ADVERTISEMENT
Minggu, Juni 7, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Dari Kampung ke Jawa, Tiga Taruna Papua Binaan YPMAK Kejar Mimpi di Bidang Kelautan

Program beasiswa YPMAK sendiri terus menjadi salah satu jalur strategis dalam mendorong peningkatan pendidikan bagi masyarakat Amungme dan Kamoro.

25 Mei 2026
0
Dari Kampung ke Jawa, Tiga Taruna Papua Binaan YPMAK Kejar Mimpi di Bidang Kelautan

Modestus Arpikini, Merik Kuepedan dan Bernadus Natani tiga taruna asal Papua binaan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) yang kini menempuh pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Jawa Timur. (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id- Semangat generasi muda Papua untuk mengubah masa depan melalui pendidikan terus tumbuh.

Hal itu terlihat dari perjalanan tiga taruna asal Papua binaan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) yang kini menempuh pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, Jawa Timur, melalui program beasiswa YPMAK selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).

ADVERTISEMENT

Salah satu penerima beasiswa tersebut adalah Merik Kuepe, Taruna Tingkat II asal suku Kamoro dari Kampung Pigapu, Distrik Iwaka yang lahir pada 3 Desember 2003.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sejak kecil, Merik telah memiliki cita-cita menjadi pengusaha di bidang perikanan dan tambak udang di Papua.

Baca Juga

Aliansi Mahasiswa Papua-Jember Rilis Pernyataan Pers: Tolak PSN dan Kriminalisasi Rezim Militer

Freeport Kelola Tailing Bernilai Guna, Anggaran Tembus Rp200–300 Juta Dolar per Tahun

Sebelum lolos melalui jalur pembinaan YPMAK, Merik menempuh pendidikan di Kampung Pigapu, melanjutkan ke SMP Satu Atap Pomako, hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan di SMK Kemaritiman.

Setelah lulus sekolah, ia sempat bekerja di salah satu katering di kawasan SP3, Timika selama kurang lebih tiga bulan.

Namun pada Desember 2024, ia memutuskan berhenti bekerja demi melanjutkan pendidikan tinggi.

Kesempatan itu datang ketika dirinya memperoleh informasi pendaftaran melalui Divisi Pendidikan YPMAK.

Setelah mengikuti proses seleksi, Merik dinyatakan lolos dan berkesempatan melanjutkan studi di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, perguruan tinggi vokasi di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Perjalanan menuju Jawa Timur menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Merik. Untuk pertama kalinya ia naik pesawat dan harus meninggalkan kampung halaman demi meraih cita-cita.

“Waktu pertama naik pesawat kami gugup sekali. Saat transit di Makassar saya sampai pusing, tapi itu menjadi pengalaman baru yang tidak akan saya lupakan,” ujarnya saat diwawancarai melalui Zoom, Senin 25 Mei 2026.

Setibanya di kampus, Merik dan rekan-rekannya harus beradaptasi dengan kehidupan taruna yang menerapkan disiplin semi-militer.

Bangun pukul 03.00 pagi, kegiatan rutin yang teratur, hingga pola hidup disiplin menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa asal Papua yang baru pertama kali merantau jauh dari keluarga.

“Di sini kami belajar disiplin, mulai dari kegiatan harian, cara berbicara, sampai ibadah yang teratur. Semua itu membentuk kami menjadi lebih siap dan bertanggung jawab,” katanya.

Selain aktif menjalani pendidikan, Merik juga berhasil menorehkan prestasi dengan meraih medali perunggu pada Kanjuruan Fighter Competition.

Tak hanya Merik, taruna asal Kampung Tapormai, Bernardus Natani, juga menunjukkan perjalanan hidup penuh perjuangan.

Taruna Tingkat I itu pernah dikenal sebagai anak yang kerap bolos sekolah semasa SD karena mengikuti orang tuanya mencari keraka di kampung.

Bernardus yang lahir pada 24 Mei 2004 itu mengaku mulai berubah setelah mengingat pesan ibunya.

Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih duduk di bangku SD kelas II, sehingga sang ibu menjadi sosok yang paling memotivasi dirinya untuk terus sekolah.

Perjuangan Bernardus tidak mudah. Ia pernah lolos seleksi masuk polisi dan tentara, namun terkendala biaya sehingga tidak dapat melanjutkan tahapan berikutnya.

Di tengah rasa putus asa, sang ibu justru mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. “Kalau mau kuliah baru mama izinkan,” kenang Bernardus menirukan pesan ibunya.

Kesempatan itu akhirnya datang melalui program beasiswa YPMAK. Bernardus diterima sebagai taruna dan kini aktif menorehkan berbagai prestasi.

Ia berhasil meraih Juara II Pencak Silat Bupati Cup 2025 serta Juara II Kejuaraan Nasional pencak silat.

Bernardus juga bercita-cita melanjutkan studi ke Jepang untuk memperdalam ilmu perikanan dan teknologi kelautan.

Sementara itu, Modestus Arpikini, Taruna Tingkat I lainnya, juga memiliki kisah perjuangan yang tidak kalah menginspirasi.

Pemuda yang pernah menempuh pendidikan di SD Akar, SMP Kokonao, SMK Tunas Bangsa, hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan di SMK Don Bosco itu berhasil meraih medali emas Olimpiade PPKN tingkat nasional.

Remaja yang lahir pada 17 Maret 2005 ini mengaku sempat mengalami masa sulit ketika sekolah, termasuk persoalan keterbatasan makanan hingga sakit berkepanjangan yang membuatnya harus pindah sekolah.

Ia bahkan pernah berniat tidak melanjutkan kuliah demi membantu ekonomi orang tua di kampung.

Namun berkat dukungan para pembina dan rekomendasi dari pengelola asrama, namanya didaftarkan mengikuti program pendidikan YPMAK hingga akhirnya diterima sebagai taruna di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo.

“Awalnya saya ingin pulang kampung cari kerja bantu orang tua. Tapi ternyata Tuhan kasih jalan lewat pendidikan,” ungkap Modestus.

Kini, Modestus memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan bahasa Jepang dan mengembangkan kemampuan di bidang kelautan.

Saat ini, sebanyak 32 mahasiswa asal Papua binaan YPMAK tercatat sedang menempuh pendidikan di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo.

Mereka menjadi bagian dari program peningkatan kapasitas sumber daya manusia Papua yang diharapkan mampu kembali membangun daerah masing-masing.

Ketiga taruna tersebut juga mengaku banyak belajar mengenai keberagaman budaya selama berada di Jawa.

Perbedaan bahasa, kebiasaan, hingga pola hidup menjadi tantangan awal yang harus mereka hadapi.

Namun dengan dukungan senior asal Papua dan lingkungan kampus, mereka perlahan mampu menyesuaikan diri.

Merik pun menyampaikan pesan motivasi kepada generasi muda Papua agar tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.

“Seperti semut yang terus berjalan sampai tujuan, kita juga harus terus berjuang. Jangan menyerah, tetap berdoa dan berusaha,” pesannya.

Program beasiswa YPMAK sendiri terus menjadi salah satu jalur strategis dalam mendorong peningkatan pendidikan bagi masyarakat Amungme dan Kamoro.

Secara khususnya generasi muda Papua yang ingin melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi vokasi dan profesional. (*)

Penulis: Hayun Nuhuyanan

Editor: Marthen LL Moru

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Aliansi Mahasiswa Papua-Jember Rilis Pernyataan Pers: Tolak PSN dan Kriminalisasi Rezim Militer

Aliansi Mahasiswa Papua-Jember Rilis Pernyataan Pers: Tolak PSN dan Kriminalisasi Rezim Militer

6 Juni 2026
Freeport Kelola Tailing Bernilai Guna, Anggaran Tembus Rp200–300 Juta Dolar per Tahun

Freeport Kelola Tailing Bernilai Guna, Anggaran Tembus Rp200–300 Juta Dolar per Tahun

6 Juni 2026
Sampah yang Dibuang ke TPA Iwaka Berkurang Dua Ton Setiap Hari Berkat Bank Sampah

Sampah yang Dibuang ke TPA Iwaka Berkurang Dua Ton Setiap Hari Berkat Bank Sampah

6 Juni 2026
Speedboat Bermuatan Apel Terombang-ambing Empat Hari di Perairan Asmat

Speedboat Bermuatan Apel Terombang-ambing Empat Hari di Perairan Asmat

6 Juni 2026
Peringati Hari Lingkungan Hidup 2026, PTFI Dorong Aksi Zero Waste di Mimika

Peringati Hari Lingkungan Hidup 2026, PTFI Dorong Aksi Zero Waste di Mimika

5 Juni 2026
Benda Diduga Bom di Gereja Kingmi Intan Jaya Ternyata Biji Besi Lonceng

Benda Diduga Bom di Gereja Kingmi Intan Jaya Ternyata Biji Besi Lonceng

5 Juni 2026

POPULER

  • Bersembunyi di Timika, Pelaku Pencabulan Anak di Sikka Berhasil Ditangkap

    Bersembunyi di Timika, Pelaku Pencabulan Anak di Sikka Berhasil Ditangkap

    616 shares
    Bagikan 246 Tweet 154
  • PPDB 2026 Wajib Melalui Empat Jalur, Kadisdik Mimika Ingatkan Tidak Boleh Terima Titipan Pejabat

    591 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • Prihatin! Satu Siswa SMP di Kota Timika Positif Narkotika

    571 shares
    Bagikan 228 Tweet 143
  • Pelajar SMP Negeri dan Swasta di Papua Tengah Bebas Biaya Pendidikan, Berlaku Tahun Ini

    845 shares
    Bagikan 338 Tweet 211
  • SD Inpres Timika II Gelar Education Expo 2026, Tampilkan Inovasi Berbasis Kearifan Lokal Papua

    526 shares
    Bagikan 210 Tweet 132
  • Papua Mahkota Keanekaragaman Hayati, Ditengah Maraknya Pemburuan Liar

    524 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
  • Kadis Koperasi dan UMKM Samuel Yogi Apresiasi Education Expo 2026 SDI Inpres Timika II

    518 shares
    Bagikan 207 Tweet 130
Next Post
Tahun 2026 ASN Pemprov Papua Tengah Diingatkan Disiplin Waktu dan Tinggalkan Pola Kerja Berbelit-belit

Pelajar SMP Negeri dan Swasta di Papua Tengah Bebas Biaya Pendidikan, Berlaku Tahun Ini

Satu Korban Ledakan Granat di Gereja Santo Paulus Nabuni Meninggal Dunia di RSUD Mimika

Dramatis! 44 Pendulang Emas Berhasil Dievakuasi dari Awimbon ke Boven Digoel

Satu Korban Ledakan Granat di Gereja Santo Paulus Nabuni Meninggal Dunia di RSUD Mimika

Satu Korban Ledakan Granat di Gereja Santo Paulus Nabuni Meninggal Dunia di RSUD Mimika

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id