ADVERTISEMENT
Selasa, Agustus 4, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Agama

Antonilda, SSPS: Mataloko, Uta Tabha dan Budaya Matrilineal

Uta Tabha merupakan campuran jagung, sayur-sayuran, ubi, kestela, kelapa parut, sambal agak pedas, sedikit berair dan makan dalam keadaan panas.

7 Juli 2024
0
Antonilda, SSPS: Mataloko, Uta Tabha dan Budaya Matrilineal

RD. Stefanus Wolo Itu dan Sr. Antonilda SSPS. (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Seri Lepas Rindu Mantan Misionaris Flores (Bagian- 1)

Oleh : RD. Stefanus Wolo Itu

ADVERTISEMENT

HARI Sabtu 29 Juni 2024 saya pergi ke Laupheim. Kota kecil berpenduduk 22.863 ribu jiwa itu terletak di negara bagian Baden-Württemberg, Jerman Selatan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Jarak Eiken (Swiss) dan Laupheim (Jerman) 205 Km dan ditempuh hampir tiga jam dengan mobil atau empat jam dengan kereta.

Baca Juga

Mahasiswa KKN-K Bersama Warga RT 03 RW 03 Panji Lor Gelar Kerja Bakti Lingkungan

Mendagri Tito Letakkan Batu Pertama Sekolah Rakyat di Biak, Beroperasi Tahun Ajaran 2027

Laupheim disebut pertama dalam sejarah tahun tahun 778. Kota ini pernah dikuasai beberapa kerajaan berbeda: Hungaria, Waldburg, Habsburg-Austria dan Württemberg.

Setelah perang dunia kedua sempat dikuasai Perancis. Tahun 1947 secara resmi menjadi wilayah negara bagian Baden-Württemberg.

Laupheim juga sejak tahun 1724 dikenal sebagai pusat komunitas Yahudi terbesar (843 orang) di Baden-Württemberg.

Jumlah mereka terus menurun, terutama ketika Hitler berkuasa. Banyak yang berpindah ke luar negeri. Dan yang tersisa menjadi korban kejahatan kemanusiaan, Holocaust tahun 1942.

Saya pergi ke Laupheim untuk mengunjungi “oma-oma suster SSPS, mantan misionaris Flores”.

Sejak tahun 1966, para suster SSPS Jerman membeli tanah bekas pemukiman Yahudi dan mendirikan rumah misi.

Komunitas ini pernah menjadi pusat provinsialat SSPS Jerman Selatan.

Saat ini hampir tidak ada lagi panggilan baru di Jerman. Anggota konggregasi yang tersisa 76 orang. Mayoritas mereka berusia di atas 80 an tahun.

Konggregasi bersepakat menjual tanah dan bangunan kepada “illerSENIO atau Caritas Lembah Iller”. IllerSENIO membangun rumah jompo di samping bangunan lama.

Beberapa bangunan tua SSPS sudah dirobohkan. Satu bangunan bertingkat sedang direnovasi.

Kapela dibiarkan tetap berdiri menyatu dengan gedung baru yang sudah ditempati orang-orang jompo.

Ketujuhpuluhan “oma-oma suster SSPS” juga menyewa dan tinggal di sana.

Mereka tinggal di bagian khusus agar tetap menjalankan aktivitas komunitas: doa, ekaristi, penyembahan sakramen, sharing kitab suci dan retret pribadi.

Jam 11.52 saya tiba di stasiun kereta api Laupheim Stadt. Dari stasiun saya berjalan kaki delapan menit menuju rumah jompo illerSENIO di Albert-Magg-Strasse 1.

Sr. Anna Maria, mantan provinsial SSPS Jerman menerima dan menghantar saya menuju kamar makan. Kebetulan mereka sedang makan siang.

“Schwester Antonilda und Reginardis, Sie haben einen Besuch, Pfarrer Stefan von Flores. Er ist im Bistum Basel Schweiz tätig. Suster Antonilda dan Reginardis, kamu mendapat kunjungan, pastor Stefan dari Flores. Dia bekerja di Keuskupan Basel Swiss”, kata Sr. Anna Maria.

Sr. Antonilda dan Reginardis yang kebetulan duduk semeja berusaha berdiri. Saya berjabat tangan dan memeluk mereka, menyerahkan madu, marmalade dan coklat Swiss.

Mereka sudah mempersiapkan satu kursi kosong, mempersilahkan saya duduk. Sr. Anna Maria menyodorkan sup dan makanan utama untuk saya cicipi. Sambil makan kami berceritera.

Setelah makan mereka menghantar saya menuju kapela. Kami hening, berdoa Bapa Kami dan Salam Maria.

Saya menyanyikan lagu Mengasih Maria dan memberikan berkat penutup. Wajah mereka berbinar-binar.

Dari kapela kami menuju pendopo dan berbagi ceritera tentang masa lalu di Flores. Sambil minum kopi kami ngobrol santai tentang masa lalu di Flores.

Mereka sudah lupa-lupa bahasa Indonesia. Karena itu kami ngobrol dalam bahasa Jerman.

Mataloko, Uta Tabha dan Budaya Matrilineal

Saya mengenal Sr. Antonilda saat kelas empat SD tahun 1978 di BP. Palang Suci Mataloko.

Beberapa kali saya sakit cukup serius. Bapak dan kakak Yohanes menghantar saya ke sana. Saya selalu tertolong.

Suster Antonilda tangan dingin. Dia memberi obat terbaik. Dia selalu tersenyum saat menyuntik pasien. Suntikannya tidak sakit.

“Saya menderita batu kering hampir dua tahun. Sr. Antonilda memberikan 2000 tablet INH dan sembuh, ” demikian kesaksian ayah saya.

Sr. Antonilda SSPS lahir di Hohentengen, Sigmaringen Baden-Württemberg tanggal 7 Agustus 1937.

Tahun 1968 Antonilda menuju tanah misi Flores dan tinggal di Hokeng.

Akhir tahun 1968 – 1975 ia bekerja di rumah sakit St. Elisabeth Lela Maumere. Tahun 1975-1982 ia pindah ke BP. Palang Suci Mataloko.

Tahun 1982-1998 Antonilda pindah ke RS Kewapante Maumere. Tahun 1998 ia kembali ke Mataloko hingga tahun 2008.

Tahun 2008, Sr. Antonilda kembali ke Jerman dan ingin menikmati masa tua di negeri asal.

Ia menetap di Laupheim, rumah induk saat pertama diutus ke tanah misi Flores.

“Laupheim terletak tidak jauh dari kampung halaman saya, 50 an kilometer. Bila rindu kampung, saya bisa ke sana”, kata Sr. Antonilda.

Saya coba menggali isi hatinya: “Selama 40 tahun Sr. Antonilda berada di Flores. Adakah hal berkesan selama di Flores secara khusus Mataloko ?” Suster Antonilda mulai berkisah penuh semangat.

Mataloko hat angenehmes klima. Cuaca Mataloko sangat nyaman dan menyenangkan. Suasananya seperti di Eropa. Tanahnya subur, banyak sayur dan buah.

“Markis, terung Belanda, stroberi bisa tumbuh dan berbuah di sana. Saya suka pisang bakar dan makan Uta Tabha, makanan khas orang Mataloko dan Ngada umumnya”.

Makanan Uta Tabha merupakan campuran jagung, sayur-sayuran, ubi, kestela, kelapa parut, sambal agak pedas, sedikit berair dan makan dalam keadaan panas.

“Saya juga ingat Mataloko dengan pohon-pohon albesia yang rindang. Albesia itu datangnya dari Amerika. Kalau tidak salah dibawa oleh misionaris Amerika P. William Popp SVD untuk melindungi tanaman kopi”.

“Orang-orang Mataloko dan sekitarnya rajin misa. Gereja selalu penuh. Mereka menyanyi sambil menari. Terutama pada saat pesta tubuh dan darah Kristus dan Kristus Raja Semesta Alam”.

Setelah perayaan ada makan dan minum moke bersama. Beda dengan situasi kita di Eropa. Setiap hari Minggu atau hari raya hanya sedikit orang yang mengikuti perayaan ekaristi. Bangku-bangku banyak kosong.

“Saya juga mengagumi budaya matriarkat orang Ngada. Perempuan tidak dibelis. Mereka dihormati dan mempunyai otoritas dalam keluarga. Mereka berwewenang untuk mengambil keputusan penting”.

“Pembagian harta warisan berdasarkan garis keturunan ibu. Saya harap perempuan-perempuan dari budaya matrilineal bisa lebih berperan penting dan strategis dalam ranah publik”, kata Sr. Antonilda penuh harapan.

Sr. Antonilda berceritera: “Dulu di beberapa wilayah Eropa, peran perempuan di ranah publik sangat terbatas.

Mereka bahkan diperlakukan secara tidak adil. Pada masa awal gerakan feminisme di Eropa, banyak wanita memilih masuk biara.

Biara menjadi tempat pelarian dan sering tampak seperti penjara.

Tapi di sisi lain, biara merupakan tempat pemenuhan sejati agar perempuan bisa membaca, menulis, berhitung, berpendidikan lebih layak dan tampil di ranah publik.

“Saya tak tahu maksud Sr. Antonilda mengisahkan cerita ini. Yang pasti ia ingin agar generasi baru, wanita-wanita istimewa bisa terus bermunculan dari kawasan budaya matrilineal yang dia kagumi. Semoga mereka berperan lebih di ranah publik gereja, politik dan kemasyarakatan”.

Terima kasih Sr. Antonilda atas perjumpaan penuh sukacita. Terima kasih atas jasamu membangun tanah misi Flores.

Engkau pernah menjadi bagian dari masyarakat, budaya dan kehidupan kami. Saya akan datang lagi ke Laupheim dan melanjutkan ceritera indah tentang Hokeng, Lela, Kewapante, Mataloko. Ya tentang Flores, Nusa Bunga.

Eiken AG Swiss, Minggu Malam Menjelang 1 Juli 2024. (**)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Bupati Johannes Rettob Warning Kepala OPD yang Absen di Pembahasan LKPJ DPRK

Bupati Johannes Rettob Warning Kepala OPD yang Absen di Pembahasan LKPJ DPRK

4 Agustus 2026
10 Anggota Paskibraka Mimika Berangkat ke Nabire, Siap Kibarkan Merah Putih di HUT RI

10 Anggota Paskibraka Mimika Berangkat ke Nabire, Siap Kibarkan Merah Putih di HUT RI

4 Agustus 2026
Satgas Pamtas RI-PNG Pos Timika Ikut Donor Darah, Bantu Penuhi Kebutuhan Stok Darah

Satgas Pamtas RI-PNG Pos Timika Ikut Donor Darah, Bantu Penuhi Kebutuhan Stok Darah

4 Agustus 2026
Buang Sampah di Jalan, Pemilik Usaha di Timika Terancam Sanksi hingga Penutupan

Buang Sampah di Jalan, Pemilik Usaha di Timika Terancam Sanksi hingga Penutupan

4 Agustus 2026
Pulihkan Pendidikan Wa Banti, Freeport Bangun PAUD dan SD Dua Lantai Beroperasi 2027

Pulihkan Pendidikan Wa Banti, Freeport Bangun PAUD dan SD Dua Lantai Beroperasi 2027

4 Agustus 2026
Kapolres Jayapura Minta Maaf, Janji Evaluasi Anggota usai Dugaan Intimidasi Wartawan

Kapolres Jayapura Minta Maaf, Janji Evaluasi Anggota usai Dugaan Intimidasi Wartawan

4 Agustus 2026

POPULER

  • Oknum Polisi Tembak Warga di Timika, Kapolres Ungkap Dugaan Perselingkuhan Jadi Motif

    Oknum Polisi Tembak Warga di Timika, Kapolres Ungkap Dugaan Perselingkuhan Jadi Motif

    654 shares
    Bagikan 262 Tweet 164
  • “Babi Saja Naik Pesawat,” Bupati Nabire Desak Pusat Prioritaskan Infrastruktur Papua

    610 shares
    Bagikan 244 Tweet 153
  • 12 Poin Kesepakatan Timika Resmi Diserahkan kepada Presiden, Meki Nawipa Beberkan Isinya

    584 shares
    Bagikan 234 Tweet 146
  • Tiga Tahun Harumkan Nama Papua di Panggung Reggae Dunia: Dave Baransano Masih Berjuang Sendiri, Butuh Dukungan

    606 shares
    Bagikan 242 Tweet 152
  • Pria 37 Tahun Ditemukan Meninggal di Rumahnya di Timika, Penyebab Belum Diketahui

    568 shares
    Bagikan 227 Tweet 142
  • Wamen PPN Ingatkan Kepala Daerah, Jangan Kelola Dana Otsus di Luar Perencanaan

    553 shares
    Bagikan 221 Tweet 138
  • Lima Pekerja Proyek Jalan PT SHJ Tewas Ditembak di Tolikara, Satu Korban Belum Dievakuasi

    539 shares
    Bagikan 216 Tweet 135
Next Post
Reginardis SSpS: Bunga Bakung dari Lippach

Reginardis SSpS: Bunga Bakung dari Lippach

KKB Pembunuh Rusli Ditembak Mati Satgas OCD 2024, Berikut Catatan Kriminalnya

KKB Pembunuh Rusli Ditembak Mati Satgas OCD 2024, Berikut Catatan Kriminalnya

Polres Mimika Gelar Operasi Patuh Cartenz 2024, Berikut Tujuh Sasaran Tindak Pelanggaran

Polres Mimika Gelar Operasi Patuh Cartenz 2024, Berikut Tujuh Sasaran Tindak Pelanggaran

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id