ADVERTISEMENT
Rabu, Oktober 21, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Kesehatan

30 Persen Penderita Malaria di Mimika adalah Kasus Kambuh, Dr Jeanne: Karena Pasien Minum Obat Tidak Tuntas

Pemerintah juga harus tegas kepada pengusaha galian C untuk menutup kembali lubang bekas galian, karena jika dibiarkan akan menjadi lokasi genangan air dan tempat berkembangbiak jentik nyamuk.

7 Juni 2023
0
Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Timika – Penyakit Malaria merupakan satu dari sembilan isu persoalan kesehatan yang menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Mimika. Ini dikarenakan jumlah penderita merupakan yang terbanyak secara Nasional.

Berbagai program sudah dilakukan sebagai upaya eliminasi malaria secara Nasional tahun 2030, namun belum menunjukan perubahan. Malaria masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Mimika.

Apa yang menjadi faktor penyebabnya, berikut penuturan sejumlah sumber yang terungkap dalam diskusi Forum Kemitraan Mukti Pihak (FKMP) yang berlangsung di Hotel Swiss Belinn, Selasa 6 Juni.

Dr. Jeanne Rini Poespoprodjo, Sp.A.,MSc., Ph.D mengatakan, 30 persen penderita malaria di Kabupaten Mimika merupakan kasus kambu atau berulang yang disebabkan pasien minum obat tidak tuntas.

Baca Juga

Waspada Kabut Asap Karhutla dan El Niño

Anggota DPR Papua Tengah Nancy Raweyai: Pendidikan Kunci Perubahan di Mimika

Langkah yang perlu dilakukan untuk menurunkan 30 persen kasus malaria kambuh adalah membuka pojok malaria minum obat di tempat. Melalui langkah ini, pasien yang datang berobat langsung minum obat di tempat, sekaligus diberikan edukasi minum obat sampai tuntas sesuai jam yang ditentukan.

“Nyamuk kalau menggigit orang dengan parasit malaria karena minum obat tidak tuntas maka akan membawa parasit baru kepada orang lain,” ujar Jeanne.

Ia sependapat bahwa pengobatan bukan satu-satunya jalan untuk memberantas malaria.

Karena selama nyamuk masih ada dan tidak dilakukan pembasmian, maka malaria akan tetap ada. Maka salah satu cara memutus penyebarannya adalah nyamuk hilang dan didalam tubuh tidak ada bibit malaria.

Jeanne Rini sepakat faktor kebersihan lingkungan menjadi hal yang paling penting dalam mendukung menurunkan jentik-jentik nyamuk. Selain kurang patuh mengkonsumi obat, masyarakat masih kurang peduli akan kebersihan lingkungan. Tingkat pendidikan masyarakat juga turut mempengaruhi masih tingginya kasus malaria.

Pdt. Anelinda Toroby, kader malaria wilayah kerja Puskesmas Wania, Kelurahan Kamoro Jaya SP1 mengatakan, kebersihan lingkungan juga menjadi salah satu faktor tingginya penderita malaria.

Seperti yang terjadi di wilayah kerjanyanya, sampah-sampah dari kota Timika dibuang ke wilayah Kamoro Jaya SP1. Selain menambah masalah sampah, juga menyebarkan udara kurang sehat dan menjadi sarang nyamuk.

Selama ini masyarakat bersama pihak puskesmas dan pemerintah kelurahan, sudah berupaya melakukan pembersihan tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk. Namun masyarakat sepertinya kurang peduli, dengan tetap membuang sampah tidak pada tempatnya.

Dalam diskusi tersebut ia menyarankan pemerintah bisa mengikuti sistem kerja Pemerintah Kabupaten Biak Numfor. Untuk mendeteksi malaria lebih dini, setiap penumpang yang baru turun dari pesawat atau kapal langsung diambil darah untuk mengecek parasit malaria.

Warga yang hasil testnya positif diarahkan ke tempat khusus yang sudah disiapkan untuk menjalani pengobatan. Setelah sembuh baru dipulangkan ke keluarganya. Dengan langkah ini orang yang baru datang benar-benar dipastikan tidak membawa parasit malaria kepada anggota keluarganya.

Sebagai kader, Anelinda menyampaikan dalam melayani pemeriksaan malaria hanya diberikan alat test cepat atau RDT dengan kuota terbatas untuk tiga orang dalam sehari.

“Kalau periksa lebih terpaksa harus tunggu lagi. Ini yang mengurangi kepercayaan kader. Para kader juga harus diperkenalkan di Puskesmas agar diketahui masyarakat bahwa orang ini siap melayani,” sarannya.

Defota Dumatubun, kader malaria wilayah Mapurujaya yang juga pendamping lokal Kampung Distrik Mimika Timur menyampaikan, selama perilaku masyarakat belum sadar minum obat sampai tuntas, malaria tidak akan berkurang.

Terkadang pasien hanya mengkonsumsi obat satu dua hari dan berhenti setelah badan terasa sehat. Kader terpaksa langsung temui pasien dan memastikan jam minum obat sesuai yang ditentukan.

Namun jumlah dengan pasien yang banyak dan jam minum obat berbeda, menjadi kendala bagi kader. Apalagi honor yang diterima sangat kecil, tidak sebanding dengan beban kerja yang tinggi.

Riki yang juga perserta diskusi mengingatkan kepada semua warga yang tinggal di Mimika untuk sama-sama memberikan kontribusi postif dalam menjaga kebersihan.

Ia menyarankan Pemkab Mimika dan PT Freeport Indonesia bersinergi dan selalu melibatkan masyarakat kampung dalam setiap kegiatan yang berhubungan dengan malaria. Selain itu perlu dipasang pamflet edukasi malaria di pintu masuk kedatangan di Bandara Mozes Kilangin, Pelabuhan Pomako dan di tempat-tempat umum.

Pemerintah juga harus tegas kepada pengusaha galian C untuk menutup kembali lubang bekas galian, karena jika dibiarkan akan menjadi lokasi genangan air dan tempat berkembangbiak jentik nyamuk. (redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Waspada Kabut Asap Karhutla dan El Niño

Waspada Kabut Asap Karhutla dan El Niño

20 Oktober 2026
Anggota DPR Papua Tengah Nancy Raweyai: Pendidikan Kunci Perubahan di Mimika

Anggota DPR Papua Tengah Nancy Raweyai: Pendidikan Kunci Perubahan di Mimika

20 Oktober 2026
Bahaya Kabut Asap: Anak dan Lansia Perlu Perlindungan Ekstra

Bahaya Kabut Asap: Anak dan Lansia Perlu Perlindungan Ekstra

20 Oktober 2026
Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman 36 Botol Miras Ilegal ke Oksibil

Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman 36 Botol Miras Ilegal ke Oksibil

20 Oktober 2026
Pemkab Mimika Dorong Perencanaan Kampung Berbasis Kebutuhan Warga

Pemkab Mimika Dorong Perencanaan Kampung Berbasis Kebutuhan Warga

20 Oktober 2026
DPMK Mimika Dorong 133 Kampung Susun Program Prioritas 2027

DPMK Mimika Dorong 133 Kampung Susun Program Prioritas 2027

20 Oktober 2026

POPULER

  • Pastor Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Dasar Kolam Renang Kuala Kencana, Nyawanya Tak Tertolong

    Pastor Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Dasar Kolam Renang Kuala Kencana, Nyawanya Tak Tertolong

    645 shares
    Bagikan 258 Tweet 161
  • Gaji ASN Lewat Kopdes, BPKAD Mimika Tunggu Aturan Resmi

    615 shares
    Bagikan 246 Tweet 154
  • Kepala Puskesmas Atuka Apresiasi Monev Dinkes Mimika, Dorong Perbaikan Layanan

    518 shares
    Bagikan 207 Tweet 130
  • DPMK Mimika Dorong 133 Kampung Susun Program Prioritas 2027

    514 shares
    Bagikan 206 Tweet 129
  • Waspada Influenza! Kenali 8 Gejala dan Cara Mencegahnya

    513 shares
    Bagikan 205 Tweet 128
  • Polisi Amankan 12 Motor Diduga Hasil Curanmor di Mimika, Dua Remaja Ditangkap

    512 shares
    Bagikan 205 Tweet 128
  • Eme Neme Yauware Memanggil: Seruan Mengakhiri Perang Dari Tugu Perdamaian Kota Timika

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
Next Post

Persiapkan Tim Bola Usia Dini, Puluhan Guru Olahraga di Mimika Ikut Pemusatan Latihan Daerah

Triwulan Pertama, Penerimaan Negara di Kabupaten Mimika Rp1,20 Triliun

Triwulan Pertama, Penerimaan Negara di Kabupaten Mimika Rp1,20 Triliun

Jacob Toisuta, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Mimika. (Foto: Redaksi/Koranpapua.id)

Stadion Wania Imipi Jadi Pusat Pelatihan Atlet Daerah Usia Dini

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id