JAKARTA, Koranpapua.id– Mahalnya harga tiket pesawat untuk tujuan ke sejumlah wilayah di Papua Raya, hingga kini masih menjadi persoalan yang tidak pernah ada solusinya.
Bayangkan saja harga tiket untuk rute Jakarta ke wilayah Papua, secara khusus ke Sorong, Provinsi Papua Barat Daya bisa mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta.
Melihat harga tiket yang tidak terkontrol mendorong Robert J Kardinal, Anggota DPR Dapil Papua Barat Daya, angkat bicara.
Ia mendesak Kementerian Perhubungan segera menerbitkan kebijakan strategis dengan memutus praktik monopoli dan duopoli rute penerbangan, khususnya di kawasan timur Indonesia.
Robert menilai struktur industri penerbangan nasional saat ini tidak sehat karena didominasi dua kelompok besar, yakni Lion Air Group dan Garuda Indonesia Group.
“Kondisi ini membuat harga tiket pesawat sulit turun, terutama untuk rute ke wilayah timur Indonesia,” ujar Robert keterangannya 27 Maret 2026.
Ia mencontohkan rute menuju wilayah Papua yang sebagian besar hanya dilayani oleh maskapai dalam satu grup, seperti Wings Air, Lion Air, dan Super Air Jet.
“Harga tiket menjadi mahal karena tidak ada kompetisi. Mau tidak mau harus beli, meskipun harganya sangat tinggi,” tegasnya.
Meski terlihat banyak pilihan maskapai, sebenarnya pasar hanya dikuasai segelintir kelompok besar sehingga ruang persaingan menjadi sempit.
Robert bahkan mengaku mengalami langsung kondisi tersebut di daerah pemilihannya.
Ia menyebut, penerbangan ke wilayah pedalaman Papua hanya dilayani oleh Susi Air sehingga masyarakat tidak memiliki banyak pilihan.
“Yang masuk ke kampung-kampung di Papua itu hanya satu maskapai. Akhirnya harga tiket jadi tidak terkendali karena tidak ada alternatif,” ujarnya.
Mengatasi masalah tersebut, Robert mendorong pemerintah membuka akses lebih luas bagi maskapai swasta, termasuk dari luar negeri, untuk melayani rute domestik yang belum optimal.
Ia menyebut sejumlah maskapai berbiaya rendah seperti Scoot, Jetstar Airways, AirAsia, dan Firefly bisa menjadi alternatif guna menciptakan persaingan sehat.
Robert juga menyoroti kebijakan avtur yang dinilai masih dimonopoli. Ia mengusulkan agar maskapai diberikan izin untuk mengimpor bahan bakar sendiri guna menekan biaya operasional.
“Kalau avtur saja dimonopoli, bagaimana harga tiket bisa kompetitif? Maskapai harus diberi ruang untuk mencari biaya yang lebih efisien,” jelasnya. (Redaksi)










