TIMIKA, Koranpapua.id- Uskup Keuskupan Timika Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA mengatakan, diskusi dan pertukaran ide yang dikemas dalam lokakarya sudah dilakukan.
Saat ini yang perlu dilakukan adalah bersinergi nyata demi masa depan anak-anak Papua.
Hal itu disampaikan Uskup Bernardus ketika menutup Lokakarya ‘Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua’ yang berlangsung selama tiga hari (14,15 dan 16 April 2026) di Aula Bobaigo, Keuskupan Timika.
Secara khusus dalam lokakarya itu, juga dalam rangka memperkuat kiprah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) di Provinsi Papua Tengah melalui kolaborasi jaringan yang lebih luas.
Uskup mengatakan, tiga hari berdiskusi telah menghasilkan sebuah komitmen besar, yakni sinergi konkret untuk pendidikan Papua Tengah.
Pemimpin umat Katolik di Keuskupan Timika ini bahkan menyampaikan rasa optimisme yang besar terhadap masa depan pendidikan di wilayah itu.
Menurutnya, lokakarya ini adalah sebuah wadah untuk menyatukan visi antara gereja, pemerintah, dan pihak swasta.
Karenanya Uskup Bernardus menekankan bahwa identifikasi persoalan pendidikan di lapangan sudah dilakukan secara mendalam selama kegiatan berlangsung.
Sekarang, tugas berat berikutnya adalah memastikan langkah-langkah solusi tersebut dijalankan bersama.
“Kita telah menerima banyak masukan dan sharing ide yang sangat kaya selama tiga hari ini. Tantangan pendidikan sudah kita identifikasi,” ujar Uskup.
“Kini saatnya kita bersinergi agar api semangat ini tetap menyala dan menghasilkan buah yang berlimpah bagi kemajuan pendidikan di Keuskupan Timika,” pesannya.
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Dalam kesempatan tersebut, Uskup menyampaikan apresiasi kepada para mitra yang telah menyokong penuh keberlangsungan kegiatan tersebut.
Di antaranya Pemda Mimika yang telah memberikan dukungan dana Rp1 miliar untuk mensukseskan kegiatan itu, PT Freeport Indonesia atas akomodasi, mulai dari konsumsi, hotel dan penerbangan.
Termasuk tim ahli yang telah merumuskan langkah strategis ke depan, serta kepada Romo Sudri (J Sudrijanta SJ) dan seluruh jajaran panitia yang bekerja keras di balik layer.
Tidak hanya diikuti oleh peserta yang hadir secara fisik di acara, lokakarya ini juga diikuti secara antusias oleh para pastor dan guru melalui kanal online.
Uskup Bernardus berharap agar kolaborasi antara Keuskupan, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan PT Freeport Indonesia dapat segera diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Harapan saya, pertemuan ini melahirkan langkah konkret. Kita ingin wajah Keuskupan Timika lebih ceria ke depannya, di mana anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang lebih baik,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya lokakarya ini, diharapkan YPPK dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dapat berlari lebih kencang dalam mencerdaskan generasi emas Papua.
“Kami berharap lokakarya ini menjadi langkah awal dari komitmen bersama untuk membangun kembali pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas,” kata Romo J Sudrijanta SJ, ketua Panitia Lokakarya.
Serta berakar pada nilai-nilai iman, serta relevan dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Papua saat ini.
Lokakarya dengan tema “Membangun Kembali Pendidikan Katolik di Tanah Papua: Menemukan Terobosan di Tengah Krisis”, dihadiri oleh sekitar 120 peserta yang mengikuti secara luring.
Mereka terdiri dari para pastor paroki di Keuskupan Timika, pengurus YPPK Tillemans se-Tanah Papua, pimpinan tarekat religius, serta lembaga- lembaga mitra. (Redaksi)







