MANOKWARI- Koranpapua.id- Di balik hijaunya hutan dan pesona Burung Cenderawasih di Kampung Syoubri, Distrik Mokwam, tersimpan kisah perjuangan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Di wilayah yang dikenal dunia karena kekayaan alamnya itu, anak-anak Papua setiap hari menapaki jalan panjang demi satu harapan sederhana: tetap bisa sekolah.
Suasana haru menyelimuti kunjungan kerja Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manokwari, I Gusti Ketut Suardana, ke SMPTKN Manokwari, Senin pekan lalu.
Di tengah keterbatasan fasilitas sekolah dan minimnya tenaga pendidik, suara polos para siswa terdengar lirih namun penuh makna.
“Kami ingin tetap sekolah, jangan tinggalkan kami,” tutur para siswa lirih seperti dilansir Humas Kemenag Papua Barat
Kalimat sederhana itu menjadi potret nyata kehidupan anak-anak di wilayah pegunungan Mokwam.
Sebagian dari mereka harus berjalan berjam-jam menuju sekolah, melewati jalan berbatu, tanjakan, dan hutan, bahkan tanpa sepatu yang layak.
Dalam kunjungan tersebut, Gusti didampingi Kepala Seksi Pendidikan Agama Kristen, Sakeus Ullo, sekaligus memperkenalkan Pelaksana Tugas Kepala Sekolah yang baru, Jandra Rambing.
Bagi Gusti, perjuangan para guru dan siswa di SMPTKN Manokwari bukan sekadar cerita tentang pendidikan, melainkan tentang menjaga masa depan Papua dari wilayah-wilayah paling terpencil.
Ia mengaku bangga terhadap para guru yang tetap memilih mengabdi di tengah hutan Papua dengan segala keterbatasan akses dan fasilitas.
“Kami hadir untuk memberi dukungan dan semangat. Pendidikan sangat penting untuk masa depan, untuk membangun dan mengabdi bagi Tanah Papua,” ujarnya di hadapan para siswa.
“Tantangan kalian berbeda dengan anak-anak di kota. Hilangkan rasa malas, terus belajar, karena kalau bukan kalian, siapa lagi yang akan membangun Papua,” pesannya bijak.
Ia juga menegaskan bahwa SMPTKN Manokwari merupakan sekolah gratis yang dibiayai langsung oleh Kementerian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimas Kristen.
Pemerintah terus berupaya melengkapi sarana dan prasarana agar proses belajar mengajar berlangsung lebih nyaman dan aman.
Di tengah keterbatasan itu, semangat anak-anak tetap menyala. Salah satunya datang dari kisah Fince Mandacan.
Setiap hari, ia harus berjalan sekitar satu setengah jam untuk tiba di sekolah. Perjalanan panjang itu tidak membuatnya menyerah.
“Walau kami hanya sedikit siswa, kami ingin fasilitas sekolah bisa dilengkapi. Kami tetap semangat sekolah untuk meraih cita-cita kami,” tuturnya pelan.
Harapan serupa juga disampaikan para guru. Mereka berharap adanya perhatian lebih, terutama pembangunan asrama bagi siswa yang berasal dari kampung-kampung jauh dengan medan berat dan cuaca yang tidak menentu.
Sementara itu, Plt Kepala Sekolah baru, Jandra Rambing, mengajak seluruh siswa untuk tetap menjaga semangat belajar.
“Semangat belajar, singkirkan rasa malas, karena cita-cita besar hanya bisa diraih dengan usaha dan kerja keras,” katanya.
Pertemuan sederhana itu ditutup dengan pembagian paket alat tulis kepada para siswa.
Senyum kecil tampak menghiasi wajah anak-anak yang sejak pagi menunggu di ruang kelas sederhana mereka.
Di ruangan yang jauh dari kemewahan, harapan tetap tumbuh perlahan.
Kampung Syoubri sendiri merupakan salah satu dari 12 kampung wisata di Distrik Mokwam yang dikenal memiliki tujuh jenis burung cenderawasih, burung pintar yang mampu membedakan warna daun, hingga pohon pisang raksasa yang telah dikenal luas.
Namun di balik kekayaan alam yang memukau itu, tersimpan perjuangan besar anak-anak Papua dalam menjaga harapan lewat pendidikan.
Dari ruang-ruang kelas sederhana di kaki pegunungan Mokwam, mereka sedang belajar mengejar mimpi dan menyiapkan masa depan bagi Tanah Papua. (Redaksi)










