TIMIKA, Koranpapua.id- Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang dimiliki Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mimika selama ini, tidak akurat.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Mimika, Antonius Welerubun meengungkapkan bahwa, setelah dilakukan pengecekan terdapat perbedaan yang sangat signifikan, antara data di pemerintah pusat dengan kondisi riil yang ada di sekolah.
Tidak akuratnya Dapodik berdampak langsung terhadap pelaksanaan distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mimika.
“Persoalan ini berdampak langsung pada distribusi makanan yang tidak tepat sasaran hingga memicu pemborosan logistik di lapangan,” ujar Antonius di Timika.
Antonius menjelaskan, Dapodik berkaitan langsung dengan program MBG, karena tersistem dalam dashboard berbasis Dapodik yang digunakan Kemendikdasmen untuk memantau, mendata, dan menyalurkan program makan siang gratis bagi peserta didik.
“Iya menjadi alat untuk memastikan distribusi makanan bergizi tepat sasaran. Tapi di Mimika, data Dapodik tidak akurat. Ada semacam manipulasi,” tegas Antonius.
Ia mencontohkan, ada murid yang sudah meninggal tetapi namanya masih tercatat, atau yang sudah pindah sekolah, namun datanya belum diperbarui.
Dampak yang diakibatkan oleh kacaunya data Dapodik ini yakni, ketidakpastian jumlah siswa sehingga penyaluran program MBG menjadi tidak efektif.
Ada sekolah dilaporkan menerima kelebihan porsi makanan hingga terbuang, sementara sekolah lain justru mengalami kekurangan.
Antonius juga menyebutkan, selain Dapodik, persoalan lain yang menjadi penyumbang kendala pelaksanaan MBG yakni, kurangnya koordinasi dan administrasi program.
Bahkan menurutnya, soal rencana pembangunan 18 titik dapur umum di Mimika hingga kini belum memiliki dasar hukum atau dokumen resmi yang diterima Dinas Pendidikan.
“Memang sudah ada komunikasi mengenai 18 titik dapur, tetapi itu masih sebatas lisan, belum ada surat resmi,” jelas Antonius.
Mantan Kadis Perikanan Mimika itu juga menyampaikan bahwa Dinas Pendidikan tidak mendapatkan informasi resmi terkait penghentian sementara program MBG di sejumlah sekolah.
“Koordinasi yang berjalan sejauh ini disebut masih bersifat informal. Kami belum mendapatkan informasi resmi. Hanya sebatas komunikasi saat mereka datang bersilaturahmi,” tambah Antonius. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru








