ADVERTISEMENT
Minggu, September 13, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Ekonomi

Pemkab Mimika Gandeng UNIPA Seminar Pendahuluan Penyusunan Kajian Budidaya Kopi Robusta

Dengan makin terbatasnya lahan pengembangan kopi di wilayah-wilayah sebelum penghasil kopi, maka Mimika menjadi kesempatan yang sangat luar biasa untuk menangkap peluang ini sebagai wilayah baru dalam pengembangan kopi.

12 September 2023
0
Pemkab Mimika Gandeng UNIPA Seminar Pendahuluan Penyusunan Kajian Budidaya Kopi Robusta

Yohana Paliling, Kepala Bappeda Mimika, Alice Irene Wanma, Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultira Mimika foto bersama narasumber, para petani setelah acara pembukaan, Selasa 12 September 2023. (Foto : Redaksi/Koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id- Pemerintah Kabupaten Mimika melakukan Seminar Pendahuluan Penyusunan Kajian Pengembangan Budidaya Kopi Robusta, bekerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Selasa 12 September 2023.

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Bappeda dibuka oleh Ir. Yohana Paliling, M.Si menggantikan Bupati Mimika Dr. Eltinus Omaleng, SE., MH.

ADVERTISEMENT

Bupati Eltinus dalam sambutan mengungkapkan berdasarkan data yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) nilai eksport kopi Indonesia ke manca negara mencapai 1,13 miliar Dolar Amerika.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dengan demikian kopi menjadi komoditi unggulan di Indonesia yang mempunyai nilai eksport tinggi. Pertumbuhan eksport kopi pada tahun 2022 mengalami peningkatan sebesar 12,92 persen jika dibandingkan dengan tahun 2021.

Baca Juga

Gangguan Keamanan di Jila, Nakes Trauma hingga Harus Dipindahkan

Jalanan Timika dipenuhi Debu, Bupati Instruksikan BPBD Lakukan Penyiraman

Indonesia saat ini berada di peringkat ke empat sebagai penghasil kopi terbesar di dunia. Salah satu keunggulan kopi Indonesia dibandingkan dengan kopi di negara lain adalah keberagaman pengembangan dalam budidaya.

Hal itu menciptakan cita rasa juga beragam yang khas dari setiap lokasi perkebunan karena sifatnya yang khusus.

Selain itu tingkat konsumsi kopi dalam negeri maupun luar negeri juga tinggi seiring dengan makin banyaknya penikmat kopi, tidak saja kaum tua melainkan sudah merambat menjadi lifestyle kaum milenial.

Dengan demikian mendorong pertumbuhan tempat-tempat usaha cafe-cafe kopi dalam meningkatkan pendapatan ekonomi.

Makin banyaknya penikmat kopi maka pengembangannya tidak hanya fokus pada suatu daerah tetapi menyebar ke beberapa wilayah mulai dari dataran rendah maupun tinggi.

Bupati Eltinus menyebutkan dua jenis biji kopi yang ditanam di Indonesia yakni Robusta dan Arabika. Di Papua di beberapa daerah sudah sejak lama budidaya kopi seperti yang terkenal Kopi Arabika Wamena di Kabupaten Jayawijaya.

Ada juga kopi Robusta Ambairu di Kabupaten Yapen, Kopi Arabika Monamani di Kabupaten Dogiay dan Kopi Arabika Amungme di Kabupaten Mimika.

Peluang untuk mengembangkan kopi sebagai sumber pendapatan ekonomi masyarakat masih terbuka luas. Mimika menjadi salah satu kabupaten dengan potensi sangat besar dalam pengembangan kopi.

Namun saat ini pengembangannya masih sebatas di daerah-daerah tertentu yang sebelumnya sudah ada penanaman kopi.

Sementara Dr. Ir. Antonius Suparno, MP selaku konsultan dari Fakultas Pertanian Universitas Papua Manokwari menjelaskan, saat ini maupun yang akan datang kopi menjadi komoditi global.

Karena saat ini yang minum kopi bukan saja dimonopoli oleh orang-orang tua seperti jaman dulu tetapi sekarang minum kopi sudah menjadi gaya hidup kaum milenial.

“Ini bisa dilihat kondisi saat ini mereka duduk minum di cafe-cafe. Atau bertambahnya kelompok minum kopi di kalangan anak muda sebagai gaya hidup mereka,” jelasnya.

Dengan minum kopi sebagai gaya hidup kaum muda ikut berpengaruh pada menumbuhkembangkan pelaku usaha atau wirausaha cafe. Kondisi ini perlu disambut dengan baik sebagai kegiatan menumbuhkan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, dengan makin bertambahnya tingkat konsumsi dan kebutuhan kopi secara global ikut meningkat pertumbuhan tanaman kopi.

Berdasarkan data terakhir permintaan kopi meningkat 4-6 persen pertahun. Sementara pengembangan Kopi Arabika maupun Robusta yang selama ini fokus pada wilayah barat Indonesia mulai terjadi kejenuhan.

Ini terjadi dikarenakan wilayah-wilayah yang selama ini dilakukan pengembangan sudah tidak mungkin lagi dilakukan penambahan area.

Dengan makin terbatasnya lahan pengembangan kopi di wilayah-wilayah sebelum penghasil kopi, maka Mimika menjadi kesempatan yang sangat luar biasa untuk menangkap peluang ini sebagai wilayah baru dalam pengembangan kopi.

Ia menegaskan meskipun kopi Robusta banyak penggemarnya tetapi keberadaannya tidak bisa diabaikan. Sebab merek-merek kopi Robusta yang dikembangkan dalam penggunaannya tetap dicampur dengan kopi Arabika untuk mengurangi tingkat keasamannya.

Dikatatakan pengembangan kopi Robusta terbesar di Indonesia selama ini ada di Bengkulu dan Lampung. Sedangkan kopi Arabika mulai dikembangkan di Aceh sampai Wamena.

“Kita tahu seperti apa nikmatnya minum kopi. Kopi Robusta di Papua saat ini bisa dikembangkan di Serui. Sementara permintaan terus bertambah. Mari kita ambil peluang ini menutup peluang eksport supaya cafe-cafe yang sudah dibuka agar tidak tutup hanya karena stok kopinya kosong,” ajaknya.

Berdasarkan perhitungannya apabila memiliki 500 hektar kebun kopi dengan harga 50 ribu perkilogram kopi dan satu hektar menghasilkan satu ton kopi pertahun maka petani mempunyai uang 50 miliar setiap tahun.

Dengan demikian penghasilan tersebut mampu menggerakan pendapatan petani yang bisa dijadikan emas hijau sebagai ATM petani setiap tahun. Usia tanaman kopi bisa bertahan sampai 20 tahun.

Kopi Robusta ini sangat spesial. Meskipun jenisnya sama tetapi tanam di lokasi yang berbeda akan menghasilkan cita rasanya juga berbeda. Inilah menjadi suatu kelebihan bagi kopi Indonesia.

Kopi Brasil hanya tiga cita rasa, Kopi Kolombia cita rasanya tidak lebih dari lima tetapi kopi Indonesia dengan wilayah pengembangannya berbeda-beda memungkinkan memiliki cita rasanya dan kekhasannya yang makin banyak.

Sementara Samsul Bachri, narasumber dari Fakultas Pertanian UNIPA Manokwari menuturkan, timnya telah turun melakukan kajian lahan pengembangan kopi Robusta di Mimika.

Beberapa tempat yang sudah dilakukan kajian adalah Iwaka. Namun di kampung Iwaka tim menemukan kondisi lahan dengan kadar air tergenang, drainase yang buruk serta kedalaman air tanah 60 cm.

Sedangkan di Kilometer 8 menemukan lahan tanaman kopi dengan drainasenya buruk, kedalaman air tanah 40 cm. Kemudian kondisi lahan kopi di Mware ditemukan drainasenya sudah cukup baik dengan kedalaman air 60 cm.

Untuk wilayah Distrik Kwamki Narama dan Wania ditemukan kondisi tanaman kopi mengalami penyakit karat daun, pertumbuhan tidak optimal karena lapisan tanah 60 cm sudah mendapat air sehingga berpengaruh pada rendahnya produksi.

Penyebab lain kondisi lahan yang lembab bisa menimbulkan penyakit. Selain itu kondisi lahan berada di dataran alluvial, dataran kompleks rawa air tanah dangkal, drainase buruk.

Menurutnya pertumbuhan kopi yang baik bila kondisi tanah yang kering dibandingkan di lahan basah sangat menghambat pertumbuhan.

Untuk daerah dataran rendah dengan curah hujan tinggi dianjurkan membuat drainase yang baik sampai pada daerah pembuangan.

Curah hujan tinggi sangat berpengaruh pada proses pertumbuhan dan pembuahan. Di Indonesia 360 hari setahun dengan 70 persen hujan sangat berdampak sehingga membutuhkan bantuan teknologi.

“Pembuatan drainase harus koneksi dengan pembuangan akhir bukan membuat kolam yang nantinya bisa meluap menyebar ke area lahan,” pungkasnya. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Kronologi Penikaman Ramadhani, Polisi Selidiki Motif

Kronologi Penikaman Ramadhani, Polisi Selidiki Motif

13 September 2026
Muhammad Ramadhani Meninggal,Keluarga Palang Jalan

Muhammad Ramadhani Meninggal,Keluarga Palang Jalan

13 September 2026
Penikaman di KM 10 Mimika Diduga Dipicu Rokok, Polisi Buru Pelaku

Penikaman di KM 10 Mimika Diduga Dipicu Rokok, Polisi Buru Pelaku

13 September 2026
Gangguan Keamanan di Jila, Nakes Trauma hingga Harus Dipindahkan

Gangguan Keamanan di Jila, Nakes Trauma hingga Harus Dipindahkan

12 September 2026
Kebakaran Lahan di Belakang DLH Mimika, BPBD Kerahkan Dua Armada

Kebakaran Lahan di Belakang DLH Mimika, BPBD Kerahkan Dua Armada

12 September 2026
Jalanan Timika dipenuhi Debu, Bupati Instruksikan BPBD Lakukan Penyiraman

Jalanan Timika dipenuhi Debu, Bupati Instruksikan BPBD Lakukan Penyiraman

12 September 2026

POPULER

  • Pertamina Sanksi 19 SPBU di Papua-Maluku, Dua di Antaranya di Mimika

    Bermodal Nomor Togel, 3 Pelaku Hipnotis Korban dan Kuras Uang di Sentani

    601 shares
    Bagikan 240 Tweet 150
  • Tiga Petugas Tewas Ditembak OTK Saat Distribusi Bahan Pangan di Jayawijaya

    571 shares
    Bagikan 228 Tweet 143
  • Polisi Beberkan Kronologi Penembakan Tiga Pegawai Dinas Pertanian di Jayawijaya

    563 shares
    Bagikan 225 Tweet 141
  • Pria Ditemukan Tewas di Jalan Kelimutu Timika, Motor dan HP Diduga Dibawa Pelaku

    549 shares
    Bagikan 220 Tweet 137
  • Soal Anggaran Konflik, Bupati Mimika Sebut Rp10 Miliar lalu Membantah

    529 shares
    Bagikan 212 Tweet 132
  • Bupati Rettob Ungkap Hasil Profiling ASN Mimika, Mayoritas Masih Bernilai Rendah

    528 shares
    Bagikan 211 Tweet 132
  • Polisi Tetapkan 3 Tersangka, Pelaku Utama Pembunuhan Ojek di Timika Diburu

    525 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
Next Post
15 Ribu Lebih Warga Mimika Terima BPS dan PKH Tahap III Tahun 2023

15 Ribu Lebih Warga Mimika Terima BPS dan PKH Tahap III Tahun 2023

Menuju Apresiasi KIP Desa Nasional, Ketua KIP Papua Kunjungi Kampung Mawokauw Jaya

Menuju Apresiasi KIP Desa Nasional, Ketua KIP Papua Kunjungi Kampung Mawokauw Jaya

Gelombang Laut di Perairan Agats Amamapare Capai 2,50 Meter, Nelayan Diingatkan Waspada Saat Melaut

Gelombang Laut di Perairan Agats Amamapare Capai 2,50 Meter, Nelayan Diingatkan Waspada Saat Melaut

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id