TIMIKA, Koranpapua.id- Peristiwa kebakaran yang menghanguskan gedung Gereja Katolik Stasi Fransiskus di Kampung Poumako, Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, diduga disebabkan oleh lilin yang lupa dipadamkan.
Pada insiden yang terjadi pada Rabu 27 Mei 2026 sekitar pukul 19.00 WIT, mengakibatkan seluruh bangunan yang sebagian besar bermaterial kayu dan papan ludes terbakar hingga rata dengan tanah.
Kerugian materil ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Tidak ada satu pun barang berharga di dalam gereja yang berhasil diselamatkan.
Seluruh fasilitas penting penunjang ibadah umat Katolik hangus tak tersisa. Mulai dari meja altar, kursi jemaat, buku lagu rohani, buku doa, hingga berbagai perlengkapan liturgi suci hangus menjadi debu.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Laut Poumako, Iptu Fits Gerald Marselino Nanlohy, megatakan pihaknya telah mendapatkan informasi dari sejumlah saksi terkait peristiwa kebakaran itu.
Menurutnya, api diduga berasal dari lilin yang lupa dipadamkan sebelum pengurus dan jemaat meninggalkan gereja setelah melaksanakan ibadah.
“Sebelum kebakaran ada ibadah gereja memakai lilin. Setelah itu, seluruh jemaat dan pengurus gereja pulang dan lupa memadamkan lilin dan akhirnya meleleh sehingga terjadi kebakaran,” ujar Fits seperti dilansir, Jumat 29 Mei 2029.
Iptu Fits menegaskan, setelah mendalami peristiwa tersebut dan hasil penyelidikan sementara, kebakaran ini murni disebabkan oleh faktor kelalaian dan bukan karena unsur kesengajaan pihak tertentu.
Kasi Humas Polres Mimika, Iptu Hempy Ona, juga mengatakan hal yang sama terkait penyebab kebakaran tersebut.
Menurut Hempy, saksi mata di lapangan menyebutkan kepulan asap tebal mulai terlihat keluar dari dalam gereja sekitar pukul 18.58 WIT.
Kondisi cuaca yang gelap dan tiupan angin kencang membuat kobaran api cepat menyebar dan menyebar ke seluruh bangunan gereja.
Melihat kobaran api yang mulai membesar dari bagian atap dan dinding samping, saksi mata langsung berteriak meminta pertolongan warga sekitar.
Warga pun berbondong-bondong datang membawa ember berisi air untuk memadamkan api dengan peralatan seadanya secara manual.
Namun, upaya penyelamatan rumah ibadah tersebut menemui jalan buntu lantaran terkendala kondisi air laut yang sedang surut sehingga akses pengambilan air sangat terbatas.
Meski bangunan beserta isinya hangus tidak tersisa, dipastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Mobil Damkar Dilempari dan Diusir Massa
Masyarakat yang merasa kecewa karena mobil Kebakaran (Damkar) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mimika terlambat tiba di lokasi, sempat tersulut emosi sehingga melakukan aksi penghadangan dan pelemparan batu.
Jarak yang terlampau jauh antara pos pemadam dengan lokasi kebakaran mengakibatkan gedung gereja tidak sempat diselamatkan.
Kepala BPBD Mimika, Agustina Rehaded, membenarkan adanya insiden penghadangan tersebut yang menyebabkan salah satu unit mobil pemadam mengalami kerusakan.
“Kami terima laporan pukul 19.14 WIT dan langsungkerahkan tiga armada. Namun karena jaraknya cukup jauh jadi saat saat armada tiba, gerejanya sudah hangus,” ungkap Agustina.
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







