ADVERTISEMENT
Minggu, Oktober 11, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Kesehatan

30 Persen Penderita Malaria di Mimika adalah Kasus Kambuh, Dr Jeanne: Karena Pasien Minum Obat Tidak Tuntas

Pemerintah juga harus tegas kepada pengusaha galian C untuk menutup kembali lubang bekas galian, karena jika dibiarkan akan menjadi lokasi genangan air dan tempat berkembangbiak jentik nyamuk.

7 Juni 2023
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Timika – Penyakit Malaria merupakan satu dari sembilan isu persoalan kesehatan yang menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Mimika. Ini dikarenakan jumlah penderita merupakan yang terbanyak secara Nasional.

Berbagai program sudah dilakukan sebagai upaya eliminasi malaria secara Nasional tahun 2030, namun belum menunjukan perubahan. Malaria masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Mimika.

Apa yang menjadi faktor penyebabnya, berikut penuturan sejumlah sumber yang terungkap dalam diskusi Forum Kemitraan Mukti Pihak (FKMP) yang berlangsung di Hotel Swiss Belinn, Selasa 6 Juni.

Dr. Jeanne Rini Poespoprodjo, Sp.A.,MSc., Ph.D mengatakan, 30 persen penderita malaria di Kabupaten Mimika merupakan kasus kambu atau berulang yang disebabkan pasien minum obat tidak tuntas.

Baca Juga

Kabut Asap Mimika Memburuk, Sekolah dari Rumah Mulai 12 Oktober

Dinkes Mimika Perkuat Aksi Bergizi untuk Cegah Anemia Remaja

Langkah yang perlu dilakukan untuk menurunkan 30 persen kasus malaria kambuh adalah membuka pojok malaria minum obat di tempat. Melalui langkah ini, pasien yang datang berobat langsung minum obat di tempat, sekaligus diberikan edukasi minum obat sampai tuntas sesuai jam yang ditentukan.

“Nyamuk kalau menggigit orang dengan parasit malaria karena minum obat tidak tuntas maka akan membawa parasit baru kepada orang lain,” ujar Jeanne.

Ia sependapat bahwa pengobatan bukan satu-satunya jalan untuk memberantas malaria.

Karena selama nyamuk masih ada dan tidak dilakukan pembasmian, maka malaria akan tetap ada. Maka salah satu cara memutus penyebarannya adalah nyamuk hilang dan didalam tubuh tidak ada bibit malaria.

Jeanne Rini sepakat faktor kebersihan lingkungan menjadi hal yang paling penting dalam mendukung menurunkan jentik-jentik nyamuk. Selain kurang patuh mengkonsumi obat, masyarakat masih kurang peduli akan kebersihan lingkungan. Tingkat pendidikan masyarakat juga turut mempengaruhi masih tingginya kasus malaria.

Pdt. Anelinda Toroby, kader malaria wilayah kerja Puskesmas Wania, Kelurahan Kamoro Jaya SP1 mengatakan, kebersihan lingkungan juga menjadi salah satu faktor tingginya penderita malaria.

Seperti yang terjadi di wilayah kerjanyanya, sampah-sampah dari kota Timika dibuang ke wilayah Kamoro Jaya SP1. Selain menambah masalah sampah, juga menyebarkan udara kurang sehat dan menjadi sarang nyamuk.

Selama ini masyarakat bersama pihak puskesmas dan pemerintah kelurahan, sudah berupaya melakukan pembersihan tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk. Namun masyarakat sepertinya kurang peduli, dengan tetap membuang sampah tidak pada tempatnya.

Dalam diskusi tersebut ia menyarankan pemerintah bisa mengikuti sistem kerja Pemerintah Kabupaten Biak Numfor. Untuk mendeteksi malaria lebih dini, setiap penumpang yang baru turun dari pesawat atau kapal langsung diambil darah untuk mengecek parasit malaria.

Warga yang hasil testnya positif diarahkan ke tempat khusus yang sudah disiapkan untuk menjalani pengobatan. Setelah sembuh baru dipulangkan ke keluarganya. Dengan langkah ini orang yang baru datang benar-benar dipastikan tidak membawa parasit malaria kepada anggota keluarganya.

Sebagai kader, Anelinda menyampaikan dalam melayani pemeriksaan malaria hanya diberikan alat test cepat atau RDT dengan kuota terbatas untuk tiga orang dalam sehari.

“Kalau periksa lebih terpaksa harus tunggu lagi. Ini yang mengurangi kepercayaan kader. Para kader juga harus diperkenalkan di Puskesmas agar diketahui masyarakat bahwa orang ini siap melayani,” sarannya.

Defota Dumatubun, kader malaria wilayah Mapurujaya yang juga pendamping lokal Kampung Distrik Mimika Timur menyampaikan, selama perilaku masyarakat belum sadar minum obat sampai tuntas, malaria tidak akan berkurang.

Terkadang pasien hanya mengkonsumsi obat satu dua hari dan berhenti setelah badan terasa sehat. Kader terpaksa langsung temui pasien dan memastikan jam minum obat sesuai yang ditentukan.

Namun jumlah dengan pasien yang banyak dan jam minum obat berbeda, menjadi kendala bagi kader. Apalagi honor yang diterima sangat kecil, tidak sebanding dengan beban kerja yang tinggi.

Riki yang juga perserta diskusi mengingatkan kepada semua warga yang tinggal di Mimika untuk sama-sama memberikan kontribusi postif dalam menjaga kebersihan.

Ia menyarankan Pemkab Mimika dan PT Freeport Indonesia bersinergi dan selalu melibatkan masyarakat kampung dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan malaria. Selain itu perlu dipasang pamflet edukasi malaria di pintu masuk kedatangan di Bandara Mozes Kilangin, Pelabuhan Pomako dan di tempat-tempat umum.

Pemerintah juga harus tegas kepada pengusaha galian C untuk menutup kembali lubang bekas galian, karena jika dibiarkan akan menjadi lokasi genangan air dan tempat berkembangbiak jentik nyamuk. (redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

100,8 Liter Sopi Diamankan dari Penumpang KM Tatamailau di Pomako

100,8 Liter Sopi Diamankan dari Penumpang KM Tatamailau di Pomako

10 Oktober 2026
Kabut Asap Mimika Memburuk, Sekolah dari Rumah Mulai 12 Oktober

Kabut Asap Mimika Memburuk, Sekolah dari Rumah Mulai 12 Oktober

10 Oktober 2026
Ganja 160 Gram Tujuan Timika Digagalkan di Bandara Sentani

Ganja 160 Gram Tujuan Timika Digagalkan di Bandara Sentani

10 Oktober 2026
Dinkes Mimika Perkuat Aksi Bergizi untuk Cegah Anemia Remaja

Dinkes Mimika Perkuat Aksi Bergizi untuk Cegah Anemia Remaja

10 Oktober 2026
Dinkes Mimika dorong SMP Negeri Koperapoka Perkuat Pengawasan Kebiasaan Sehat Siswa

Dinkes Mimika dorong SMP Negeri Koperapoka Perkuat Pengawasan Kebiasaan Sehat Siswa

10 Oktober 2026
Satgas Korpasgat Bagikan 100 Buku Tulis kepada Siswa SDN Wagethe

Satgas Korpasgat Bagikan 100 Buku Tulis kepada Siswa SDN Wagethe

9 Oktober 2026

POPULER

  • Anggota Satgas TNI Ditemukan Tewas di Kuala Kencana, Ada Luka Tembak di Dada

    Anggota Satgas TNI Ditemukan Tewas di Kuala Kencana, Ada Luka Tembak di Dada

    770 shares
    Bagikan 308 Tweet 193
  • Kasus Investasi Rp1,7 Miliar di Timika, Kuasa Hukum Desak Penyidik Segera Periksa Korban

    600 shares
    Bagikan 240 Tweet 150
  • Pemkab Mimika Tunjuk Pimpinan Sementara Dinkes dan BPBD

    577 shares
    Bagikan 231 Tweet 144
  • Pemkab Mimika Segera Isi Sejumlah Jabatan Kosong, SK Pejabat Diserahkan

    537 shares
    Bagikan 215 Tweet 134
  • Kabut Asap Mimika Memburuk, Sekolah dari Rumah Mulai 12 Oktober

    492 shares
    Bagikan 197 Tweet 123
  • Warga Kamoro Tidur di Emperan Toko, Kadis Pariwisata: Mereka Datang Tanpa Undangan

    531 shares
    Bagikan 212 Tweet 133
  • Israel Kurnia Burdam Kritis Usai Diduga Dianiaya Berulang di Timika, Keluarga Desak Polisi Bertindak

    527 shares
    Bagikan 211 Tweet 132
Next Post

Persiapkan Tim Bola Usia Dini, Puluhan Guru Olahraga di Mimika Ikut Pemusatan Latihan Daerah

Triwulan Pertama, Penerimaan Negara di Kabupaten Mimika Rp1,20 Triliun

Triwulan Pertama, Penerimaan Negara di Kabupaten Mimika Rp1,20 Triliun

Jacob Toisuta, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Mimika. (Foto: Redaksi/Koranpapua.id)

Stadion Wania Imipi Jadi Pusat Pelatihan Atlet Daerah Usia Dini

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id