TIMIKA, Koranpapua.id– Harapan warga Kampung Limau Asri Timur (SP5), Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, untuk menikmati layanan air bersih dari proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) senilai Rp3,87 miliar, hingga kini belum juga terwujud.
Empat tahun setelah dibangun, fasilitas tersebut masih terbengkalai dan belum pernah menyalurkan setetes air ke rumah warga, meski sudah dilakukan perbaikan pasca beberapa pipa mengalami kebocoran.
Proyek yang berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mimika itu secara fisik telah rampung.
Instalasi pengolahan air beserta jaringan pipa bahkan sudah tersambung hingga ke rumah-rumah penduduk.
Namun, hingga Kamis 23 Juli 2026 masyarakat belum merasakan manfaat dari proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
Rajab, salah seorang warga SP5 mengatakan kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak bagi warga yang berdomisisi di wilayah itu.
Karena itu masyarakat sangat berharap agar fasilitas yang telah dibangun pemerintah segera difungsikan.
“Kebutuhan air sangat penting bagi warga SP 5. Kami berharap air ini bisa segera mengalir untuk kebutuhan memasak, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari,” keluh Rajab.
“Sampai sekarang kami tidak tahu kendalanya apa, yang jelas instalasi ini sudah lama mangkrak,” lanjut Rajab kepada Koranpapua.id.
Menurutnya, pemerintah perlu segera menyelesaikan persoalan yang menghambat pengoperasian IPA tersebut.
Rajab menilai, jika fasilitas itu telah diserahkan kepada pemerintah kampung, masyarakat siap ikut menjaga dan mengelolanya.
“Kalau memang PU segera menyerahkan pengelolaannya ke kampung, kami siap berpartisipasi. Warga akan memperbaiki sambungan instalasi di rumah masing-masing. Yang penting airnya bisa segera dialirkan,” ujarnya.
Rajab mengaku persoalan tersebut berulang kali disampaikan dalam rapat kampung. Namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai tindak lanjut maupun waktu pengoperasian instalasi air bersih tersebut.
Ia juga mengingatkan, semakin lama fasilitas itu tidak digunakan, semakin besar risiko kerusakan pada jaringan pipa yang telah terpasang.
“Saya lihat beberapa bagian instalasi sudah mulai rusak karena terlalu lama tidak dipakai. Yang kami harapkan sekarang hanya langkah nyata dari pemerintah, terutama PUPR, agar segera menyelesaikan proses penyerahan dan mengoperasikan fasilitas ini,” katanya.
Menurutnya, warga tidak keberatan apabila nantinya diterapkan iuran bulanan untuk biaya operasional setelah layanan air bersih berjalan.
Sebab, kebutuhan air bersih di wilayah tersebut sangat mendesak, terutama untuk rumah tangga, sekolah, dan Puskesmas.
“Kalau nanti ada iuran per bulan, masyarakat pasti siap karena air bersih memang sangat dibutuhkan. Yang penting airnya mengalir dulu. Selama ini kualitas air di SP 5 kurang baik, padahal sekolah, Puskesmas, dan warga semua membutuhkan air bersih,” tuturnya.
Hingga berita ini diterbitkan, fasilitas IPA tersebut masih belum beroperasi dan belum ada kepastian kapan air bersih akan mulai dialirkan kepada masyarakat.
Kondisi itu membuat proyek bernilai Rp3,87 miliar yang dibangun menggunakan anggaran daerah belum memberikan manfaat nyata bagi warga.
Bagi masyarakat Limau Asri Timur, persoalan ini bukan lagi sekadar proyek yang belum selesai, melainkan kebutuhan dasar yang terus tertunda.
Di tengah instalasi dan jaringan pipa yang telah terpasang hingga ke rumah-rumah, warga masih harus bertahan dengan sumber air yang kualitasnya terbatas, sementara aset pemerintah yang dibangun dengan biaya miliaran rupiah terus menua tanpa pernah difungsikan.
Situasi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Mimika, khususnya Dinas PUPR, untuk segera menjelaskan penyebab mandeknya proyek tersebut.
Termasuk memastikan fasilitas yang telah dibangun tidak berakhir sebagai aset mangkrak yang menghabiskan anggaran tanpa memberikan pelayanan kepada masyarakat. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










