JAKARTA, Koranpapua.id- Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Yayasan Cita Wadah Swadaya (YCWS) melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangka sinergitas membangun Papua.
Penadantanganan dilakukan oleh Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan dan Direktur Eksekutif YCWS, Dino Satria di Ruang Rapat Lantai 2 Graha Oikoumene, Jakarta Selasa 3 Maret 2026.
Untuk diketahui, YCWS adalah sebuah NGO yang berdiri pada Agustus 2024. YCWS dibangun di atas warisan yang kaya dan pengalaman puluhan tahun dari Church World Service (CWS) dan telah hadir di Indonesia sejak 1960-an.
YCWS merupakan badan hukum baru yang terdaftar secara lokal yang melanjutkan warisan ini, didukung oleh tim yang berpengalaman dan kemitraan yang kuat di seluruh negeri.
Kepala Biro Papua PGI, Pdt. Ronald R. Tapilatu mengatakan, penandatanganani ini khusus mendukung program-program Biro Papua PGI, terkait pelatihan dukungan psikososial bagi pengerja-pengerja gereja yang melayani di daerah konflik.
“Kegiatan ini akan dilaksanakan di Papua pada bulan April nanti, dan saat ini kita sedang mempersiapkan modulnya,” ujarnya seperti dikutip media ini, Rabu 4 Maret 2026.
Program ini, lanjut Pdt. Ronald Tapilatu, merupakan kegiatan tahap pertama dari tiga kegiatan yang akan dilaksanakan Biro Papua PGI.
“Tahap pertama di Timika. Tapi sebenarnya ada tiga titik yaitu Timika, Wamena dan Sorong. Sorong mewakili Papua Barat Daya, Timiki mewakili Papua Tengah, dan Wamena mewakili Papua Pegunungan,” jelasnya.
Setelah dievaluasi program pertama dinyatakan sukses maka akan lanjut ke wilayah Sorong dan Wamena. “Jadi ditentukan sukses tidaknya program pertama ini,” tandasnya.
Pada kesempatan itu, Ketua Umum PGI, Pdt. Jakclevyn Fritz Manuputty menegaskan bahwa PGI memiliki perhatian yang dalam terhadap persoalan di Papua.
Menurutnya, persoalan Papua memang membutuhkan upaya lebih terhadap meningkatnya eskalasi krisis kemanusiaan maupun lingkungan di daerah tersebut.
“Sebab itu banyak simpul yang harus (coba) didorong untuk bergerak simultan dan menggaungkan masalah Papua. Sebab itu kami berterimakasih untuk kerjasama ini,” ungkap Pdt. Jacky Manuputty.
Disampaikan pula, PGI telah membidani berdirinya HONAI (Humanitarian Outreach to Need Assistance Initiative), yaitu suatu inisiatif bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi internal yang sedang membutuhkan bantuan.
Hal ini merupakan upaya yang dilakukan oleh para pimpinan gereja di Papua untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang sedang terjadi di wilayah konflik Papua.
“HONAI ini merupakan sekretariat bersama bagi gereja-gereja di Papua yang melayani di wilayah konflik,”, tandasnya.
Pdt. Darwin Darmawan juga berkesempatan menyampaikan rasa syukur dan mengapresiasi terlaksananya penandatanganan MoU ini.
“Kami menyampaikan terimakasih karena YCWS mau berjalan bersama PGI dalam merespon sebagian kecil dari persoalan yang ada di Papua. Karena ini program pertama maka perlu dikawal, diperhatian dan dievaluasi dengan baik,” ujarnya. (Redaksi)







