TIMIKA, Koranpapua.id– SMP YPJ Kuala Kencana, Kabupaten Mimika menggelar kegiatan Pasar Kreatif sebagai bagian dari pembelajaran interdisipliner.
Kegiatan ini melibatkan mata pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Prakarya bagi siswa kelas VII.
Kepala SMP YPJ Kuala Kencana, Nursalim, mengatakan Pasar Kreatif merupakan bentuk pembelajaran kontekstual.
Melalui kegiatan ini dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa, mulai dari perencanaan hingga evaluasi usaha.
“Para siswa belajar secara langsung bagaimana menghitung untung-rugi, memproduksi, hingga menjual hasil karya mereka,” ujar Nursalim.

“Harapannya, pengalaman ini menjadi bekal untuk menumbuhkan jiwa wirausaha di masa depan,” tambah Nursalim saat kegiatan berlangsung di Sporthall YPJ Kuala Kencana, Kamis 26 Maret 2026.
Nursalim menjelaskan, Pasar Kreatif juga merupakan bagian dari program Middle Years Programme (MYP) International Baccalaureate (IB) yang menekankan pembelajaran interdisipliner dan proyek berbasis komunitas.
Kegiatan ini melibatkan seluruh siswa kelas VII yang terbagi dalam 12 kelompok.
Masing-masing kelompok mengolah satu bahan dasar lokal seperti buah, ubi, dan sagu menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Berdasarkan pantauan media ini di lokasi, kegiatan berlangsung meriah dan mendapat antusias tinggi.
Produk-produk yang dijajakan siswa tidak hanya dibeli oleh sesama pelajar, tetapi juga menarik minat para guru serta orang tua murid yang turut hadir dan berbelanja.
Guru Prakarya, Matelda Ibo, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan puncak dari proses pembelajaran selama kurang lebih tiga bulan.
“Ini adalah tugas akhir yang juga menjadi penilaian rapor siswa. Mereka belajar menentukan produk, mengolah bahan lokal secara kreatif, hingga membuat kemasan dan strategi pemasaran agar menarik minat pembeli,” jelasnya.
Berbagai inovasi produk ditampilkan siswa, seperti kolak sagu mutiara, donat ubi, kue berbahan dasar ubi ungu, hingga aneka olahan buah dengan tampilan kekinian.
Setiap kelompok juga membuat branding produk, lengkap dengan logo dan kemasan.
Dari sisi pembelajaran IPS, guru Irma Dimara menuturkan bahwa siswa dibekali pemahaman tentang konsep ekonomi.
Termasuk produksi, distribusi, dan konsumsi, serta keseimbangan antara penawaran dan permintaan.

“Mereka melakukan survei pasar terlebih dahulu, lalu belajar menentukan harga agar sesuai dengan daya beli konsumen dan tidak merugi,” ungkapnya.
Selain itu, dalam pelajaran Matematika, siswa mempraktikkan aritmetika sosial dengan menghitung modal, keuntungan, dan potensi kerugian dari usaha yang mereka jalankan.
Kegiatan ini juga didukung oleh siswa kelas IX melalui Community Project (CP), salah satunya kelompok “Craftopia” yang membantu mama-mama Papua memasarkan produk kerajinan noken.
Melalui proyek tersebut, siswa tidak hanya melakukan promosi, tetapi juga membantu pembuatan katalog, brosur, hingga strategi pemasaran agar produk lebih dikenal masyarakat.
Salah satu peserta, Rafael, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan ini. Bersama kelompoknya, ia mengolah pisang menjadi berbagai produk seperti molen, risol, dan kue.
“Dari modal Rp110.000, kami sudah mendapatkan keuntungan. Ini pengalaman baru bagi kami untuk belajar berwirausaha,” katanya.
Sementara itu, juri kegiatan, Maria Jakadewa, menyampaikan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah aspek.
Seperti kreativitas, kualitas produk, kemasan, strategi pemasaran, pelayanan, dan kerja sama tim.
“Kegiatan ini sangat baik karena melatih siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga praktik langsung dalam dunia usaha,” ujarnya.
Melalui Pasar Kreatif ini, SMP YPJ Kuala Kencana berharap siswa memiliki keterampilan hidup (life skill) serta kesiapan untuk menjadi wirausaha di masa depan. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










