ADVERTISEMENT
Rabu, Oktober 14, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Hadiri Konferensi APS di Jayapura, KDM Diberikan Oleh-oleh Replika Rumah Pohon Korowai

Pembangunan Papua tidak boleh dimulai dari anggapan bahwa masyarakat adat harus meninggalkan seluruh cara hidupnya untuk menjadi modern.

30 Mei 2026
0
Hadiri Konferensi APS di Jayapura, KDM Diberikan Oleh-oleh Replika Rumah Pohon Korowai

Perwakilan masyarakat Papua di Kabupaten Boven Digoel menyerahkan replika rumah pohon Korowai kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) usai Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS). (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

JAYAPURA, Koranpapua.id- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM), mendapatkan oleh-oleh berupa replika rumah pohon Korowai yang diberikan perwakilan masyarakat Papua di Kabupaten Boven Digoel.

Pemberian oleh-oleh itu, usai KDM menghadiri Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) yang digelar di Jayapura, Provinsi Papua, Jumat 29 Mei 2026.

Pemberian replika tersebut bukan sekadar cenderamata, melainkan simbol penghormatan masyarakat adat Papua.

Sekaligus pesan tentang pentingnya menjaga hutan, alam, dan keberlangsungan hidup masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem hutan.

Baca Juga

Puskesmas Mapar Sambut Evaluasi Dinkes Mimika, Dorong Peningkatan Layanan Kesehatan

Pasien Darurat Mapar Harus Menyeberang ke Timika, BBM Rujukan Jadi Persoalan

Franky pewakilan dari Pemkab Boven Digoel menjelaskan replika rumah pohon Korowai itu berasal dari masyarakat adat yang tinggal di kawasan pedalaman Papua.

Mereka menitipkan pesan agar replika tersebut diserahkan kepada KDM sebagai bentuk penghargaan atas perhatian yang selama ini ditunjukkan terhadap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

“Mereka berdoa mudah-mudahan ada pemimpin yang amanah, yang baik, yang menghargai pemberian alam yang Tuhan kasih. Tuhan menciptakan tanah, air, pohon, dan semua kekayaan alam yang hari ini masih dijaga oleh masyarakat Papua,” katanya.

Menurutnya, masyarakat Korowai memandang pohon dan hutan bukan sekadar sumber daya alam, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka.

”Mereka berharap pesan ini bisa sampai. Mereka masih tinggal di pohon, hidup dari hutan, dan hutan adalah rumah sekaligus sumber makanan bagi mereka,” ujarnya.

Dia mengatakan masyarakat adat menitipkan harapan agar para pemimpin di Indonesia semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.

Karena itu, replika rumah pohon Korowai diberikan sebagai simbol hubungan manusia dengan alam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Mereka berpesan, mudah-mudahan setiap orang yang melihat dan mendengar kisah ini memahami pentingnya menjaga alam,” katanya.

“Mereka juga berdoa agar Kang Dedi diberikan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” sambungnya.

Ia menambahkan, masyarakat adat Korowai juga berharap perhatian terhadap Papua tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada upaya melestarikan hutan yang menjadi ruang hidup masyarakat setempat.

”Mereka berharap ada pemimpin yang mampu menjaga dan menyelamatkan hutan-hutan yang ada di Papua karena bagi mereka hutan adalah kehidupan,” ujar Franky.

KDM menghadiri konfrensi tahunan APS di Jayapura setelah sebelumnya mendapat undangan langsung dari Ketua APS yang juga akademisi Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih, Laus Rumayom dan Pendeta Cirenei.

Laus Rumayom mengatakan pembangunan Papua membutuhkan pendekatan yang lebih inovatif dengan menempatkan nilai kearifan lokal atau etnosains sebagai fondasi utama.

Menurut dia, pendekatan pembangunan di Papua tidak cukup hanya bertumpu pada aspek keamanan maupun teknokrasi semata.

APS menilai konsistensi Dedi Mulyadi dalam menjaga eksistensi kebudayaan di Jawa Barat menjadi contoh yang relevan untuk diadaptasi dalam strategi percepatan pembangunan di enam provinsi dan tujuh wilayah adat Papua.

KDM mengatakan pembangunan Papua membutuhkan pendekatan yang lebih inovatif dengan menempatkan nilai kearifan lokal atau etnosains sebagai fondasi utama.

Menurutnya, masyarakat adat Papua memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam dan pengetahuan itu tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang tradisional semata.

Dedi menilai banyak praktik kehidupan masyarakat adat Papua yang sesungguhnya merupakan bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sesuai kondisi geografis serta lingkungan setempat.

Salah satu contoh yang ia soroti adalah rumah pohon masyarakat Korowai yang selama ini dikenal sebagai bagian dari identitas budaya Papua.

“Rumah pohon Korowai itu sebenarnya sains tingkat tinggi. Mereka bisa bertahan hidup tanpa merusak ekosistem. Mereka memahami alam, memahami ancaman lingkungan, memahami cara bertahan hidup, dan itu diwariskan secara turun-temurun,” ujar Dedi.

Pembangunan Papua tidak boleh dimulai dari anggapan bahwa masyarakat adat harus meninggalkan seluruh cara hidupnya untuk menjadi modern.

Sebaliknya, pembangunan harus mampu menghargai dan mengembangkan pengetahuan yang sudah tumbuh di tengah masyarakat.

“Kita sering kali melihat Papua dengan kacamata luar. Padahal masyarakat Papua memiliki cara pandang, sistem pengetahuan, dan nilai-nilai yang lahir dari lingkungan hidupnya sendiri. Itu harus menjadi bagian dari fondasi pembangunan,” katanya.

Dedi juga menyoroti pentingnya mengubah cara pandang terhadap masyarakat Papua. Menurutnya, kekayaan alam yang dimiliki Papua membentuk pola kehidupan masyarakat yang berbeda dengan wilayah lain yang tumbuh dalam budaya industri.

Karena itu, kata dia, tidak tepat jika tingkat kemajuan masyarakat Papua hanya diukur menggunakan indikator produktivitas ekonomi yang bersifat industrialistik.

Dikatakan, Papua memiliki hutan, laut, sungai, dan sumber daya alam yang luar biasa. Cara hidup masyarakatnya dibentuk oleh kondisi alam tersebut.

“Maka ukuran keberhasilannya tidak bisa disamakan begitu saja dengan daerah yang berkembang melalui industrialisasi,” pungkas Dedy. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Puskesmas Mapar Sambut Evaluasi Dinkes Mimika, Dorong Peningkatan Layanan Kesehatan

Puskesmas Mapar Sambut Evaluasi Dinkes Mimika, Dorong Peningkatan Layanan Kesehatan

13 Oktober 2026
Pasien Darurat Mapar Harus Menyeberang ke Timika, BBM Rujukan Jadi Persoalan

Pasien Darurat Mapar Harus Menyeberang ke Timika, BBM Rujukan Jadi Persoalan

13 Oktober 2026
Hendak Dikirim ke Wamena, Dua Optik Pengintai Malam Diamankan di Bandara Sentani

Hendak Dikirim ke Wamena, Dua Optik Pengintai Malam Diamankan di Bandara Sentani

13 Oktober 2026
Dua Orang Diamankan Terkait Pembunuhan di Yahukimo, Satu Tewas Ditembak Polisi

Dua Orang Diamankan Terkait Pembunuhan di Yahukimo, Satu Tewas Ditembak Polisi

13 Oktober 2026
Mimika Dipercaya Gelar Konferensi Nasional Kota Toleransi ke-2, Ini Pesan Bupati

Mimika Dipercaya Gelar Konferensi Nasional Kota Toleransi ke-2, Ini Pesan Bupati

13 Oktober 2026
Jembatan Merah Putih Ugimba Diresmikan, Buka Akses Warga di Pedalaman Intan Jaya

Jembatan Merah Putih Ugimba Diresmikan, Buka Akses Warga di Pedalaman Intan Jaya

13 Oktober 2026

POPULER

  • Anggota Satgas TNI Ditemukan Tewas di Kuala Kencana, Ada Luka Tembak di Dada

    Anggota Satgas TNI Ditemukan Tewas di Kuala Kencana, Ada Luka Tembak di Dada

    796 shares
    Bagikan 318 Tweet 199
  • Kabut Asap Mimika Memburuk, Sekolah dari Rumah Mulai 12 Oktober

    562 shares
    Bagikan 225 Tweet 141
  • Warga Kamoro Tidur di Emperan Toko, Kadis Pariwisata: Mereka Datang Tanpa Undangan

    534 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Pria Ditemukan Bersimbah Luka di Pasar Lama Timika, Kondisi Mulai Membaik

    532 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
  • Dua OTK Bacok ASN Pemkab Yahukimo di Dekai, Korban Luka di Tangan dan Punggung

    522 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
  • Eme Neme Yauware Memanggil: Seruan Mengakhiri Perang Dari Tugu Perdamaian Kota Timika

    514 shares
    Bagikan 206 Tweet 129
  • Dolfin Beanal Kecam Pelayanan Festival Budaya Mimika: Warga Kamoro Tidur di Emperan Toko

    513 shares
    Bagikan 205 Tweet 128
Next Post
Prakiraan Cuaca Sampai 2 Juni 2026: Mimika Diguyur Hujan Lebat sampai Sangat Lebat

Prakiraan Cuaca Sampai 2 Juni 2026: Mimika Diguyur Hujan Lebat sampai Sangat Lebat

Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi Sekolah, Anak Papua Harus Dapatkan Askes Pendidikan yang Layak

Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi Sekolah, Anak Papua Harus Dapatkan Askes Pendidikan yang Layak

Latpraops Sikat Cartenz 2026 Dimulai, Berlaku 45 Hari, Fokus Penanganan Kejahatan 3C

Latpraops Sikat Cartenz 2026 Dimulai, Berlaku 45 Hari, Fokus Penanganan Kejahatan 3C

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id