JAYAPURA, Koranpapua.id- Terdapat 38.732 anak di Provinsi Papua Selatan dilaporkan tidak mengejam pendidikan (tidak bersekolah).
Jumlah tersebut berdasarkan data yang ada Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia.
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo mengatakan, dengan jumlah yang hampir mencapai empat ribu anak yang tidak sekolah, akan berdampak besar terhadap masa depan generasi muda Papua Selatan kedepan.
“Data Pusdatin Kemendikdasmen jumlah anak tidak sekolah di Papua Selatan sebanyak 38.732 orang. Jumlah ini tersebar di empat kabupaten di Papua Selatan,” ujar Gubernur Apolo dalam keteranganya di Jayapura, Rabu 6 Mei 2026.
Kabupaten Asmat menjadi wilayah dengan angka anak tidak sekolah tertinggi, yakni mencapai 14.623 orang dan Kabupaten Mappi mencapai 12.445 anak.
Untuk Kabupaten Merauke terdapat 7.511 anak dan Kabupaten Boven Digoel sebanyak 4.153 anak.
Meski data yang ada dikeluarkan dari Pusdatin Kemendikdasmen, namun Gubernur Apolo mengatakan, data tersebut masih perlu diverifikasi ulang.
Ini bertujuan agar pemerintah memperoleh angka yang benar-benar akurat sebelum mengambil langkah penanganan lebih lanjut.
“Data awal sudah ada, sekarang tinggal bagaimana kita melakukan validasi atau melakukan pemeriksaan ulang guna mengetahui pasti jumlah anak di Papua Selatan yang tidak sekolah,” ujarnya.
Proses validasi sangat penting untuk memastikan ketepatan data sehingga program penanganan yang nantinya dijalankan bisa lebih tepat sasaran.
Pemerintah daerah pun diharapkan dapat segera memetakan persoalan utama yang menyebabkan banyak anak belum mengakses pendidikan.
Gubernur Apolo menilai persoalan pendidikan tidak bisa dianggap sepele karena berkaitan langsung dengan masa depan pembangunan daerah dan kualitas sumber daya manusia di Papua Selatan.
“Pendidikan sangat penting bagi kemajuan bangsa, sehingga angka anak tidak sekolah yang hampir mencapai 40 ribu ini harus segera diatasi,” ucap Gubernur Apolo Safanpo.
Terkait itu, Gubernur Apolo berharap kegiatan lokakarya pendataan dan pemetaan pendidikan yang sedang berlangsung dapat membantu para pelaku pendidikan mengidentifikasi berbagai persoalan.
Melalui pemetaan pemerintah dapat mengetahui hambatan utama yang membuat ribuan anak belum bersekolah.
Mulai dari keterbatasan akses pendidikan, kondisi geografis, hingga faktor sosial dan ekonomi masyarakat. (Redaksi)









