TIMIKA, Koranpapua.id- Upaya penyelesaian konflik tapal batas antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai, sepertinya berjalan lambat.
Sampai dengan hari ini, Jumat 6 Maret 2026 belum ada kesepakatan antara Suku Kamoro dan Suku Mee yang berkonflik terkait batas tanah adat maupun batas wilayah pemerintahan.
Salah satu kendala yang menghambat proses menuju perdamaian yakni, terjadi penolakan oleh sekompok warga terhadap Tim Harmonisasi Kabupaten Deiyai.
Rombongan Deiyai yang hendak masuk ke Kapiraya melalui Pelabuhan Logpong beberapa hari lalu, sempat diusir. Bahkan terdengar enam kali suara tembakan.
Berdasarkan data yang dikumpulkan media ini juga menyebutkan, sekelompok masyarakat dengan menggunakan dua perahu juga mengejar rombongan Deiyai hingga ke Muara Kali Urumuka
“Kalau situasi seperti ini kapan akan selesai konflik di Kapiraya. Kami berharap tim Mimika dan Deiyai bersama-sama ke Kapiraya, sehingga tidak ada penolakan,” ujar salah satu anggota Tim Harmonisasi Deiyai kepada koranpapua.id, Jumat 6 Maret 2026.
Menurutnya, Tim Harmonsasi Deiyai untuk bisa ke Kapiraya terpaksa harus menggunakan transportasi laut, karena akses transportasi udara agak sulit, apalagi keberangkatan tim juga membawa bantuan bahan makanan.
“Semua tim berangkat bersama dari Timika. Bisa menggunakan transportasi udara, ataupun dengan transportasi laut, sekaligus angkut bahan makanan untuk warga masyarakat,” sarannya.
Seperti diketahui, dalam rangka penanganan konflik sosial Kapiraya sebelumnya disepakati bahwa tim Kabupaten Mimika, Deiyai dan Dogiyai akan bersama-sama berangkat ke Kapiraya.
Ikut juga dalam pemberangkatan itu, tim perwakilan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah.
Poin itu merupakan keputusan bersama pada saat rapat koordinasi yang berlangsung di salah satu hotel di Timika, Rabu 25 Februari 2026).
Dalam rapat tersebut juga disepakati bersama-sama menjamin terpeliharanya keamanan, stabilitas, dan kedamaian di wilayah Kapiraya selama seluruh proses harmonisasi dan verifikasi lapangan berlangsung. (Redaksi)










