NABIRE, Koranpapua.id- Malaria di Papua Tengah masih menjadi salah satu penyakit endemik dengan tingkat penularan yang cukup tinggi.
Hal itu dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya oleh parasite plasmodium melalui gigitan nyamuk Anopheles dan didukung kondisi geografis dan lingkungan yang lembab.
Terkait dengan masih tingginya kasus malaria, mendorong Dinas Kesehatan Papua Tengah untuk terus berkomitmen memperkuat pengendalian melalui berbagai upaya.
Di antaranya peningkatan pelayanan, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kolaborasi antara pemangku kepentingan.
Termasuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan dan kepedulian terhadap perilaku hidup sehat.
Penanggung Jawab Program Malaria Dinkes Papua Tengah, Yenice Derek mengatakan, seluruh stakeholder harus mendukung upaya percepatan eliminasi malaria.
Karena menurutnya, kolaborasi adalah salah satu cara jitu menekan angka kasus malaria.
“Edukasi dan kepedulian seluruh stakeholder, termasuk masyarakat yang peduli kebersihan dan perilaku hidup sehat, bisa mengurangi kasus malaria,” ujar Yenice di Nabire, Selasa 3 Maret 2026.
Sebelumnya, Plt Kepala Dinkes Papua Tengah, dr. Agus mengatakan, saat ini Kabupaten Mimika masih menduduki peringkat pertama kasus malaria di Papua Tengah.
Menurutnya, akumulasi kasus malaria di delapan kabupaten di Papua Tengah pada 2025, mencapai 205.068 kasus.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 190.597 kasus atau 80 persennya ada di Kabupaten Mimika.
Agus menuturkan, setelah Mimika diikuti Kabupaten Nabire 8.744 kasus, Kabupaten Puncak 3.025 kasus, Kabupaten Puncak Jaya 2.031 kasus.
Selanjutnya Kabupaten Intan Jaya 334 kasus, Kabupaten Paniai 273 kasus, Kabupaten Deiyai 51 kasus, dan Kabupaten Dogiyai 13 kasus.
“Masih terbanyak berada di Kabupaten Mimika untuk seluruh kabupaten di Papua Tengah,” ujar Agus di Nabire, Senin 2 Maret 2026.
Agus menjelaskan, keberadaan nyamuk Anopheles dan parasit Plasmodium di tubuh manusia masih menjadi penyebab tingginya kasus malaria.
“Nyamuk media pembawa bibit penyakit dari orang ke orang. Faktor lainnya adalah kebersihan lingkungan, seperti genangan air akibat curah hujan tinggi, sampah dan sebagainya,” jelasnya.
Ia mengatakan, solusi utama sebagai deteksi dini adalah melakukan screening massal, baik warga yang sakit maupun sehat tanpa gejala.
Setelah dilakukan screening massal, dan ditemukan warga yang positif malaria langsung diberi obat dan minum hingga tuntas.
“Obat malaria diminum tiga hari awal, kemudian dilanjutkan dengan melakukan periksaan ulang setelah 14 hari. Jika hasilnya masih positif, ulangi pengobatan hingga jadi negatif,” pungkasnya.
Dengan cara itu dapat menghilangkan plasmodium dari tubuh agar nyamuk tidak lagi membawa infeksi ke orang lain.
“Seseorang positif tanpa gejala minum obat tuntas, periksa ulang negatif. Meski digigit nyamuk, dia tidak lagi menularkan penyakit karena parasit sudah hilang,” jelasnya lagi. (Redaksi)








