MANOKWARI, Koranpapua.id- Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV yang berlangsung sejak tanggal 18 Juni di Manokwari, Ibukota Provinsi Papua Barat, resmi ditutup Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, Minggu 28 Juni 2026.
Kegiatan kerohanian yang dihadiri oleh ribuan peserta dari 38 provinsi di Indonesia itu, berlangsung sukses dengan meninggalkan kesan toleransi yang cukup tinggi.
Setelah berkompetisi selama hampir sepuluh hari, tim juri akhirnya memutuskan kontingan Sulawesi Utara keluar sebagi juara umum. Kontingen Sulut juga sukses membawa pulang Piala Presiden.
Di balik kesuksesan penyelenggaraan Pesparawi, selain karena didukung oleh penerimaan masyarakat Papua Barat yang sangat baik, juga didukung dengan anggaran untuk mendanai seluruh rangkaian kegiatan sejak acara pembukaan sampai pada penutupan.
Ketua Harian Pesparawi Nasional XIV Papua Barat, Jacob Fonataba dalam laporan resmi di acara penutupan mengatakan, penyelenggaraan Pesparawi didanai melalui dua pos anggaran.
Yakni, kolaborasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Papua Barat.
Adapun total keseluruhan anggaran yang digunakan sebesar Rp65.300.000.000 (enam puluh lima miliar tiga ratus juta rupiah.
Menurutnya, rincian besaran anggaran tersebut terdiri dari APBN melalui Kementerian Agama RI sebesar Rp29.300.000.000 (dua puluh sembilan miliar tiga ratus juta rupiah).
Sementara dana hibah APBD Provinsi Papua Barat yang dikucurkan secara bertahap dalam tiga tahun anggaran, yakni Rp5.000.000.000 pada 2024, Rp10.000.000.000 pada 2025 dan Rp26.000.000.000 pada 2026.
Meski menelan biaya hingga puluhan miliar rupiah, Jacob menegaskan bahwa anggaran tersebut sebanding dengan dampak ekonomi (multiplier effect) yang dihasilkan bagi masyarakat Papua Barat.
Menurutnya, berdasarkan hasil survei internal panitia, selama penyelenggaraan Pesparawi berlangsung terjadi perputaran transaksi keuangan yang cukup massif.
“Anggaran ini mengalir kembali ke masyarakat. Terjadi perputaran uang dan transaksi keuangan yang menyebabkan pertumbuhan pendapatan signifikan di berbagai sektor,” jelas Jacob.
Beberapa sektor ekonomi lokal yang paling merasakan dampak positif dari kegiatan ini, di antaranya industri kreatif dan UMKM, melonjaknya pesanan pakaian seragam bermotif Batik Papua serta produk kerajinan tangan khas lokal.
Di sektor kuliner dan jasa, dampaknya dirasakan kelompok organisasi wanita yang menjadi penyedia katering, toko kelontong, pedagang musiman, hingga petugas parkir.
Sementara di sektor transportasi dan pariwisata, peningkatan omzet dirasakan pemilik kendaraan sewa, pengemudi serta motoris perahu penyeberangan yang mengangkut kontingen untuk wisata rohani ke Pulau Mansinam.
Besarnya anggaran yang terserap juga dipengaruhi oleh skala kompetisi yang massif yakni, memperlombakan 12 kategori yang tersebar di empat lokasi utama di Manokwari, dengan total 682 peserta serta 346 ofisial dan dewan juri dari 38 provinsi.
Jacob menambahkan, selain berdampak positif secara ekonomi, tujuan utama dari besarnya pembiayaan ini adalah sebagai sarana kesaksian iman dan meningkatkan kreativitas seni budaya umat Kristen serta memperkokoh pembangunan spiritualitas bangsa. (Redaksi)










