ADVERTISEMENT
Senin, September 21, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

Masyarakat tentu berharap alokasi anggaran tidak hanya terserap dalam belanja birokrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga benar-benar menyentuh pelaku ekonomi kecil, terutama Orang Asli Papua. 

6 Agustus 2026
0
APBD Triliunan: Mama Martina Bertahan dengan Anyaman Papua di Tengah Minimnya Perhatian Pemkab Mimika

Mama Martina, penjual kerajinan tangan khas Papua. (foto:ril/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id– Di tengah besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mimika yang mencapai triliunan rupiah setiap tahun, masih ada potret pilu yang dialami pelaku usaha asli Papua. 

Salah satunya adalah Mama Martina, seorang perempuan asli Papua yang setiap hari mengandalkan hasil kerajinan tangan khas Papua untuk menghidupi keluarganya.

ADVERTISEMENT

Di lapak tempat jualannya, tepatnya di Pasar Sentral Timika, Kamis 6 Agustus 2026, Mama Martina menjajakan berbagai hasil kerajinan tradisional, seperti tas noken dan produk khas Papua lainnya. 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Semua dibuat secara manual menggunakan keterampilan tangan, dengan alat sederhana, termasuk jarum yang dibuat dari kayu.

Baca Juga

213 Liter Sopi Ditemukan dari Barang Bawaan Penumpang KM Leuser, Pemiliknya Misterius

APBD-P Mimika 2026 Dipangkas, DPRK Fokuskan Anggaran pada Program Prioritas

Di balik nilai budaya yang tinggi dari setiap karya tersebut, penghasilannya justru sangat memprihatinkan.

“Saya setiap hari datang jual. Kadang satu hari hanya dapat Rp50 ribu sampai Rp100 ribu saja, itu pun kalau ada yang beli. Ada juga sampai satu minggu jualan tidak laku sama sekali,” ungkapnya. 

Pendapatan yang tidak menentu itu harus mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun yang lebih menyedihkan, selama bertahun-tahun menjalankan usaha, ia mengaku belum pernah merasakan sentuhan bantuan maupun pendampingan dari pemerintah daerah.

Menurutnya, seluruh kebutuhan usaha mulai dari bahan baku, alat produksi hingga modal harus dipenuhi sendiri tanpa dukungan apa pun.

“Kalau bantuan usaha tidak pernah dapat. Semua mama yang siapkan sendiri, mulai dari bahan sampai modal. Pemerintah tidak pernah datang lihat, tidak pernah bantu benang, alat atau modal usaha. Semua mama usaha sendiri,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menjadi ironi di tengah berbagai program pemerintah yang kerap mengusung pemberdayaan UMKM, ekonomi kreatif, dan pelestarian budaya lokal.

Padahal, kerajinan tangan khas Papua bukan sekadar produk ekonomi, tetapi juga identitas budaya yang memiliki nilai seni tinggi dan berpotensi menjadi daya tarik wisata apabila dikelola secara serius.

Potensi Besar, Perhatian Masih Kecil

(foto:ril/koranpapua.id)

Apabila ditata dengan baik melalui penyediaan sentra kerajinan, pelatihan, bantuan modal, promosi digital, hingga pemasaran kepada wisatawan dan perusahaan-perusahaan besar di Mimika, produk-produk asli Papua berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Ironisnya, para pengrajin seperti Mama Martina justru masih berjuang sendiri di tengah keterbatasan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas program pemberdayaan UMKM yang selama ini dijalankan pemerintah daerah. 

Dengan kapasitas fiskal Mimika yang terbesar di Papua Tengah, masyarakat tentu berharap alokasi anggaran tidak hanya terserap dalam belanja birokrasi dan pembangunan fisik, tetapi juga benar-benar menyentuh pelaku ekonomi kecil, terutama Orang Asli Papua (OAP).

Jika pemerintah serius menjadikan budaya Papua sebagai identitas daerah sekaligus sektor ekonomi unggulan, maka keberadaan pengrajin seperti Mama Martina seharusnya menjadi prioritas untuk dibina, difasilitasi, dan dipromosikan.

Sebab tanpa keberpihakan nyata, bukan tidak mungkin kerajinan tradisional Papua akan semakin kehilangan generasi penerusnya. 

Sementara para pengrajin yang masih bertahan hanya bisa berharap ada pembeli yang datang, demi membawa pulang uang puluhan ribu rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (*) 

Penulis: Ril Minggu

Editor: Marthen LL Moru

 

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

213 Liter Sopi Ditemukan dari Barang Bawaan Penumpang KM Leuser, Pemiliknya Misterius

213 Liter Sopi Ditemukan dari Barang Bawaan Penumpang KM Leuser, Pemiliknya Misterius

20 September 2026
APBD-P Mimika 2026 Dipangkas, DPRK Fokuskan Anggaran pada Program Prioritas

APBD-P Mimika 2026 Dipangkas, DPRK Fokuskan Anggaran pada Program Prioritas

20 September 2026
Trifena Tinal Terpilih Pimpin Golkar Mimika, Targetkan 9 Kursi Legislatif

Trifena Tinal Terpilih Pimpin Golkar Mimika, Targetkan 9 Kursi Legislatif

20 September 2026
TP-PKK Mimika Peringati Maulid Nabi, Suzy Rettob Ajak Kader Teladani Akhlak Rasulullah

TP-PKK Mimika Peringati Maulid Nabi, Suzy Rettob Ajak Kader Teladani Akhlak Rasulullah

19 September 2026
Dewan Pers: Wartawan Intimidatif dan Minta Uang Bisa Dipidana

Dewan Pers: Wartawan Intimidatif dan Minta Uang Bisa Dipidana

19 September 2026
Website Pemkab Mimika Dikembangkan Terintegrasi dengan Seluruh OPD

Website Pemkab Mimika Dikembangkan Terintegrasi dengan Seluruh OPD

19 September 2026

POPULER

  • Kecelakaan Tunggal di Depan Katedral Tiga Raja Timika, Pengendara Motor Tewas

    Kecelakaan Tunggal di Depan Katedral Tiga Raja Timika, Pengendara Motor Tewas

    539 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Ketua Lemasa Sem Bukaleng Soroti Eksekusi Tanah SP 2, Minta Mediasi Dibuka Kembali

    529 shares
    Bagikan 212 Tweet 132
  • Di Tanah Kaya Emas, Kisah Benediktus, Pelajar di Mimika yang Mendulang demi Baju Sekolah

    527 shares
    Bagikan 211 Tweet 132
  • Demerina Menangis Saat Hendak Bercerita, Trauma Usai 20 Hari Disandera KKB

    525 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
  • Diburu Berbulan-bulan, TN Terduga Pelaku Kekerasan Seksual di Kali Wania Ditangkap Polisi

    524 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
  • PN Timika Eksekusi Lahan Sengketa di SP 2, Bangunan di Atas Tanah Dibongkar

    520 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
  • Pengemudi Lajuran Aris Sanda Tewas, Ditemukan dalam Mobil yang Terbakar

    520 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
Next Post
Sambut HUT Ke-81 RI: Warga Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

Sambut HUT Ke-81 RI: Warga Kelurahan Kwamki Baru Kompak Bersihkan Drainase dan Jalan Lingkungan

Konflik Kwamki Narama: Kubu Dang–Newegalen Sepakat Berdamai, Bupati Mimika: Ini Sejarah Baru di Papua

Tingkatkan Pemahaman OAP, MRP Papua Tengah Sosialisasikan UU Otsus di Kabupaten Puncak

Pemkab Mimika Sambut Kepulangan 116 Jemaah Haji, Satu Jemaah Wafat di Makkah

Pemkab Mimika Sambut Kepulangan 116 Jemaah Haji, Satu Jemaah Wafat di Makkah

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id