TIMIKA, Koranpapua.id – Setelah hampir delapan tahun kehilangan tempat belajar akibat konflik keamanan, anak-anak di Kampung Banti dan sekitarnya, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mulai mendapat secercah harapan.
Pemerintah Distrik Tembagapura menargetkan kegiatan belajar mengajar di wilayah tersebut dapat kembali berjalan pada tahun ajaran 2027/2028, setelah pembangunan gedung TK dan SD Banti yang dikerjakan oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) rampung.
Kepala Distrik Tembagapura, Dev Richard Tatiratu, mengatakan pembangunan gedung sekolah baru itu menjadi langkah penting untuk mengembalikan akses pendidikan bagi anak-anak Banti, Opitawak, Kimbeli dan kampung-kampung di sekitarnya.
“Besar harapan kami gedung sekolah yang cukup bagus, dilengkapi fasilitas taman bermain, bisa segera rampung sehingga mulai digunakan pada tahun ajaran 2027. Sudah beberapa tahun ini anak-anak sekolah di Banti dan sekitarnya tidak memiliki gedung sekolah,” ujar Dev di Timika, Sabtu 9 Agustus 2026.
Gedung tersebut dibangun di lokasi bekas SD Negeri Banti yang dibakar dalam aksi kelompok bersenjata pada Maret 2018. Sejak peristiwa itu, aktivitas pendidikan di Banti dan sejumlah kampung di sekitarnya praktis terhenti.
Delapan tahun tanpa sekolah menjadi masa panjang yang harus dilalui anak-anak di wilayah tersebut.
Dev mengakui, kondisi itu menjadi persoalan serius karena anak-anak harus kehilangan ruang belajar di kampung mereka sendiri.
Namun, di tengah keterbatasan tersebut, muncul upaya dari jajaran Polsek Tembagapura.
Kapolsek Tembagapura, Iptu Firman bersama anggotanya, membuka sebuah honai di lingkungan Polsek untuk dijadikan tempat belajar sementara bagi anak-anak dari kampung sekitar.
“Awalnya hanya tiga anak yang ikut. Sekarang sudah lebih dari 60 anak setiap hari belajar di honai Polsek Tembagapura. Mereka datang dari Banti, Kimbeli dan sekitarnya. Siang hari mereka kembali ke rumah,” kata Dev, yang baru sekitar empat bulan menjabat sebagai Kepala Distrik Tembagapura.
Menurut Dev, perkembangan jumlah anak yang mengikuti kegiatan belajar di honai tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas pendidikan yang layak.
Dari Tiga Anak, Kini Lebih dari 60 Anak
Pemerintah Distrik Tembagapura pun mengapresiasi langkah jajaran Polsek yang telah membuka ruang belajar darurat tersebut sembari menunggu pembangunan sekolah permanen selesai.
Harapan baru juga mulai terlihat setelah sekitar sebulan lalu Sekretaris Dinas Pendidikan Mimika bersama sejumlah guru berkunjung ke Banti II.
Para guru tersebut dipersiapkan untuk kembali menjalankan tugas pendidikan di wilayah tersebut.
Tidak hanya gedung sekolah, sejumlah rumah guru yang selama ini rusak dan terbengkalai juga tengah direnovasi oleh PTFI.
Rumah-rumah tersebut sebelumnya ditinggalkan para guru ketika situasi keamanan di wilayah Banti memburuk sekitar 2018.
“Teman-teman dari Dinas Pendidikan juga sudah melihat gedung PAUD yang ada di Banti. Untuk sementara, gedung itu bisa digunakan untuk aktivitas belajar-mengajar sambil menunggu gedung sekolah baru selesai dibangun,” jelas Dev.
Setelah pembangunan selesai, gedung sekolah tersebut nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Mimika untuk kembali menyelenggarakan pendidikan secara resmi di Banti.
Bagi masyarakat Banti, pembangunan sekolah ini bukan sekadar pembangunan fisik. Kehadiran sekolah menjadi simbol bahwa anak-anak yang selama bertahun-tahun kehilangan hak atas ruang belajar kini memiliki kesempatan untuk kembali mengejar pendidikan di tanah kelahiran mereka sendiri.
Kampung Banti dan sejumlah kampung di sekitarnya merupakan wilayah permukiman masyarakat Suku Amungme yang berada dekat dengan kawasan aktivitas pertambangan PTFI.
Pada 2018, ketika kelompok bersenjata menguasai wilayah tersebut, ribuan warga dari Banti, Opitawak, Kimbeli dan kampung sekitarnya terpaksa mengungsi ke Timika.
Setelah situasi keamanan mulai pulih, sebagian warga kembali ke kampung halaman sekitar 2021.
Perlahan Fasilitas Publik Kembali Dibangun
Selain sekolah yang sedang dikerjakan PTFI, di Banti II juga telah berdiri rumah sakit permanen yang dibangun Dinas Kesehatan Mimika untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Gedung sekolah baru yang dibangun PTFI tersebut berada tepat di samping rumah sakit.
Jika pembangunan berjalan sesuai harapan, maka tahun ajaran 2027/2028 dapat menjadi titik balik bagi anak-anak Banti setelah bertahun-tahun belajar tanpa sekolah, mereka akhirnya diharapkan kembali memasuki ruang kelas di kampung sendiri. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru








