ADVERTISEMENT
Kamis, Maret 19, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Ekonomi

Suara yang Terkubur di Tanah Emas

Mereka bukan perusuh. Mereka adalah anak negeri yang hanya ingin diperlakukan adil. Mereka tidak meminta belas kasihan, tetapi hanya menuntut apa yang seharusnya menjadi haknya.

19 Maret 2026
0
Retret yang Dibubarkan: Luka Lama Kebebasan Beragama di Negeri Pancasila

Gabriel Zezo, Ketua Flobamora Mimika.(foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Oleh Gabriel Zezo: Pemerhati Sosial, Tinggal di Timika

TIMIKA, Koranpapua.id- Sudah sembilan tahun suara itu berteriak namun tak kunjung terdengar. Suara para karyawan yang pernah menjadi tulang punggung keluarga dan penggerak ekonomi daerah.

ADVERTISEMENT

Mereka juga penyumbang nyata bagi negara melalui keringat dan pajak yang dmereka bayarkan setiap bulan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Hari ini, mereka berdiri di titik yang sama, menuntut hak yang diabaikan, menunggu keadilan yang tak kunjung datang.

Baca Juga

Kapolda Papua Barat Daya Gelar Rapat Khusus Tangani Kasus Dugaan Diskriminasi Siswi SD Kalam Kudus

Dukung Harga Tiket Tetap Terjangkau, Pertamina Diskon 10 Persen Pengisian Avtur di  Dua Bandara Papua

Di tanah yang kaya akan emas dan sumber daya alam, ironi justru tumbuh subur.

Mereka yang bekerja di dalamnya justru hidup dalam ketidakpastian.

Mogok kerja yang awalnya adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, kini berubah menjadi simbol panjangnya penderitaan.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat itu adalah hampir satu dekade kehilangan penghasilan, kehilangan martabat, bahkan kehilangan harapan.

Lebih menyakitkan lagi, perjuangan ini bukan tanpa korban. Ada yang ditinggalkan keluarga, ada yang kehilangan arah hidup, bahkan ada yang mengakhiri hidupnya sendiri karena tak lagi melihat jalan keluar.

Pertanyaannya sederhana namun mengguncang. Di mana negara ketika rakyatnya berjuang sendirian?

Berbagai pintu telah diketuk dari daerah hingga pusat. Aspirasi telah disampaikan, laporan telah dibuat, janji-janji telah diucapkan.

Namun yang tersisa hanyalah kesunyian. Negara seolah hadir dalam teks undang-undang, tetapi absen dalam kenyataan.

Para wakil rakyat yang dahulu datang dengan janji manis, kini hilang tanpa jejak. Suara-suara yang dulu lantang membela kini redup di balik kepentingan.

Apakah keadilan hanya milik mereka yang kuat? Apakah hak hanya berlaku bagi mereka yang punya kuasa?

Jika demikian, lalu di mana posisi rakyat kecil dalam sistem yang katanya menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia?

Para pekerja ini bukan musuh perusahaan. Mereka bukan perusuh. Mereka adalah anak negeri yang hanya ingin diperlakukan adil.

Mereka tidak meminta belas kasihan, tetapi hanya menuntut apa yang seharusnya menjadi haknya.

Hak atas pekerjaan yang layak, hak atas penghidupan yang manusiawi, dan hak untuk didengar sebagai warga negara.

Ironi terbesar adalah ketika suara mereka justru tenggelam bukan karena tidak ada, tetapi karena tidak didengar.

Seolah-olah jeritan mereka hanyut bersama arus sungai Ajikwa, lalu hilang di kedalaman Laut Arafura.

Padahal, di balik setiap teriakan itu ada keluarga yang menunggu, ada anak-anak yang berharap, ada kehidupan yang sedang dipertaruhkan.

Tulisan ini bukan sekadar keluhan. Ini adalah panggilan. Panggilan kepada negara untuk hadir, kepada pemimpin untuk bertanggung jawab, dan kepada semua pihak untuk tidak lagi menutup mata.

Karena jika keadilan terus dibiarkan diam, maka yang tumbuh bukan hanya kekecewaan tetapi ketidakpercayaan.

Dan ketika rakyat sudah tidak percaya lagi pada keadilan, maka sesungguhnya yang runtuh bukan hanya harapan, tetapi juga fondasi negara itu sendiri.

Sudah saatnya suara yang terkubur ini diangkat kembali ke permukaan. Didengar, dipahami, dan diselesaikan bukan dengan janji, tetapi dengan tindakan nyata.

Karena mereka bukan sekadar angka dalam statistik. Mereka adalah manusia seperti penguasa di negeri ini. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Kapolda Papua Barat Daya Gelar Rapat Khusus Tangani Kasus Dugaan Diskriminasi Siswi SD Kalam Kudus

Kapolda Papua Barat Daya Gelar Rapat Khusus Tangani Kasus Dugaan Diskriminasi Siswi SD Kalam Kudus

19 Maret 2026
Dukung Harga Tiket Tetap Terjangkau, Pertamina Diskon 10 Persen Pengisian Avtur di  Dua Bandara Papua

Dukung Harga Tiket Tetap Terjangkau, Pertamina Diskon 10 Persen Pengisian Avtur di  Dua Bandara Papua

19 Maret 2026
Pemkab Tambrauw Fasilitasi Pemulangan Jenazah Yohanes Bido, Pemkab Ende Ucapkan Terima Kasih

Pemkab Tambrauw Fasilitasi Pemulangan Jenazah Yohanes Bido, Pemkab Ende Ucapkan Terima Kasih

19 Maret 2026
Film Pesta Babi Diputar di Sydney: Sangat Relevan dengan Misi Hak Masyarakat Adat, Mengundang Haru akan Papua

Film Pesta Babi Diputar di Sydney: Sangat Relevan dengan Misi Hak Masyarakat Adat, Mengundang Haru akan Papua

19 Maret 2026
Terlibat Sejumlah Aksi Kekerasan, KKB DPO Tewas Ditembak Aparat di Nabire

Terlibat Sejumlah Aksi Kekerasan, KKB DPO Tewas Ditembak Aparat di Nabire

19 Maret 2026
PHBI Nabire Terbitkan SE Pelaksanaan Malam Takbiran dan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah

PHBI Nabire Terbitkan SE Pelaksanaan Malam Takbiran dan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah

19 Maret 2026

POPULER

  • Sertijab Pejabat Pemkab Mimika Dibatalkan, Bupati dan Wabup Siap Temui ASN

    Sertijab Pejabat Pemkab Mimika Dibatalkan, Bupati dan Wabup Siap Temui ASN

    784 shares
    Bagikan 314 Tweet 196
  • Pemkab Mimika Mulai Cairkan THR untuk 8.000 ASN dan PPPK, Anggaran Capai Rp30 Miliar

    629 shares
    Bagikan 252 Tweet 157
  • Ratusan Massa Turun ke Jalan: Blokade Bundaran Timika Indah, Desak Bupati Mimika Batalkan Pelantikan Pejabat

    603 shares
    Bagikan 241 Tweet 151
  • Empat Tenaga Kesehatan Diserang KKB: Dua Orang Tewas, Satu Korban Asal Kabupaten Ende-NTT

    591 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • Pemandangan Unik: Nama Pejabat Mimika yang Dilantik Diduga Dibaca di Layar Handphone

    745 shares
    Bagikan 298 Tweet 186
  • Kinerja 133 Kepala Kampung Dievaluasi, Sekda Abraham Instruksikan Siapkan Dokumen dan Laporan Keuangan

    581 shares
    Bagikan 232 Tweet 145
  • Jual Senjata Organik Seharga Rp90 Juta, Oknum Prajurit TNI Ditangkap

    571 shares
    Bagikan 228 Tweet 143
Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id