ADVERTISEMENT
Kamis, Juni 11, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Prihatin! Eskalasi Kekerasan Senjata Dorong Lonjakan Pengungsi, Kini Tembus 107.000 Orang

“Mereka juga mendesak investigasi independen atas dugaan pelanggaran HAM dan membuka akses bagi jurnalis asing agar situasi Papua tidak terus tertutup dari sorotan dunia”.

22 April 2026
0
Prihatin! Eskalasi Kekerasan Senjata Dorong Lonjakan Pengungsi, Kini Tembus 107.000 Orang

Dewan Gereja Papua (DGP). (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

JAYAPURA, Koranpapua.id- Lonjakan pengungsi sebagai akibat eskalasi kekerasan senjata dan operasi militer terus terjadi sampai di Bulan April 2026.

Dewan Gereja Papua (DGP) mengungkap saat ini terdapat sekitar 107.000 orang Papua hidup di pengungsian, sebagai akibat dari konflik bersenjata yang terus terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Papua.

ADVERTISEMENT

Dalam keterangan pers yang dirilis di Jayapura, Selasa 21 April 2026, DGP menegaskan, lonjakan pengungsian tidak terlepas dari eskalasi kekerasan dan operasi militer yang kian intens di wilayah sipil.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Secara khusus terjadi sepanjang Maret hingga April 2026 di daerah pegunungan, seperti Lanny Jaya, Intan Jaya, Puncak dan Dogiyai.

Baca Juga

Herman Gafur: ASN Wajib Utamakan Pelayanan, Keluhan Harus Disampaikan Berjenjang

Viral Nakes Jalan Kaki 12 Jam ke Banti, Bupati Mimika: Saya Marah, Tidak Ada Maaf

Pdt. Dorman Wandikbo dalam keterangan pers tersebut menyampaikan bahwa, situasi yang saat ini terjadi di Tanah Papua, bukan lagi situasi biasa.

Warga sipil terus menjadi korban, dipaksa meninggalkan rumahnya, kehilangan akses hidup dasar, dan hidup dalam ketakutan berkepanjangan.

Dorman mengatakan, pengungsian massal terjadi di tengah runtuhnya layanan dasar. Pangan terbatas, layanan kesehatan nyaris tidak menjangkau lokasi pengungsian.

Sementara itu perlindungan terhadap warga sipil dinilai sangat minim. Sementara aktivitas militer telah masuk ke ruang-ruang sipil, kampung, gereja, sekolah, hingga pasar, yang seharusnya menjadi tempat aman.

“Ketika ruang ibadah dan sekolah tidak lagi aman, itu tanda krisis sudah sangat serius,” ujarnya.

Situasi memanas kembali setelah operasi militer pada 12-15 April 2026 di distrik Pogama dan Kembru, kabupaten Puncak, Papua Tengah.

Operasi yang melibatkan kekuatan darat dan udara itu dilaporkan menyebabkan korban jiwa dari kalangan warga sipil serta menghancurkan permukiman.

Data korban pun simpang siur akibat minimnya akses informasi dan transparansi. Laporan menyebut korban meninggal antara sembilan hingga 15 orang, dengan 5 hingga 7 orang luka-luka.

Pastor John Bunay secara tegas mengaitkan situasi ini dengan kebijakan negara.

Ia menilai pendekatan pembangunan yang dibarengi pendekatan keamanan, sebagaimana tertuang dalam Instruksi Presiden nomor 9 tahun 2017 dan 2020, justru memperdalam luka sosial masyarakat Papua.

“Pembangunan yang dikawal senjata bukan solusi. Itu justru memperluas ketakutan dan mempercepat krisis kemanusiaan,” katanya.

Pastor Bunay mengingatkan, berbagai kajian, termasuk oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), telah lama mengidentifikasi akar konflik Papua.

Yakni, rasisme, ketimpangan pembangunan, persoalan politik, serta lemahnya akuntabilitas aparat. Tetapi menurutnya, negara belum menunjukkan keseriusan menjadikan dialog damai sebagai jalan utama.

“Yang terjadi justru pendekatan keamanan terus diulang, seolah kekerasan bisa menyelesaikan masalah,” ujar Pastor John seperti dikutip Suarapapua.com.

Dalam sikap resminya, Dewan Gereja Papua menyampaikan tuntutan tegas, yakni penghentian segera operasi militer di wilayah sipil, perlindungan nyata bagi warga, serta pembukaan akses kemanusiaan tanpa hambatan.

Mereka juga mendesak investigasi independen atas dugaan pelanggaran HAM dan membuka akses bagi jurnalis asing agar situasi Papua tidak terus tertutup dari sorotan dunia.

“Papua tidak butuh lebih banyak senjata. Papua butuh keadilan, kemanusiaan, dan dialog yang sungguh-sungguh,” tegasnya. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Herman Gafur: ASN Wajib Utamakan Pelayanan, Keluhan Harus Disampaikan Berjenjang

Herman Gafur: ASN Wajib Utamakan Pelayanan, Keluhan Harus Disampaikan Berjenjang

10 Juni 2026
Viral Nakes Jalan Kaki 12 Jam ke Banti, Bupati Mimika: Saya Marah, Tidak Ada Maaf

Viral Nakes Jalan Kaki 12 Jam ke Banti, Bupati Mimika: Saya Marah, Tidak Ada Maaf

10 Juni 2026
“Johannes Rettob Itu Kepala Daerah, Tidak Mungkin Ikut Memperkeruh Situasi di Kapiraya”, Lemasko Kecewa Pernyataan Sejumlah Pihak

Rekrutmen Honorer Amungme-Kamoro Tidak Boleh Dihentikan, Marianus: Mereka Berhak Bekerja di Tanahnya Sendiri

10 Juni 2026
Membuka Jendela Ilmu: Personil Korpasgat Dampingi Anak‑anak Belajar Membaca di Pedalaman Papua

Membuka Jendela Ilmu: Personil Korpasgat Dampingi Anak‑anak Belajar Membaca di Pedalaman Papua

10 Juni 2026
Pemkab Mimika Siapkan Rekayasa Lalu Lintas, Sejumlah Kapsul di Jalan Utama Ditutup

Pemkab Mimika Siapkan Rekayasa Lalu Lintas, Sejumlah Kapsul di Jalan Utama Ditutup

10 Juni 2026
Resmi Naik, Harga Pertamax Tembus Rp16.650 per Liter

Resmi Naik, Harga Pertamax Tembus Rp16.650 per Liter

10 Juni 2026

POPULER

  • Pembakaran Gedung SD Yapis oleh KKB, Kerugian Mencapai Rp2 Miliar

    Pembakaran Gedung SD Yapis oleh KKB, Kerugian Mencapai Rp2 Miliar

    621 shares
    Bagikan 248 Tweet 155
  • Viral Nakes Jalan Kaki 12 Jam ke Banti, Bupati Mimika: Saya Marah, Tidak Ada Maaf

    546 shares
    Bagikan 218 Tweet 137
  • Pelajar SMP Negeri dan Swasta di Papua Tengah Bebas Biaya Pendidikan, Berlaku Tahun Ini

    883 shares
    Bagikan 353 Tweet 221
  • Skandal Lahan Rp22,5 Miliar di Mimika, Penetapan Tersangka Tinggal Menunggu Waktu

    533 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
  • Aksi Curas di Timika Terekam CCTV, Pelaku Langsung Diamankan Polisi

    532 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
  • Nunggak Pajak Rp17 Miliar, Rekening 36 Warga Papua Diblokir

    526 shares
    Bagikan 210 Tweet 132
  • Freeport Kelola Tailing Bernilai Guna, Anggaran Tembus Rp200–300 Juta Dolar per Tahun

    525 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
Next Post
DPD RI Soroti Dinamika Situasi Keamanan Papua, Yorrys: Jangan Dianggap Remeh

DPD RI Soroti Dinamika Situasi Keamanan Papua, Yorrys: Jangan Dianggap Remeh

Pemkab Mimika Genjot Pemerataan Akses Pendidikan, 2027 Anak Wajib TK Sebelum Masuk SD

SK LMHA Belum Bisa Terbit, Bupati Johannes Rettob: Diperbaiki atau Musda Ulang

Satgas Yon Parako 466 Pasgat Bantu Dinsos Puncak Distribusi Bantuan untuk Pengungsi Sinak

Satgas Yon Parako 466 Pasgat Bantu Dinsos Puncak Distribusi Bantuan untuk Pengungsi Sinak

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id