ADVERTISEMENT
Kamis, September 17, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Ekonomi

Hampir 30 Tahun Menjahit Sepatu di Timika, Pa Kumis Bertahan di Tengah Penertiban

Meski menghadapi berbagai tantangan, Pa Kumis tetap memilih bertahan. Baginya, menjahit sepatu telah menjadi bagian dari hidupnya sekaligus jalan untuk menghidupi keluarga.

7 Agustus 2026
0
Hampir 30 Tahun Menjahit Sepatu di Timika, Pa Kumis Bertahan di Tengah Penertiban

Pa Kumis, penjahit sepatu di kawasan SP2 Timika. (foto: Hayun Nuhuyanan/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id– Hampir 30 tahun berlalu, tetapi jarum dan benang masih menjadi bagian dari hidup Pa Kumis. Di bawah payung sederhana di sudut kawasan SP2, Distrik Mimika Baru, pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu tetap tekun menjahit sepatu dan sandal pelanggan secara manual demi menyambung kehidupan.

Bagi Pa Kumis, pekerjaan tersebut bukan sekadar mata pencaharian. Setiap jahitan menjadi bagian dari perjalanan panjang hidupnya sejak meninggalkan Timor-Timur (kini Timor Leste) pada 1998 dan memulai kehidupan baru di Timika.

ADVERTISEMENT

Ia mengaku memilih meninggalkan Timor-Timur ketika situasi keamanan memanas menjelang jajak pendapat. Bersama keluarga, ia kemudian mencari penghidupan baru di Timika yang saat itu masih menjadi bagian dari Kabupaten Fak-Fak.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Lari dari Timur-Timur mau jajak pendapat, saya lari ke sini. Baru di sini belum ada kerjaan, ya tekuni inilah, jahit sepatu ini,” kenangnya saat ditemui di lapaknya, Jumat 7 Agustus 2026.

Baca Juga

Ketua TP-PKK Mimika Titip Pesan Tegas: Pengurus Baru Harus Bekerja dengan Hati dan Layani Masyarakat

60.000 Batang Rokok Diduga Berpita Cukai Palsu Digagalkan di Bandara Sentani

Setibanya di Timika, ia memulai usaha menjahit sepatu di kawasan Pasar Lama. Namun, seiring penataan kawasan, ia beberapa kali berpindah tempat hingga akhirnya menetap di SP2 sejak sekitar 2006.

“Dulu di Pasar Lama. Di sana sudah banyak, lalu pindah ke sini. Di sini sekitar 2006,” ujarnya.

Pekerjaan menjahit sepatu sebenarnya telah lama ia tekuni. Bahkan sebelum menikah, keterampilan tersebut sudah menjadi sumber penghasilannya.

Dari pekerjaan sederhana itu, ia mampu membiayai pendidikan tiga anaknya. Ia bersyukur seluruh anaknya telah menyelesaikan pendidikan, bahkan ada yang sempat melanjutkan kuliah.

“Tiga anak. Sudah lulus semua, ada yang kuliah. Sekarang sudah rumah tangga semua,” ucapnya bangga.

Selain menjahit sepatu, Pa Kumis sempat mencoba usaha lain dengan berjualan lalapan. Namun usaha tersebut tidak bertahan lama dan ia kembali menjalani pekerjaan yang telah menjadi keahliannya selama puluhan tahun.

Pendapatan dari menjahit sepatu pun tidak selalu sama setiap hari. Dalam kondisi normal, ia bisa memperoleh sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Sementara saat momen tertentu seperti Natal atau Idulfitri, penghasilannya dapat meningkat.

“Kalau ramai, waktu Natal bisa sampai Rp1 juta, pernah lebih dari Rp2 juta sehari. Tapi itu paling cuma sekitar satu minggu,” katanya.

Untuk jasa perbaikan, ia menyesuaikan tarif berdasarkan tingkat kerusakan. Sepatu biasanya dikenakan biaya sekitar Rp50 ribu, sedangkan sandal mulai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. Untuk kerusakan tertentu, biaya bisa mencapai Rp100 ribu.

Namun, perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Selama hampir tiga dekade mencari nafkah di Timika, Pa Kumis mengaku beberapa kali harus berpindah lokasi setelah mendapat penertiban dari petugas Satpol PP.

Saat masih berjualan di kawasan Pasar Lama, ia pernah diminta meninggalkan lokasi karena lapaknya dianggap berada di area fasilitas umum.

“Dulu di Pasar Baru juga pernah disuruh pindah. Katanya tanah pemerintah, tidak bisa begitu,” ujarnya.

Hal serupa kembali dialaminya saat berjualan di kawasan SP2. Ia mengaku beberapa kali mendapat teguran hingga diminta membongkar lapaknya.

“Sering di sini. Kemarin saja baru diusir Satpol PP, banyak sekali. Katanya tanah pemerintah, kita juga tidak tahu mau dibuat apa,” katanya.

Saat ini, ia menempati lahan milik warga di kawasan SP2 dengan membayar sewa Rp400 ribu per bulan. Meski telah membayar sewa, ia mengaku masih menghadapi penertiban karena lokasi lapaknya disebut berada di atas tanah pemerintah.

“Saya bayar Rp400 ribu per bulan ke yang punya lahan. Tapi kadang tetap diusir Satpol PP karena katanya tanah pemerintah,” tuturnya.

Ketika usaha sedang sepi, pembayaran sewa menjadi tantangan tersendiri. Namun, pemilik lahan masih memberikan kelonggaran.

“Kadang waktunya bayar tidak ada uang. Yang punya lahan mengerti, bilang tidak apa-apa yang penting aman,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Pa Kumis tetap memilih bertahan. Baginya, menjahit sepatu telah menjadi bagian dari hidupnya sekaligus jalan untuk menghidupi keluarga.

“Kita orang kecil, masyarakat kecil, tetap kalah. Mau ngotot bagaimana, tetap kalah,” ucapnya.

Hampir 30 tahun sejak meninggalkan Timor-Timur, Pa Kumis masih bertahan di Timika dengan pekerjaan sederhana yang ia tekuni sejak muda. Di bawah payung kecil di sudut SP2, jarum dan benang masih menjadi saksi perjuangannya.

Dari lapak sederhana itu, ia membuktikan bahwa ketekunan mampu mengantarkan keluarganya meraih kehidupan yang lebih baik. (*)

Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Ketua TP-PKK Mimika Titip Pesan Tegas: Pengurus Baru Harus Bekerja dengan Hati dan Layani Masyarakat

Ketua TP-PKK Mimika Titip Pesan Tegas: Pengurus Baru Harus Bekerja dengan Hati dan Layani Masyarakat

16 September 2026
60.000 Batang Rokok Diduga Berpita Cukai Palsu Digagalkan di Bandara Sentani

60.000 Batang Rokok Diduga Berpita Cukai Palsu Digagalkan di Bandara Sentani

16 September 2026
Di Tanah Kaya Emas, Kisah Benediktus, Pelajar di Mimika yang Mendulang demi Baju Sekolah

Di Tanah Kaya Emas, Kisah Benediktus, Pelajar di Mimika yang Mendulang demi Baju Sekolah

16 September 2026
Demerina Menangis Saat Hendak Bercerita, Trauma Usai 20 Hari Disandera KKB

Demerina Menangis Saat Hendak Bercerita, Trauma Usai 20 Hari Disandera KKB

16 September 2026
TP-PKK Kuala Kencana Periode 2026-2030 Resmi Dilantik, Ini Fokus Programnya

TP-PKK Kuala Kencana Periode 2026-2030 Resmi Dilantik, Ini Fokus Programnya

16 September 2026
Sopir Lajuran Dilaporkan Tewas di Jalur Wamena-Mbua, Mobil Dibakar

Sopir Lajuran Dilaporkan Tewas di Jalur Wamena-Mbua, Mobil Dibakar

16 September 2026

POPULER

  • Muhammad Ramadhani Meninggal,Keluarga Palang Jalan

    Muhammad Ramadhani Meninggal,Keluarga Palang Jalan

    621 shares
    Bagikan 248 Tweet 155
  • Penikaman di KM 10 Mimika Diduga Dipicu Rokok, Polisi Buru Pelaku

    557 shares
    Bagikan 223 Tweet 139
  • Kronologi Penikaman Ramadhani, Polisi Selidiki Motif

    539 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Pria Tewas Berlumuran Darah di SP2 Timika, Polisi Buru 4 Temannya

    528 shares
    Bagikan 211 Tweet 132
  • Polisi Identifikasi Dua DPO Kasus Penembakan Tiga ASN di Jayawijaya

    524 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
  • Korban Penyanderaan di Jila Dievakuasi ke Timika, Kapolda: Trauma Masih Terlihat

    521 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
  • 20 Hari Bertahan di Hutan, Korban Penyanderaan Jila Akhirnya Dievakuasi ke Timika

    520 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
Next Post
Ganja 735 Gram Disembunyikan di Dalam Sepatu, Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman ke Sorong

Ganja 735 Gram Disembunyikan di Dalam Sepatu, Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman ke Sorong

Pencari Kerja Lokal Mimika Galang Seribu Rupiah, Sindir Lambannya Perda Perlindungan Tenaga Kerja

Pencari Kerja Lokal Mimika Galang Seribu Rupiah, Sindir Lambannya Perda Perlindungan Tenaga Kerja

Aktivis HAM Tantang Kapolres Mimika: Berani Tegas di Kwamki Narama dan Tuntaskan Kasus Pembunuhan oleh Oknum Polisi 

Aktivis HAM Tantang Kapolres Mimika: Berani Tegas di Kwamki Narama dan Tuntaskan Kasus Pembunuhan oleh Oknum Polisi 

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id