TIMIKA, Koranpapua.id- Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal, Kamis 5 Maret 2026.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyerahan kunci kios kelontong kepada empat penerima manfaat yang merupakan Orang Asli Papua (OAP) dari Suku Amungme dan Kamoro.
Mereka adalah Agus Jenampa di wilayah SP 12, Lewi Onawame di SP 5, serta Yuliana Sawakurpi danYusinta Wayawiyuta yang berlokasi di Kelurahan Koperapoka dan Sempan.
Penyerahan kunci ini merupakan kelanjutan dari Financial Literacy Program (FLP) yang diinisiasi YPMAK sebagai lembaga pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), yang bekerja sama dengan Bank Tabungan Negara (BTN), Institut Jambatan Bulan (IJB), dan CV Amungsa Gemilang.
Kepala Divisi Perencanaan Program Ekonomi YPMAK, Octovian Jangkup, mengatakan program tersebut dirancang untuk memberikan kesempatan yang merata bagi masyarakat Amungme dan Kamoro.
“Pada gelombang pertama, 10 kios binaan telah berhasil dibangun dan beroperasi. Untuk gelombang kedua ini, kita mulai dengan empat kios melalui penyerahan kunci hari ini,” ujarnya.
Menurut Octovian, program ini tidak hanya memberikan fasilitas usaha, tetapi juga membekali para penerima dengan pengetahuan dasar dalam mengelola usaha.
Hingga saat ini, total 14 kios binaan YPMAK telah aktif melayani masyarakat. Sementara enam kios lainnya masih dalam proses penyelesaian dan akan segera diserahkan kuncinya dalam waktu dekat.
Octovian menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat Amungme dan Kamoro agar mampu menjadi pelaku ekonomi di tanah mereka sendiri.
“Sebagai anak-anak Amungme dan Kamoro, kita harus bisa menjadi tuan di atas negeri kita sendiri,” katanya.
Ia juga mengingatkan para pemilik kios untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan dengan mengelola usaha secara serius.
“Kami berharap pemilik kios benar-benar memanfaatkan kesempatan ini, memiliki rasa memiliki terhadap kios tersebut, serta menjual barang-barang kebutuhan masyarakat dengan baik,” ujarnya.
Selain meningkatkan ekonomi pemilik kios, keberadaan kios kelontong ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat sekitar memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
Octovian juga menekankan pentingnya disiplin dalam sistem penjualan agar usaha dapat berjalan dengan sehat.
Ia mengingatkan agar para pemilik kios menghindari praktik penjualan dengan sistem utang.
“Tidak ada istilah hari ini ambil, besok baru bayar. Ada uang ada barang. Kalau banyak bon, kios bisa mati,” tegasnya.
Ucap Syukur dan Sampaikan Terima Kasih

Bantuan dan pengetahuan untuk memulai usaha kios yang diberikan YPMAK, akan berdampak terhadap peningkatan ekonomi keluarga.
Jika selama ini, usaha kios hanya bisa dijalani oleh mereka dari luar Papua, kini usaha tersebut bisa dilakoni langsung oleh masyarakat pribumi, Amungme dan Kamoro.
Terkait dengan program ini, Yuliana Sawakurpi, salah satu penerima kios, mengucapkan syukur atas bantuan yang diberikan.
Yuliana berharap kios yang diterimanya dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
“Dengan bantuan ini semoga bisa meningkatkan ekonomi keluarga kami. Pelatihan yang diberikan juga menambah wawasan kami tentang cara mengelola usaha,” ujarnya.
Yuliana juga meminta YPMAK untuk terus memberikan pelatihan lanjutan, khususnya terkait pengelolaan keuangan dan strategi berbisnis.
Dengan pelatihan yang berkelanjutan, menurut Yuliana dapat menambah pengetahuan para pelaku usaha lokal, sehingga mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya.
“Terima kasih kepada Direktur YPMAK dan seluruh jajaran. Semoga melalui bantuan kios ini kami bisa meningkatkan ekonomi keluarga,” ucapnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










