September 2026
Pengurus PKK Iwaka Dikukuhkan, Suzy Rettob Minta Fokus Jawab Kebutuhan Warga

Pengurus PKK Iwaka Dikukuhkan, Suzy Rettob Minta Fokus Jawab Kebutuhan Warga

18 September 2026

POPULER

  • Muhammad Ramadhani Meninggal,Keluarga Palang Jalan

    Muhammad Ramadhani Meninggal,Keluarga Palang Jalan

    624 shares
    Bagikan 250 Tweet 156
  • Penikaman di KM 10 Mimika Diduga Dipicu Rokok, Polisi Buru Pelaku

    559 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • Kronologi Penikaman Ramadhani, Polisi Selidiki Motif

    540 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Kecelakaan Tunggal di Depan Katedral Tiga Raja Timika, Pengendara Motor Tewas

    537 shares
    Bagikan 215 Tweet 134
  • Ketua Lemasa Sem Bukaleng Soroti Eksekusi Tanah SP 2, Minta Mediasi Dibuka Kembali

    524 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
  • Demerina Menangis Saat Hendak Bercerita, Trauma Usai 20 Hari Disandera KKB

    523 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
  • Korban Penyanderaan di Jila Dievakuasi ke Timika, Kapolda: Trauma Masih Terlihat

    522 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
Next Post
Kabupaten di Papua Tengah Wajib Usulkan 10 Program Prioritas untuk Program 2027

Kabupaten di Papua Tengah Wajib Usulkan 10 Program Prioritas untuk Program 2027

PFA Kembali Jaring Talenta Muda Kelahiran 2013 di Enam Provinsi di Tanah Papua

PFA Kembali Jaring Talenta Muda Kelahiran 2013 di Enam Provinsi di Tanah Papua

DPR PPT dan Pemkab Mimika Sepakati Pembukaan Kembali Rute Kapal Perintis ke Jita

DPR PPT dan Pemkab Mimika Sepakati Pembukaan Kembali Rute Kapal Perintis ke Jita

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id