TIMIKA, Koranpapua.id– Meski sebelumnya tidak mendapat izin dari Polres Mimika, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Timika tetap menggelar aksi damai dan mimbar bebas di Bundaran Petrosea, Jalan Cenderawasih, Timika, Senin 3 Agustus 2026.
Aksi yang berlangsung sejak pukul 09 pagi di bawah pengamanan aparat kepolisian itu berjalan kondusif hingga massa membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIT.
Dalam aksi tersebut, peserta membawa sejumlah salib berwarna merah sebagai simbol penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai militerisme di Tanah Papua.
Melalui mimbar bebas, sejumlah peserta, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh gereja, mahasiswa hingga mama-mama Papua, diberi kesempatan menyampaikan pandangan mengenai situasi kemanusiaan di Papua.
Ketua KNPB Wilayah Timika, Yanto Awerkion, mengatakan aksi tersebut bertujuan menyampaikan aspirasi masyarakat Papua agar pemerintah lebih mengedepankan penyelesaian konflik melalui pendekatan kemanusiaan.
“Hari ini kami datang melakukan kegiatan mimbar bebas untuk memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat Papua, tokoh gereja, mahasiswa, dan mama-mama Papua menyampaikan isi hati mereka terkait situasi yang sedang terjadi di seluruh Tanah Papua,” ujar Yanto. kepada awak media.
Menurut dia, pemerintah pusat diharapkan tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan dalam menangani persoalan di Papua.
“Kami berharap negara jangan hanya mengirim pasukan, tetapi mencari solusi bagaimana orang Papua bisa hidup damai, aman, dan sejahtera di atas tanahnya sendiri,” katanya.
Dalam orasinya, Yanto juga memaparkan sejumlah data yang diklaim sebagai catatan KNPB mengenai dampak konflik di Papua. Menurut klaim organisasi tersebut, terdapat 125.931 warga sipil yang mengungsi di berbagai wilayah Papua.
Selain itu, KNPB mengklaim sebanyak 503 warga sipil meninggal dunia sepanjang 2018-2026, sementara 300 anggota TPNPB dan 162 personel TNI-Polri turut menjadi korban konflik. Data tersebut merupakan klaim KNPB dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Yanto berharap konflik yang terjadi tidak lagi menimbulkan korban jiwa dari pihak mana pun.
“Jangan ada korban jiwa lagi yang berjatuhan di atas tanah ini, baik orang Papua maupun non-Papua. Kami berharap pemerintah menanggapi persoalan kemanusiaan ini dengan serius.”
“Dalam perjuangan damai kami, KNPB Wilayah Timika tetap mengedepankan prinsip-prinsip kemanusiaan,” kata Yanto.
Sebelumnya, Polres Mimika telah menyatakan tidak memberikan izin terhadap rencana unjuk rasa tersebut. Meski demikian, aparat tetap melakukan pengamanan untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Setelah seluruh rangkaian orasi selesai, massa membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIT tanpa terjadi insiden maupun gangguan keamanan. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










