TIMIKA, Koranpapua.id- Kepeting bakau atau sering disebut masyarakat lokal Karaka (Scylla), kini menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Kepeting yang banyak ditemukan di muara sungai dan pesisir pantai Mimika itu, kini menjadi salah satu komoditas eksport yang cukup tinggi ke beberapa negara di Asia Tenggara.
Bayangkan saja dalam kurun waktu Januari-April 2026, tercatat 27 kali kegiatan ekspor dengan total volume 15.735 kilogram (Kg) ke Malaysia dan Singapura.
Dari kegiatan ekspor ke dua negara ini, telah memberikan sumbangan kepada devisa negara lebih dari Rp800 juta.
Kepala Kantor Bea Cukai Timika, Yudi Amirullah, menyebut tingginya permintaan dari dua negara tetangga itu menjadi sinyal kuat daya saing komoditas perikanan Mimika di pasar global.
“Kami senantiasa mendukung ekspor ini melalui pendampingan kepada pelaku usaha, demi peningkatan ekspor daerah dan kontribusi terhadap devisa negara,” ujarnya seperti dikutip, Selasa 21 April 2026.
Dijelaskan, dalam waktu empat pertama di tahun 2026, untuk ekspor ke Malaysia mencapai 9.192 Kg, dengan nilai devisa RM81.640 atau sekitar Rp350 juta.
Sementara ekspor ke Singapura tercatat 6.543 kg dengan nilai SGD35.955 atau sekitar Rp850 juta.
Capaian ini menegaskan karaka Mimika memiliki kualitas yang mampu memenuhi standar pasar ekspor.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif Bea Cukai Timika melalui program Customs Visit Customers (CVC).
Lewat program ini, petugas melakukan kunjungan langsung ke pelaku usaha seperti PT Harapan Nurdiana Jaya dan PT Hokky Laut Perkasa, untuk memberikan asistensi prosedur ekspor sekaligus membantu mengurai kendala teknis di lapangan.
“Kami terus berupaya memberikan asistensi dan kemudahan bagi pelaku usaha agar mampu menembus pasar global,” ujarnya.
Menurutnya, ekspor tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ke depan Bea Cukai Timika berkomitmen memperkuat sinergi dengan para pemangku kepentingan agar lebih banyak komoditas lokal Mimika yang menembus pasar internasional.
Pendampingan berkelanjutan diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi pesisir dan perikanan. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










