ADVERTISEMENT
Sabtu, Juli 11, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Papua Belum Merdeka Saat Orang Asli Masih Jadi Penonton di Tanah Sendiri

Selama OAP masih hidup dalam ketakutan, masih kesulitan mengakses pendidikan dan kesehatan, dan tidak diberi ruang untuk menjadi tuan di tanah sendiri, maka kemerdekaan itu hanya ilusi.

4 Agustus 2025
0
Papua Belum Merdeka Saat Orang Asli Masih Jadi Penonton di Tanah Sendiri

Gabriel Zezo. (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Oleh: Gabriel Zezo

Pemerhati Sosial, Tinggal di Timika, Papua Tengah

ADVERTISEMENT

SETIAP TAHUN, 17 Agustus dirayakan dengan gegap gempita. Bendera dikibarkan, pidato kemerdekaan disampaikan, dan lagu-lagu Nasional bergema dari kota hingga kampung.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Namun di balik euforia itu, masih tersimpan kenyataan getir, Orang Asli Papua (OAP) belum benar-benar merdeka. Mereka masih menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Baca Juga

Ironi Kota Timika: Spanduk Larangan Hanya Pajangan, Sampah Menumpuk di Jalan Papua I

Hanya Beberapa Menit dari Kota Timika, Kampung Nawaripi Masih Bergelut dengan Banjir dan Jalan Rusak

Merdeka bukan sekadar upacara, bukan pula simbol. Merdeka adalah ketika setiap anak Papua bisa bersekolah tanpa harus menempuh perjalanan berjam-jam.

Merdeka adalah saat tak ada lagi orang tua yang kehilangan anak karena gizi buruk atau minimnya layanan medis.

Merdeka adalah ketika OAP hidup tanpa ketakutan, tanpa tekanan, dan tanpa diskriminasi.

Selama itu belum terjadi, maka kemerdekaan masih jauh dari kenyataan.

Ironisnya, Papua adalah salah satu wilayah terkaya di Indonesia dari sisi sumber daya alam.

Emas, tembaga, kayu, laut, dan kekayaan tambang lainnya mengalir keluar dari bumi Cenderawasih setiap hari menjadi penopang perekonomian nasional.

Freeport, LNG, dan perusahaan besar lainnya beroperasi dengan segala kemegahan, tapi rakyat asli Papua masih hidup dalam kemiskinan.

Mereka yang seharusnya menikmati hasil tanahnya sendiri justru menjadi korban dari eksploitasi dan ketidakadilan struktural.

Sudah puluhan tahun Papua memberi untuk Indonesia.

Namun apa yang kembali ke rakyat Papua? Banyak kampung masih terisolasi tanpa listrik, air bersih, atau akses transportasi.

Pendidikan tertinggal, pelayanan kesehatan terbatas, dan pengangguran di kalangan pemuda Papua terus meningkat.

Di tengah kekayaan alam yang melimpah, OAP justru merasakan pahitnya kemiskinan dan ketertinggalan.

Ini adalah paradoks yang menyakitkan.

Situasi ini bukan sekadar kegagalan pembangunan, tapi juga pengingkaran terhadap hak konstitusional OAP sebagai warga negara.

Negara hadir dengan proyek-proyek besar, tapi absen dalam menjamin keadilan sosial.

Dana otonomi khusus mengalir, tetapi birokrasi yang korup dan sistem yang timpang membuat manfaatnya tidak merata.

Yang kuat terus menguasai, yang lemah terus tersingkir. Papua tidak butuh belas kasihan. Papua menuntut keadilan.

Sudah saatnya negara berhenti melihat Papua sebagai wilayah terjauh yang perlu “ditolong”.

Jika negara masih mengatakan Papua adalah bagian sah dari republik ini, maka OAP berhak menikmati kesejahteraan setara dengan warga di Jakarta, Surabaya, Bandung atau kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Tidak ada lagi alasan untuk membiarkan ketimpangan ini terus berlangsung.

Selama OAP masih hidup dalam ketakutan, masih kesulitan mengakses pendidikan dan kesehatan, dan tidak diberi ruang untuk menjadi tuan di tanah sendiri, maka kemerdekaan itu hanya ilusi.

Merdeka adalah ketika OAP berdiri tegak, hidup layak, dan memiliki kontrol atas kekayaan yang diwariskan leluhurnya.

Indonesia boleh merayakan kemerdekaan setiap tahun, tapi Papua belum. Karena kemerdekaan sejati adalah ketika setiap anak Papua bisa berkata: “Ini tanahku, ini hakku, dan aku ikut menentukan masa depanku.” (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Ironi Kota Timika: Spanduk Larangan Hanya Pajangan, Sampah Menumpuk di Jalan Papua I

Ironi Kota Timika: Spanduk Larangan Hanya Pajangan, Sampah Menumpuk di Jalan Papua I

10 Juli 2026
Hanya Beberapa Menit dari Kota Timika, Kampung Nawaripi Masih Bergelut dengan Banjir dan Jalan Rusak

Hanya Beberapa Menit dari Kota Timika, Kampung Nawaripi Masih Bergelut dengan Banjir dan Jalan Rusak

10 Juli 2026
Jadikan Lumbung Logistik, Satgas Pamtas RI-PNG Yon Parako 462 Borong Hasil Kebun Warga Dekai

Jadikan Lumbung Logistik, Satgas Pamtas RI-PNG Yon Parako 462 Borong Hasil Kebun Warga Dekai

10 Juli 2026
Harapan Mimika ke Istana Terhenti, Nikolaus Timakonama Gugur di Seleksi Akhir Paskibraka Nasional

Harapan Mimika ke Istana Terhenti, Nikolaus Timakonama Gugur di Seleksi Akhir Paskibraka Nasional

10 Juli 2026
Cegah Kesalahan Administrasi, BPKAD Mimika Bekali PPK dan Bendahara OPD Tata Kelola Keuangan

Cegah Kesalahan Administrasi, BPKAD Mimika Bekali PPK dan Bendahara OPD Tata Kelola Keuangan

10 Juli 2026
Padat Karya Rp3 Miliar, Distrik Jita Pasang 100 Lampu Jalan di 10 Kampung

Padat Karya Rp3 Miliar, Distrik Jita Pasang 100 Lampu Jalan di 10 Kampung

10 Juli 2026

POPULER

  • Kombes dr. Rommy Sebastian: Pilot AMA Tewas Akibat Tembakan di Kepala

    Amerika Bereaksi Usai Warga Negaranya Tewas Ditembak Kelompok Bersenjata di Yahukimo

    674 shares
    Bagikan 270 Tweet 169
  • Hasil Seleksi Beasiswa YPMAK Segera Diumumkan, Hanya 15 Peserta yang Lolos ke UPN Veteran Yogyakarta

    591 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • Berkabung Atas Tewasnya Pilot Nicholas: AMA Hentikan Sementara Seluruh Penerbangan di Papua

    561 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • Penembakan Perempuan Hamil di Intan Jaya Harus Diusut Tuntas, Komnas Perempuan: Ini Tragedi Kemanusiaan

    544 shares
    Bagikan 218 Tweet 136
  • Bupati Johannes Rettob Lantik Dwi Cholifah sebagai Kepala Inspektorat, Tunjuk Sejumlah Plt

    543 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
  • Bupati Mimika Kritik Keras Kinerja Pejabat: “Sudah Dikasih Jabatan, Malas Masuk Kantor”

    539 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Panglima TNI Pimpin Kenaikan Pangkat 23 Prajurit di Timika

    517 shares
    Bagikan 207 Tweet 129
Next Post
Pemkab Mimika Buka Beasiswa Kuliah S1 untuk 100 Guru Sekolah Negeri dan Swasta

Pemkab Mimika Buka Beasiswa Kuliah S1 untuk 100 Guru Sekolah Negeri dan Swasta

Abraham Kateyau Resmi Jabat Plt Sekda Mimika Gantikan Petrus Yumte, Bupati Juga Tunjuk Plt Baru di Dua OPD

Abraham Kateyau Resmi Jabat Plt Sekda Mimika Gantikan Petrus Yumte, Bupati Juga Tunjuk Plt Baru di Dua OPD

Sekda Pertama Putra Kamoro, Lemasko Ucapkan Terima Kasih kepada Bupati dan Wabup Mimika,  Ini Adalah Kerinduan Panjang

Sekda Pertama Putra Kamoro, Lemasko Ucapkan Terima Kasih kepada Bupati dan Wabup Mimika,  Ini Adalah Kerinduan Panjang

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id