TIMIKA, Koranpapua.id- Kepeting bakau atau sering disebut masyarakat lokal Karaka (Scylla), kini menjadi salah satu komoditas unggulan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.
Kepeting yang banyak ditemukan di muara sungai dan pesisir pantai Mimika itu, telah menjadi komoditas eksport yang cukup tinggi di beberapa negara di Asia Tenggara.
Kepala Kantor Bea Cukai Timika, Yudi Amirullah, mengatakan kepiting ini merupakan hasil tangkapan nelayan, bukan dari budidaya.
Menurutnya, terhitung sejak Januari hingga awal Mei 2026 sebanyak 16,9 ton Karaka sudah diekspor ke luar negeri. Dari jumlah itu, 9,19 ton dikirim ke Malaysia dan 7,7 ton ke Singapura
“Kalau dari hasil tangkapan nelayan dan jumlahnya mencukupi, kemudian ada pasar di luar, maka dilakukan ekspor. Pemberitahuan ekspornya melalui kami dengan dokumen PEB,” kata Yudi, Kamis 7 Mei 2026.
Pengiriman dilakukan lewat jalur udara, dengan transit terlebih dulu di Jakarta sebelum diteruskan ke negara tujuan.
Menurut Yudi, kepiting bakau dari Timika cukup diminati di Malaysia dan Singapura, sehingga jadi salah satu komoditas andalan ekspor daerah.
Namun tantangannya ada pada ketersediaan stok karena sangat bergantung pada hasil tangkapan nelayan.
“Makanya kadang-kadang dari produk Timika itu dikumpulkan dulu,” ujarnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







