SURABAYA, Koranpapua.id- MathNoken, aplikasi gamifikasi etnomatematika karya mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) raih prestasi nasional.
Inovasi dari Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin, Kesya Azka Najhan, dan Salsa Billa Azzahra, itu meraih juara dua dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Nasional #9 IDEA Universitas Negeri Jakarta pada Selasa 7 Juli 2026.
MathNoken mengangkat noken Papua sebagai media pembelajaran guna meningkatkan literasi matematika siswa di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
“Kami menyadari adanya masalah kesenjangan dalam imajinasi anak-anak 3T atas contoh soal matematika yang kerap mengangkat transportasi modern. Namun, mereka memiliki budaya yang lebih kontekstual terhadap matematika,” ungkap Irsyad seperti dikutip dari UNAIR NEWS.
Lebih lanjut, Irsyad memaparkan bahwa soal-soal pembelajaran matematika di sekolah sering memuat ilustrasi berupa kereta, gedung tinggi, atau transportasi modern yang akrab dengan kehidupan perkotaan.
Sedangkan, anak-anak di daerah 3T belum pernah membayangkan dan melihat objek-objek tersebut secara langsung.
“Contoh soalnya terkadang tentang kereta api atau gedung tinggi. Orang-orang yang ada di 3T, apalagi Papua, tidak bisa membayangkan contoh soal dengan analogi kereta api ataupun gedung tinggi karena memang di sana tidak ada hal seperti itu,” jelas Irsyad.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelajaran matematika semakin terasa jauh dari realitas kehidupan sehari-hari siswa.
Demikian, MathNoken hadir melalui pemanfaatan motif-motif noken Papua yang mengandung konsep etnomatematika.
Seperti operasi hitung, pola, deret, simetri, rasio, proporsi luas, aljabar hingga refleksi sebagai media pembelajaran matematika yang lekat dengan adat setempat.
Bagi Irsyad dan tim, MathNoken bukan sekadar inovasi. Melainkan sebuah upaya untuk menghadirkan media pembelajaran yang dekat dengan denyut nadi masyarakat Papua.
Melalui berbagai fitur interaktif, seperti Craft Mode dan Story Mode aplikasi ini dirancang untuk memahami matematika melalui objek yang mereka temui sehari-hari.
Selain itu, MathNoken turut dilengkapi fitur dashboard analitik guru guna merekam perkembangan belajar siswa.
“Niat kami adalah menyediakan suatu bahan belajar atau media belajar yang lebih inklusif dan mudah dipahami. Jadi, ketika mereka harus mengerjakan sesuatu atau belajar matematika mereka tidak merasa matematika itu sesuatu yang jauh,” tuturnya.
Ia turut menekankan bahwa aplikasi MathNoken membuka peluang implementasi nyata melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Mulai dari pemerintah, dinas pendidikan, komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, hingga perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan noken papua sebagai media pembelajaran, khususnya bagi siswa di daerah 3T.
“Kami juga berharap MathNoken dapat diintegrasikan ke dalam Kurikulum Merdeka melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), karena fitur-fitur yang kami hadirkan bersifat edukatif,” pungkasnya. (Redaksi)









