ADVERTISEMENT
Selasa, Mei 26, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Papua

Papua Bukan Tanah Kosong: Kami Merasa Seperti Anak Domba Kehilangan Induk di Negeri Sendiri

Tuhan sudah menentukan bagi setiap bangsa, bahwa suku, bahasa, budaya, dan pulau sudah jelas batas dan pemiliknya. Maka hargailah kepada setiap suku, budaya, dan segalanya yang ada.

10 April 2026
0
Papua Bukan Tanah Kosong: Kami Merasa Seperti Anak Domba Kehilangan Induk di Negeri Sendiri

Yudas Degei. (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TANAH PAPUA bukanlah tanah kosong yang siap diambil sembarangan. Bagi dunia luar, mungkin mata mereka hanya melihat hamparan hutan belantara yang luas, gunung yang menjulang, dan kekayaan alam yang belum tergali.

Namun bagi kami, orang asli Papua, setiap jengkal tanah ini memiliki nama, memiliki sejarah, memiliki pemilik adat, dan menyimpan ikatan spiritual yang telah terjalin sejak ribuan tahun lalu.

ADVERTISEMENT

Hutan, sungai, dan gunung bukan sekadar objek sumber daya alam yang bisa dihitung nilainya dalam rupiah atau dolar.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bagi kami, semua itu adalah tubuh, adalah rumah, dan adalah induk yang terus memberi kehidupan bagi generasi demi generasi.

Baca Juga

Dari Kampung ke Jawa, Tiga Taruna Papua Binaan YPMAK Kejar Mimpi di Bidang Kelautan

Dirjen Bimas Kristen: Pesparawi Nasional XIV di Manokwari Bawa Pesan Kerukunan dari Tanah Papua

Di tanah ini, nenek moyang kami telah hidup, berjuang, dan meninggal. Di tanah inilah tulang belulang leluhur kami bersemayam.

Setiap pohon yang tumbuh, setiap aliran sungai yang mengalir, memiliki cerita dan aturan main yang dijaga secara turun-temurun melalui hukum adat.

Kami tidak pernah menganggap tanah ini sebagai sesuatu yang mati atau menganggur. Tanah ini hidup, tanah ini bernyawa, dan tanah ini milik kami.

Namun, ironisnya, apa yang kami rasakan saat ini sangat menyakitkan. Di negeri sendiri, di tanah yang kami warisi dari leluhur, kami merasa seperti anak domba yang kehilangan induknya.

Indonesia, sebagai negara yang mengaku mengayomi kami, justru sering kali membuat kami merasa terasing, terpinggirkan, tak berdaya, dan tersesat di tempat kami sendiri dilahirkan.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat seolah-olah memandang tanah kami sebagai “tanah tanpa tuan”.

Peta-peta digambar di meja-meja empuk di kota jauh di sana, tanpa pernah menapakkan kaki untuk melihat siapa yang sebenarnya hidup di atas tanah tersebut.

Izin-izin konsesi dikeluarkan, batas-batas wilayah digeser, dan proyek-proyek raksasa dibangun, seolah-olah penduduk asli tidak ada sama sekali.

Kami melihat hutan yang menjadi induk dan sumber hidup kami ditebang habis.

Sungai yang menjadi tempat kami mencari makan dan mandi menjadi keruh dan tercemar.

Tanah ulayat yang menjadi jaminan masa depan anak cucu kami perlahan hilang, berubah menjadi kawasan industri, perkebunan, atau wilayah yang diklaim sebagai milik negara atau pihak lain.

Semua itu terjadi seringkali tanpa persetujuan kami, tanpa konsultasi yang baik, dan tanpa kompensasi yang adil.

Kami merasa diperlakukan seperti orang bodoh yang mudah ditipu dengan janji-janji manis pembangunan, atau seperti anak domba yang kehilangan induknya, hanya bisa mengembik kesepian tapi tidak punya kuasa untuk melawan saat hak-haknya dirampas.

Pembangunan yang digembar-gemborkan untuk kesejahteraan, pada akhirnya hanya dinikmati oleh orang-orang yang datang dari luar, sementara kami tetap hidup dalam keterbatasan, bahkan semakin menderita dan merasa asing.

Kami menolak dengan tegas cara seperti ini terus berlanjut. Kami tidak menolak kemajuan, kami juga ingin hidup sejahtera, kami juga ingin jalan yang bagus, sekolah yang layak, dan fasilitas kesehatan yang memadai.

Tapi tolong pahami dengan sangat jelas, kemajuan tidak harus datang dengan cara menginjak-injak harga diri kami dan merampas apa yang menjadi hak mutlak kami.

Kami menginginkan kemajuan yang menghargai keberadaan kami. Kami ingin menjadi subjek dalam pembangunan negeri ini, bukan objek yang bisa digeser-geser sesuka hati.

Kami ingin diakui sebagai pemilik sah tanah ini, bukan orang asing yang harus menyingkir demi kepentingan kelompok lain.

Kepada pemerintah, kepada para investor, dan kepada seluruh bangsa Indonesia: Dengarkan suara hati ini. Papua bukanlah wilayah yang baru ditemukan dan siap dieksploitasi.

Papua adalah rumah dan induk bagi jutaan manusia yang memiliki budaya luhur dan cinta tanah air yang luar biasa.

Berhentilah berpikir bahwa Papua adalah tanah kosong. Mata hati kalian harus terbuka bahwa di sini sudah ada peradaban dan pemiliknya yang sah. Cukup sudah kami merasa seperti anak domba yang kehilangan induknya di negeri sendiri.

Papua milik orang Papua. Hak adat tak boleh tergadaikan. Tanah ini hidup, dan kami akan terus menjaganya sampai akhir.

Karena Tuhan sudah menentukan bagi setiap bangsa, bahwa suku, bahasa, budaya, dan pulau sudah jelas batas dan pemiliknya. Maka hargailah kepada setiap suku, budaya, dan segalanya yang ada. (*)

Penulis: Yudas Degei

Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai, Papua Tengah.

 

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Dari Kampung ke Jawa, Tiga Taruna Papua Binaan YPMAK Kejar Mimpi di Bidang Kelautan

Dari Kampung ke Jawa, Tiga Taruna Papua Binaan YPMAK Kejar Mimpi di Bidang Kelautan

25 Mei 2026
Peringatan! Kawasan Wisata Kali Wania-Timika Rawan Pemerkosaan dan Perampokan

Peringatan! Kawasan Wisata Kali Wania-Timika Rawan Pemerkosaan dan Perampokan

25 Mei 2026
Polisi Dalami Dugaan Pengrusakan Pagar Tanah Keuskupan Timika, Kapolres: Anggota Terlibat Ditindak Tegas

Polisi Dalami Dugaan Pengrusakan Pagar Tanah Keuskupan Timika, Kapolres: Anggota Terlibat Ditindak Tegas

25 Mei 2026
Dirjen Bimas Kristen: Pesparawi Nasional XIV di Manokwari Bawa Pesan Kerukunan dari Tanah Papua

Dirjen Bimas Kristen: Pesparawi Nasional XIV di Manokwari Bawa Pesan Kerukunan dari Tanah Papua

25 Mei 2026
Uskup Timika Pimpin Perayaan Pentakosta di Fakfak, Suasana Lintas Iman Sangat Terasa

Uskup Timika Pimpin Perayaan Pentakosta di Fakfak, Suasana Lintas Iman Sangat Terasa

25 Mei 2026
Penyelesaian Konflik Papua: KWI Soroti Luka Sosial dan Tolak Pendekatan Keamanan

Penyelesaian Konflik Papua: KWI Soroti Luka Sosial dan Tolak Pendekatan Keamanan

25 Mei 2026

POPULER

  • Sebelum Eksekusi Pendulang Emas, Pelaku Minta Makan dan Dibuatkan Kopi

    Sebelum Eksekusi Pendulang Emas, Pelaku Minta Makan dan Dibuatkan Kopi

    710 shares
    Bagikan 284 Tweet 178
  • Perkelahian Dua Pria di Timika Berujung Korban Dilarikan ke RSMM, Pelaku Masuk Tahanan Polisi

    627 shares
    Bagikan 251 Tweet 157
  • Disaksikan Istri, Pencari Karaka di Timika Diterkam Buaya, SAR Lakukan Pencarian

    564 shares
    Bagikan 226 Tweet 141
  • Pengerusakan Pagar Tanah Keuskupan Timika Diduga Dibeking Oknum Aparat Keamanan

    541 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Peringatan! Kawasan Wisata Kali Wania-Timika Rawan Pemerkosaan dan Perampokan

    540 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
  • Delapan Pendulang Emas Tewas di Yahukimo, Jubir TPNPB: Pembunuhan sebagai Aksi Balas Dendam

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Tragedi Pendulang Emas di Awimbon: 10 Orang Tewas, Evakuasi Korban dan Penyelidikan Terus Berlanjut

    532 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
Next Post
Jaga Keamanan Obvitnas, Korpasgat Supadio Lakukan Pemeriksaan Ketat di Bandara Nabire

Jaga Keamanan Obvitnas, Korpasgat Supadio Lakukan Pemeriksaan Ketat di Bandara Nabire

Evakuasi Guru yang Menderita Sakit di Distrik Hoya Masih Terkendala Cuaca Buruk

Dugaan Pemotongan Dana BOS di Mimika Jadi Atensi, Kadisdik: Jika Ada Temuan Kepsek Berani Lapor

Satpol PP Mimika Operasi Penertiban Pedagang Kaki Lima di Sejumlah Ruas Jalan dalam Kota

Satpol PP Mimika Operasi Penertiban Pedagang Kaki Lima di Sejumlah Ruas Jalan dalam Kota

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id