ADVERTISEMENT
Kamis, Mei 7, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Kisah Inspiratif Abraham Kateyau, Putra Kamoro yang Berhasil Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum

Ia telah membuktikan bahwa di balik keterbatasan, ada kedaulatan Tuhan bagi mereka yang mau berusaha. Selebihnya, biarlah Tuhan yang berperkara.

7 Mei 2026
0
Kisah Inspiratif Abraham Kateyau, Putra Kamoro yang Berhasil Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum

Dr. Abraham Kateyau, S.E, M.H bersama keluarga usai wisuda S3 Ilmu Hukum di Universitas Trisaksi Jakarta, Selasa 5 Mei 2026. (Foto:Ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id- Abraham Kateyau, putra asli Kamoro, resmi meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dalam Sidang Terbuka Universitas Trisakti yang digelar di Jakarta International Convention Center, Selasa 5 Mei 2026.

Sidang bertema “The New Generation of Entrepreneur” tersebut diikuti ribuan lulusan dari berbagai jenjang.

ADVERTISEMENT

Dari jumlah itu, hanya 18 peserta yang lulus sebagai doktor hukum, termasuk Abraham yang kini menyandang gelar Dr. Abraham Kateyau, S.E., M.H.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bagaimana kisah perjalanan Abraham hingga mampu meraih gelar Doktor Hukum dari Universitas Trisakti Jakarta, salah satu kampus ternama di tanah air? Berikut sepintas kisahnya:

Baca Juga

16,9 Ton Kepiting Bakau Asal Timika Diekspor ke Malaysia dan Singapura

BMKG Prakirakan Hujan dan Angin Kencang Dua Hari Kedepan, Termasuk Papua Tengah

Lahir di Jayapura pada 13 April 1972, Abraham tumbuh di Kampung Keakwa, wilayah pesisir Mimika, dengan keterbatasan akses pendidikan.

Berbekal uang Rp14 ribu dari sang ayah dan restu sang ibu, Abraham Kateyau bertolak dari Mimika menuju Nabire.

Ia sempat menjadi buruh kasar di pelabuhan Sorong serta surveyor mencari cadangan minyak bumi di Pulau Buru, Maluku.

Kini ia adalah Penjabat Sekda Kabupaten Mimika. Potret pengabdian putra Kamoro, yang tak melupakan akarnya.

Di ruang kerjanya yang tenang, Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, Dr. Abraham, sejenak pikirannya menerawang ke masa silam.

Di luar ruangan menunggu/mengantre sejumlah pimpinan OPD Pemkab Mimika dan staf, berganti bayangan wajah sang ayah, almarhum Yoseph Kateyau, serta kenangan masa lalunya semasa kecil hingga remaja di kampung Keakwa, Distrik Mimika Tengah.

“Ini uang, silakan berangkat ke Nabire. Harus selesaikan pendidikanmu, baru kau bisa kembali di Keakwa,” kenang Abraham, menirukan pesan ayahnya.

Di tangannya kala itu, hanya ada lembaran uang lusuh senilai Rp14.000. Sebuah modal yang tampak mustahil untuk menaklukkan dunia, namun bagi Bram-sapaan akrabnya-itu adalah mandat suci.

Perjalanan hidup Penjabat Sekda Kabupaten Mimika ini adalah sebuah perpaduan antara keterbatasan yang ekstrem dan tekad yang tak kunjung padam.

Putra asli Suku Kamoro dari Kampung Keakwa ini tumbuh di tengah lanskap yang tidak selalu ramah terhadap mimpi anak-anak pesisir Mimika. Jalan panjang Bram menuju tangga kekuasaan tidaklah linier.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar­nya di SD YPPK St Bonaventura Keakwa, lalu melanjutkan ke SMP YPPK Lecocq d’Armanville Kaokanao dan lulus pada 1989.

Ia menyeberang ke Nabire untuk masuk ke SMA YPPK Adhi Luhur. Namun, kesulitan finasial sempat menghentikan langkahnya.

Tak sanggup membayar biaya sekolah, Bram terpaksa berhenti sekolah setahun.

Bukannya menyerah, Bram justru membenamkan dirinya dalam dunia kerja yang keras.

Dari bekerja sebagai buruh kasar di Pelabuhan Sorong hingga surveyor pengeboran minyak di Pulau Buru, Seram, Maluku. Ia jalani demi menyambung hidup.

Di tengah debu pelabuhan dan deru mesin bor, Bram tetap menjaga asa untuk kembali bersekolah.

Setahun merantau, Bram lantas kembali lagi ke Nabire. Kecerdasannya terbukti tak luntur oleh keringat di pelabuhan.

Bram langsung melompat ke kelas tiga, karena prestasi gemilangnya mendapat peringkat pertama di kelas satu sebelumnya.

“Kalau kesempatan tidak saya pakai baik-baik, hidup saya sekarang, bisa jadi lebih sulit,” ujarnya pendek.

Titik balik hidupnya hadir melalui, program beasiswa Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia yang kala itu dikelola LPM-Irja (kini YPMAK).

Dukungan finansial, uang saku, hingga pembinaan karakter menjadi bahan bakar baginya.

Bram pun menyelesaikan studi S1 Ekonomi di STIE Ottow Geissler, Jayapura (sekarang Universitas Ottow Geissler Papua) pada awal millennium 2001.

Sebelumnya, pada 1993, Bram sempat masuk program studi D3 Olahraga, FKIP Universitas Negeri Cenderawasih, Jayapura, melalui jalur SLSB (seleksi lokal siswa berprestasi).

Namun di kemudian hari, ia memilih mundur, karena jurusan itu tidak sejalan dengan visinya.

“Kalau waktu itu program beasiswa, Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia ini tidak ada, mungkin saya tidak tahu mau menjadi seperti apa hari ini,” ungkap mantan Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Kamoro pertama di Jayapura ini.

Sebagai satu dari sedikit sarjana asli Suku Kamoro, setelah menyelesai pendidikan S1, Bram lantas dilirik PT Freeport Indonesia (PTFI).

Ia sempat mengecap karier sebagai staf Industrial Relation di Departemen HRD. Namun, takdir kembali mengujinya saat Pemerintah Kabupaten Mimika membuka lowongan ASN. Ia dihadapkan pada dilema besar.

Pihak perusahaan bahkan sempat “menahannya” selama dua minggu dan menawarkan posisi mentereng: pindah tugas kerja di kantor pusat Freeport-McMoRan di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat.

Sebuah tawaran yang mimpi bagi banyak orang. Namun bagi Bram, suara dari kampung halamannya Mimika, lebih nyaring.

“Setelah berdiskusi dengan istri, anak, dan keluarga, saya akhirnya memutuskan mengabdi untuk masyarakat melalui jalur pemerintahan,” tegas ayah dari dua kembar, Rio dan Roy Kateyau ini.

Bram memilih memulai dari nol, mengawali kerja sebagai CPNS di Dinas Sosial Mimika, dengan upah yang jauh lebih kecil ketimbang gajinya di perusahan.

Dari Kadistrik Menuju Penjabat Sekda Mimika

Karier birokrasinya adalah potret tentang kesabaran mengikuti proses. Dari jabatan Kepala Distrik Mimika Timur Jauh pada 2013, hingga menjabat Kepala Bagian Organisasi dan Tatalaksana (Ortal) selama delapan tahun.

Kepemimpinannya kemudian diuji sebagai Kepala Dinas Kominfo, Kepala Dinas PTSP, hingga dipercaya memimpin Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung, awal 2024.

Puncaknya pada Jumat, 15 Agustus 2025 lalu, Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong melantiknya sebagai Penjabat Sekda Mimika.

Bagi Abraham, jabatan ini bukan tentang kehebatan personal, melainkan tentang kepatuhan pada aturan dan profesionalisme dalam bekerja.

Di sela kesibukan birokrasi, Bram tak berhenti belajar. Setelah meraih gelar Magister Hukum di Fakulas Hukum Universitas Negeri Cenderawasih, selanjutnya pada akhir Januari 2025 ia menuntaskan studi Doktoral (S3) Ilmu Hukum di Universitas Trisakti Jakarta.

Bram kini tercatat sebagai putra Kamoro kedua yang meraih gelar doktor, setelah Dr Leonardus Tumuka (Ketua Pengurus YPMAK saat ini)

Pesan dari Pesisir

Keberhasilan Abraham tak lepas dari dukungan Natalia, sang istri asal suku Awyu, Boven Digoel, Papua Selatan, yang selalu setia mendampinginya dan membesarkan enam anak mereka.

Baginya, pendidikan adalah fondasi yang tak bisa ditawar. Ia kerap miris melihat generasi muda yang menyia­nyiakan kesempatan beasiswa.

“Sekarang sudah luar biasa bagus. Uang saku ada, biaya pendidikan dibayar, makan minum dijamin dan ada asrama, tinggal bagaimana adik-adik mengatur diri,” pesannya serius.

Baginya, bantuan pendidikan atau beasiswa Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia adalah bentuk kasih Tuhan yang harus dijawab dengan tanggung jawab, bukan kemalasan.

Kisah Abraham Kateyau adalah bukti bahwa anak kampung dengan uang Rp14 ribu di saku bisa mengguncang dunia melalui pendidikan.

Ia telah membuktikan bahwa di balik keterbatasan, ada kedaulatan Tuhan bagi mereka yang mau berusaha. Selebihnya, biarlah Tuhan yang berperkara. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

16,9 Ton Kepiting Bakau Asal Timika Diekspor ke Malaysia dan Singapura

16,9 Ton Kepiting Bakau Asal Timika Diekspor ke Malaysia dan Singapura

7 Mei 2026
Prakiraan Cuaca untuk Provinsi Papua Satu Pekan Kedepan, Sebagian Besar Daerah Cerah

BMKG Prakirakan Hujan dan Angin Kencang Dua Hari Kedepan, Termasuk Papua Tengah

7 Mei 2026
Kisah Inspiratif Abraham Kateyau, Putra Kamoro yang Berhasil Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum

Kisah Inspiratif Abraham Kateyau, Putra Kamoro yang Berhasil Raih Gelar Doktor Ilmu Hukum

7 Mei 2026
Dugaan Korupsi Proyek Lahan Perkebunan Rp22,5 Miliar, Kejari Mimika Periksa Delapan Saksi

Dugaan Korupsi Proyek Lahan Perkebunan Rp22,5 Miliar, Kejari Mimika Periksa Delapan Saksi

7 Mei 2026
Mimika Darurat Sopi: Bupati Johannes Rettob Minta Aparat Keamanan Tindak Tegas

Mimika Darurat Sopi: Bupati Johannes Rettob Minta Aparat Keamanan Tindak Tegas

7 Mei 2026
Kejari Mimika Musnahkan Ribuan Barang Bukti 52 Perkara, Sabu hingga Obat Terlarang

Kejari Mimika Musnahkan Ribuan Barang Bukti 52 Perkara, Sabu hingga Obat Terlarang

7 Mei 2026

POPULER

  • Tragis! Kecelakaan Motor di Timika Berujung Pembacokan, Dua Nyawa Melayang

    Tragis! Kecelakaan Motor di Timika Berujung Pembacokan, Dua Nyawa Melayang

    666 shares
    Bagikan 266 Tweet 167
  • Praka Aprianus Gugur di Papua: Harapan Ibunya Terkalahkan dengan Niat Bahagiakan Orang Tua

    627 shares
    Bagikan 251 Tweet 157
  • Belum Ada Hasil Evaluasi, 133 Kepala Kampung di Mimika Diminta Tetap Aktif Bekerja

    614 shares
    Bagikan 246 Tweet 154
  • Dari Rp46 Miliar, Hanya Tersisa Rp5 Miliar untuk Operasional Satpol PP Mimika

    585 shares
    Bagikan 234 Tweet 146
  • “Kau Keluar Kau Aman”, Seorang Pria Ditemukan Tewas di Timika, Tiga Pelaku Diburu

    556 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • Jalan Poros Timika-Mapurujaya Kembali Memakan Korban, Seorang Wiraswasta Tewas di TKP

    540 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Pejabat BPKAD Terlibat: Komisi Yudisial Pantau Sidang Dugaan Korupsi Pengadaan ATK Rp4,1 Miliar

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
Next Post
16,9 Ton Kepiting Bakau Asal Timika Diekspor ke Malaysia dan Singapura

16,9 Ton Kepiting Bakau Asal Timika Diekspor ke Malaysia dan Singapura

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id